Hidup dan Mati Bersama

Ketika tak ada lagi usaha yang dapat kau lakukan dengan tanganmu, maka serahkan segala sesuatu sepenuhnya pada tuhan. Lewat. Doa.

Tanggal 23 Juni 2017 merupakan pengalaman mendebarkan buat saya dan Ifat dan Alastair, seakan-akan diingatkan “hiduplah bersama-sama dengan sebaik-baiknya karena kalian telah diberi kesempatan untuk itu.”

Waktu mudik, tepatnya di penerbangan kedua dari Makassar menuju Bima menggunakan pesawat kecil berbaling-baling bombay–pesawat ATR 72, tiba-tiba baling-baling sebelah kanan berhenti total saat pesawat sudah terbang sekira 20 menit.

Ifat membangunkan suaminya yang sering lupa umur ini, tanpa kata, menunjuk ke arah kanan pesawat dengan lirikan matanya yang tegang. Pramugari di bagian belakang memberitahukan lewat speaker cempreng agar seluruh penumpang tenang, semuanya dibawah kendali, katanya. Sementara pramugari depan yang duduk menghadap belakang ke arah penumpang menunjukkan wajah panik seakan-akan di wajahnya keluar kata “tolong tolong tolong” dari setiap pori-pori wajahnya. Penumpang lebih percaya pada wajah pramugari yang tampak ketimbang pada suara pamugari yang tak tampak.

Banyak penumpang teriak ketakutan. Dari yang komat-kamit getar sampai yang histeris menggelegar. “Jangankan kami yang muda, orang yang sudah tua saja tidak mau mati di kondisi begini, apalagi dengan cara seperti ini,” keluh bapak-bapak di belakang saya, yang umurnya saya tebak hampir 50 tahun. Kalau dia muda, berarti saya ini masih tampak anak kecil.

Ifat terus meneteskan air matanya, badannya gemetar, dia hanya menatap sedih ke arah Alastair yang tertidur pulas. Saya memegang tangan kanannya dengan tangan kiri dan kalimat saya, “Sayang, tenang ya. Jika kita semua panik dan ketakutan, lalu siapa yang akan berdoa?” Sayapun melepas tangannya sekaligus meminta izin untuk sejenak berdoa.

“Ya Allah, lindungilah kami semua di pesawat ini. Ampunilah dosa-dosa kami. Betapa banyak cinta di pesawat ini yang ingin bertemu dan dipertemukan. Begitu banyak harapan tiba yang menanti dan dinanti di pesawat ini. Berikan kelancaran perjalanan buat kami, bantu kemudahan para petugas yang menangani masalah yang sedang dialami. Jika kerusakan pesawat ini tidak dapat diperbaiki, mohon cerahkan pikiran pilot yang mengendalikan pesawat ini, Ya Allah, agar supaya ia memutar balik dan kembali mendarat di Bandara Makassar,” kira-kira begitu pinta saya dalam doa, sembari meniatkan sedekah sekian rupiah. Tak lama kemudian, muncul kembali suara dari speaker cempreng, bahwa pesawat akan mendarat kembali di Bandara Makassar. Begitu pesawat mendarat, betapa riang gembira tak terkira hati kami. Alhamdulillah. Kami bersorak sorai, merayakan keselamatan yang tak ternilai harganya.

“Aku tadi berpikir, jika kita harus berakhir di sini, mungkin ini cara terbaik yang ditakdirkan Tuhan karena dengan mati bersama-sama tidak ada yang tinggal dan meninggalkan, tidak yang sedih dan disedihkan,” kata Ifat dengan air muka yang bercampur aduk. “Dan, Alhamdulillah banget, kita diberi kesempatan untuk terus hidup bersama-sama.” Saya memeluknya, menciumnya lembut di lorong pesawat. Mungkin itu akan menjadi ciuman termanis yang selalu kami ingat.

Kamipun turun, menuju ke ruang tunggu. Kembali. Lagi. Pramugari yang kami lewati di belakang menunduk minta maaf berulang dan berulang, dengan malu menatap wajah para penumpang. “Tak usah minta maaf,” kata Ifat ke mereka. “Ini bukan kesalahan Mbak. Jika hal terburuk terjadi, kita semua akan menjadi korban, tak terkecuali mbak. Jadi tidak usah merasa bersalah.”

Waktu, menit, jam, kembali kami berkutat di keramaian ruang tunggu bandara. Begitu banyak waktu yang kami habiskan di Bandara. Dari Balikpapan kami ikut penerbangan pertama, tiba di Makassar jam 8 pagi, transit sekira empat jam. Lalu pesawat delay sejam-an. Naik pesawat, turun lagi, dan menunggu lagi dengan ketidakpastian jam berapa akan berangkat lagi. Tapi saya setuju dengan apa yang diakatakan Ifat: tak peduli di mana dan berapa lama, yang penting kita bersama-sama. Setidaknya itu yang patut disyukuri.

Seorang ibu-ibu mengamuk kepada petugas di boarding gate, dengan segala amarah beliau menumpahkan emosi dan suara kerasnya atas penerbangan kembali yang belum pasti kapan. Kami memilih menjauh, karena tidak ada yang lebih penting dari kesempatan selamat yang telah diberikan. Ribut sama saja tidak menyukuri selamat yang sudah dianugerahkan, pikir kami.

Marah adalah hak orang-orang yang memilih marah. Tapi…

Tapi… Marah itu mudah. Marah di tempat dan situasi yang tepat, dengan cara yang tepat, dan dengan tujuan yang tepat itu yang sulit. Saya pernah membaca kalimat ini, entah di mana. Lupa.

Setelah beberapa waktu menunggu, akhirnya pesawat pengganti datang. Kami pun meneruskan perjalanan, dan selamat sampai tujuan. Liburan pun berasa diliputi kelimpahan cinta dan syukur yang luar biasa.