Guru vs Murid atau Benar vs Salah?

conflictgambar dari: sini

Seorang kepala sekolah dipenjara selama tiga bulan karena membiarkan gurunya terus berselisih dengan murid: guru kerap menampar murid dan murid kerap mengancam keselamatan guru di luar sekolah. Petugas kebersihan sekolah tersebut  yang begitu sayang sama kepala sekolah, mendatangi kantor polisi—meminta dirinya ditukar dengan kepala sekolah. “Biarlah saya yang dipenjara, Pak Polisi,” pintanya memelas, seakan-akan dia meminta sesuatu yang menguntungkan dirinya.

Paragraf di atas hanyalah rekaan imajinasi saya semata, sebagai kalimat pembuka yang memancing—biar menarik perhatian seperti yang dilakukan orang-orang. Mana ada kehidupan yang sesinetron itu?

Saya menulis ini karena pengin turut bersuara atas tanggapan dan reaksi banyak orang terhadap kasus: guru matematika di Sidoarjo mencubit lengan murid sampai akhirnya si murid menceritakan masalah itu ke orang tuanya, dan sang orang tua melaporkan kasus tersebut ke polisi karena dianggap penganiayaan.

Beberapa sumber berita mengatakan, si murid dicubit oleh si guru lantaran tidak mengikuti kegiatan shalat dhuha.

Kejadian tersebut sungguh memancing reaksi banyak orang di penjuru nusantara. Dari pengamatan saya, lebih banyak orang yang membela si guru dan geram terhadap si murid daripada sebaliknya. Pada umumnya reaksi orang-orang yang saya temukan—terutama di facebook—lebih menitik beratkan soal Guru vs Murid. Bukan Benar vs Salah. Bukan Hukuman Tepat vs Hukuman Tidak Tepat. Pada akhirnya, banyak yang berteriak tanpa menyempatkan diri membaca berita. Anehnya lagi, sampai masalah tersebut berujung damai—keluarga murid mencabut berkas pelaporan dan guru mengambil hikmah dari kejadian tersebut—masih banyak saja orang yang terus ribut soal itu, bahkan terus mencaci maki dan menyebar kebencian. Supaya apa?

Izinkan saya melihat sekaligus menanggapi masalah ini dari sisi: Mental, Keterbukaan dan Kepercayaan Diri. Dari sudut pandang ini, seratus enam puluh sembilan persen saya berani mengatakan bahwa tindakan si murid menceritakan masalahnya ke orang tua adalah tindakan yang benar!

Sebelum saya lanjutkan penjelasan tentang pernyataan saya di atas, saya mau berbagi cerita tentang kekerasan guru yang menimpa saya ketika SMP dan SMA.

SMP

Saya tiba di depan sekolah ketika pintu gerbang hanya terbuka sedikit. Saya melangkah melewati pintu kiri sekolah dengan perasaan ketakutan karena telah terlambat setengah jam. Beberapa langkah melewati pintu gerbang, seorang guru berambut keriting berkulit hitam berleher pendek berbibir bulat manyun melempar kalimat pemicu jantung deg-degan, “Hei kamu, masuk di barisan kiri!” Ternyata sudah ada beberapa siswa terlambat yang disuruh baris di samping pohon nangka besar yang tidak terlalu jauh dari sisi kiri pintu gerbang.

Tidak ada seorangpun dalam barisan tersebut yang ditanyai alasannya kenapa datang terlambat. Kami hanya mendapati pernyataan, bahwa kami telah melakukan kesalahan yang layak mendapat hukuman. Tanpa disangka nyana, hukumannya tamparan keras melayang di pipi kiri sebanyak dua kali. Saya menduga sakit yang dirasakan anak-anak lain tidak jauh beda dengan yang saya alami: kesulitan mengunyah makan hingga empat hari karena ngilunya sampai ke akar gigi dan rasanya muka ini mencong tak keruan.

Guru yang memberi hukuman tersebut adalah Guru Bahasa Inggris kelas tiga—sebut saja Pak Jamur—bukan guru BP yang punya tugas membimbing dan memberi konseling pada siswa yang berperilaku salah. Guru yang sama pernah menghukum siswi di kelas saya sampai menangis sejadi-jadinya. Semakin menangis semakin dimarahi karena menurut dia cengeng itu sebuah kelemahan. Siswi yang dihukum sering menjadi juara kelas, tetapi menjadi tidak begitu pandai di pelajarannya Pak Jamur.

Saya terlambat sekolah tidaklah sering. Pak Jamur mendapati saya telat juga pertama kalinya. Bukan kesalahan berulang yang telah membuat air liurnya berbusa di atas bibir bulat manyunnya. Itupun karena transportasi ke sekolah yang sedang susah. Kau tahu, transportasi umum tidak menjadikan siswa sekolah sebagai prioritas pertama penumpang yang diincar karena bayarannya murah. Terlebih lagi transportasi umum di kampung saya adalah benhur—sejenis delman tetapi menggunakan roda ban yang sama dengan ban angkot. Bedanya dengan angkot, mesin benhur menggunakan tenaga kuda dalam arti yang sesungguhnya. Siswa diabaikan oleh kusir benhur  biasanya karena sedang banyak penumpang dewasa yang ke pasar atau ke kantor atau urusan-urusan lain yang bukan urusan anak sekolah.

SMA

Seorang guru olahraga—sebut saja Pak Kutu—terkenal sebagai guru seram. Sudah tak terhitung jumlah siswa yang mendapat jejak telapak tangannya atau kepalan tangannya atau tendangan kakinya atau api rokoknya. Dia tidak suka dengan siswa yang tidak mengenakan kaus seragam olahraga. Naasnya saya murid baru kelas dua—pindahan dari SMA kecamatan—yang belum punya kaus olahraga berwarna ungu lengan panjang seperti yang dikenakan siswa lain kebanyakan.

Atas ketiadaan itu perut saya dihantam tinju tangan besarnya yang dilengkapi cincin batu akik seukuran dosa. Segala isi perut hendak memuntahkan dirinya, memuncrati muka Pak Kutu. Sayangnya hanya sampai mual. Betapa nyali saya semakin ciut melihat manusia-manusia bermuka garang.

Seorang siswi yang entah mengapa terlambat berkumpul ke lapangan mendapat hukuman yang lebih kejam. Ia diminta mengulurkan tangan oleh Pak Kutu, dia menuruti belaka. Di luar dugaan, rokok yang masih menyala dimatikan di tengah telapak tangan tersebut. Ia merintih. Kesakitan sekaligus kepanasan. Gila! Sungguh kekerasan yang begitu anjing!

See?

Ada loh guru yang kejam seperti itu. Itu nyata. Bukan di sinetron. Apakah guru kejam hanya ada di zaman dulu atau juga masih ada di zaman sekarang? Bisa iya bisa tidak. Kemungkinan-kemungkinan selalu ada di setiap sudut kehidupan.

Mengalami dua kasus tadi saya tidak serta merta mengeluarkan pernyataan, “Dicubit saja cengeng! Saya dulu pernah ditampar hingga ditinju, tidak melapor ke orang tua tuh!” Apa yang mau saya banggakan dengan masa lalu tersakiti? Apa yang hebat dari pengalaman teraniaya yang melemahkan mental dan kepercayaan diri? Di kepala saya, Pak Jamur dan Pak Kutu tetaplah salah sampai kapanpun, meski saya sudah memaafkan kisah lalu itu dan mukanya sudah samar-samar di ingatan. Orang tidak penting memang tidak perlu diingat jelas.

Apalagi Pak Tinja (asli nama samaran) yang mengajar Fisika kelas satu di SMP saya—kesalahannya benar-benar tidak bisa saya lupakan, meski bisa saya maafkan. Dia memukul kepala saya dengan penggaris kayu besar panjang satu meter karena tidak mengerjakan PR. Tidak sampai sedetik penggaris tersebut melayang, dunia di mata saya berputar ngawur dan rasanya kematian sudah di ubun-ubun. Bagaimana tidak? Saya masih dalam proses peyembuhan kepala pecah akibat ditabrak truk tangki pertamina menjelang masuk SMP, dua belas jahitan di kepalapun belum dilepas, sudah ditimpali dengan penggaris oleh Pak Tinja. Dan, bagaimana saya mau mengerjakan PR kalau saya tidak mengikuti pelajaran dia di minggu pertama dan kedua karena masih harus bolak balik ke puskesmas dan pemulihan setelah dua minggu dirawat inap?

Sekali lagi, pengalaman teraniaya tersebut tidak serta merta membuat saya lebih kuat apalagi lebih hebat dari Siswa SMP Sidoarjo yang menceritakan masalahnya dengan Pak Sambudi ke orang tuanya. Saya justru salut dengan siswa berinisial SS itu karena berani terbuka.

Saya bukan anak yang bermental kuat. Penyiksaan-penyiksaan itu semakin melemahkan mental dan kepercayaan diri saya, sebenarnya. Butuh sekian banyak tahun untuk saya bisa bangkit dengan kepercayaan diri yang baik, butuh waktu panjang untuk saya bisa tidak berasumsi dengan orang lain dari bentuk fisik dan mukanya, butuh proses tidak singkat untuk saya tidak mudah keder dengan hal-hal yang tampak garang.

Saking tidak baiknya mental saya, tidak pernah sekalipun berani melaporkan kejadian demikian ke orang tua. Ya, itu. Khawatir justru orang tua semakin menyalahkan, yang akhirnya membuat saya menjadi pribadi tertutup terhadap orang tua. Lebih suka memendam dengan terpuruk dalam hati daripada berbagi cerita dan berbagi derita dengan orang-orang terdekat. Ditambah lagi oleh ketakutan ejekan cemen dari anak-anak lain kalau sampai menceritakan kejadian tersebut ke orang tua. Dasar anak mami!

Anak yang bermental baik tidak akan menutupi segala masalah yang ia hadapi di luar rumah ke orang tuanya. Bercerita dan berbagi dengan keluarga adalah cara yang melipatgandakan kekuatan mental. Bercerita ke orang tua tidak perlu membedakan masalahnya kecil atau besar. Toh, semua memang berawal dari hal-hal kecil. Toh, dalam diskusi keluarga bisa dipilah mana masalah yang perlu ditanggap lanjut dan mana yang tidak.

Sedangkan anak yang tertutup akan cenderung mengalami kemerosotan mental (meskipun tidak seratus persen anak akan seperti itu) yang berkelanjutan. Iya kalau kasusnya hanya dicubit belaka. Kalau mengalami pelecehan seksual terus tidak berani atau tidak terbiasa cerita ke orang tua? Bisa dibayangkan betapa terpuruk lahir batinnya seorang diri? Betapa ia akan pesimis dengan masa depan? Bahkan, maaf kata, betapa ia meragukan keadilan Tuhan Sang Maha? Mental rusak yang berkecamuk bisa saja memikirkan apapun di dalam dunia pikiran tertutupnya penuh curiga.

Untuk itulah, saya salut dengan SS yang menceritakan masalahnya ke orang tuanya. Terlepas dari orang tua SS melanjutkan laporan itu ke polisi atau tidak itu sudah tahapan urusan yang berbeda meskipun masih dalam cakupan hal dasar yang sama. Itu lebih kepada reaksi dan cara orang tuanya menanggapi masalah anaknya, bukan caranya SS  menyikapi masalahnya.

Setiap orang tua juga dituntut untuk bijak menanggapi masalah anaknya, supaya si anak tetap menjaga keterbukaan. Pun, bapaknya SS memilih melapor polisi, kan polisi juga tidak menelan mentah laporan yang masuk. Pasti ditanya masalahnya apa, kemudian yang dilaporkan dipanggil, diverifikasi. Terus kalau ternyata yang salah adalah yang melapor, atau tidak salah yang perlu dibesar-besarkan, pastinya akan keluar keputusan bahwa yang dilaporkan tidak bersalah. Bebas. Buktinya kasus tersebut berakhir damai setelah proses mediasi, bukan dipenjara.

Jika melihat kasus itu dari sudut pandang: hanya dicubit dan guru diseret ke polisi untuk pemeriksaan bahkan sampai sang guru menangis, saya paham kenapa banyak orang murka. Tetapi, izinkan saya mengajak anda semua untuk melihat dari sisi perkembangan mental!

SS sempat ditolak oleh seluruh sekolah di kotanya, sederetan orang yang kenal dan tidak kenal melakukan penghakiman. Hal itu membuat saya membayangkan betapa kacau mentalnya SS akibat itu semua. Malu sudah pasti. Mana ada pemberitaan buruk atau perilaku buruk yang diberitakan membuat anak kecil bangga?

Saya juga melihat sebaran foto SS merokok dengan kawannya. Tetapi itu kan perkara berbeda dari masalah yang bersinggungan dengan guru ini, dan tempat dan waktunya juga berbeda. Bukan dia merokok saat mangkir dari kegiatan shalat dhuha di sekolah dan mengajak anak lainnya untuk merokok juga—yang mana itu dilarang di sekolah dan tidak baik untuk kesehatan dirinya dan perokok pasif. Ringkasnya begini, anggap saja foto merokok itu tidak ada, bahkan yang kita temukan adalah foto prestasi dia menang lomba sesuatu pertandingan, apakah reaksi terhadap kasus pelaporan pencubitan tersebut akan sama?

Kita menginginkan generasi masa depan bermental lebih baik dari generasi sebelumnya, tetapi kita sendiri melumpuhkan harapan itu. Supaya apa?

Pemberian pelajaran atas sebuah kesalahan sebisa mungkin membangun kesadaran si anak untuk tidak mengulangi, untuk menjadi pribadi yang lebih baik, bukan dengan merusak mentalnya. Kalau mentalnya rusak, perubahan lebih baik apa yang bisa diharapkan? Singkatnya, perbaiki salahnya, jangan rusak mentalnya!

Dampak jauhnya lagi: penyeberan berita, pernyataan kritik keras, status media sosial yang menyalahkan SS menceritakan masalahnya  ke orang tua pasti dibaca juga oleh anak-anak sekolah lain seantero nusantara, yang kemungkinan besar akan menimbulkan ketakutan lain dalam melapor masalah ke orang tua. Lagi: iya kalau kasusnya hanya dicubit, kalau sampai pelecehan seksual? Terus tidak berani melapor ke orang tua? Bukankah itu dampak yang menyedihkan?

Ada pernyataan: yang dihukum ada puluhan anak, bukan hanya SS. Kenapa SS melapor dan yang lain tidak? Jawabannya soal mental dan keberanian terbuka terhadap orang tua. Saya pikir bukan melulu karena pangkat militer yang disandang orang tuanya.

Saya ambil contoh kasus hukuman di sekolah SMP dan SMA saya yang hukumannya keterlaluan—ada 50 anak misalkan yang mendapat hukuman mengerikan, tetapi tidak ada yang berani melapor. Apakah itu berarti kekerasannya Pak Jamur dan Pak Kutu dan Pak Tinja masih dalam batas kewajaran? Tidak.

Misalkan juga, dari 50 anak yang dihukum secara mengerikan, hanya ada satu anak yang melapor—sebut saja namanya Kinyis-Kinyis. Apakah Kinyis-Kinyis lantas dianggap cengeng karena anak lainnya tidak melapor ke orang tuanya? Saya rasa tidak demikian.

Memang ada juga kejadian murid kurang ajar bahkan melecehkan guru. Kalau kasus seperti ini, silakan anak diberi hukuman yang setimpal, bekerja sama dengan orang tua, bahkan bekerjasama dengan polisi bila perlu.

Sekali lagi: perbaiki salahnya, jangan rusak mentalnya!