Hidup Hari Ini Adalah Yang Terbaik, Selebihnya Serba Tidak Pasti

Ini adalah foto lima tahun lalu, di waktu saya menikah. Kami berlima berkumpul, tinggal di rumah kontrakan saya. Saat itu saya ngomong sendiri di kamar, “lima orang ini berada di waktu dan atap yang sama, terakhir saat aku umur 5 tahun-an. Puluhan tahun silam.” lalu saya tersenyum, hidup sudah sejauh ini.

Bapak dan Ibu dulu adalah sepasang orang bodoh, lalu oleh waktu ia buktikan bahwa ternyata mereka begitu hebat dan tidak bodoh.

Mereka menikah melawan dunia di usia 19 tahun, meluluh-lantah-kan restu yang ditarik ulur. Ibu di waktu itu adalah yatim piatu, tiadalah repot soal restu. Bapak yang adalah harapan orang tuanya untuk menempa ilmu lebih tinggi atau bekerja di kantoran tentu sulit mendapat restu, sebab menikah muda saat status pengangguran bukan pilihan yang tepat. Dasar pemuda keras kepala yang tak bisa dibelokkan keinginannya, ia menikah, dan oleh orang tuanya tidak diberi modal kecuali sepuluh jari tangannya. Pernikahan yang dibangun penuh peluh keringat itu hanya bertahan kurang lebih sepuluh tahun. Mereka bercerai di usai 30 tahun. Usia di bawah usia saya saat ini. Bodoh, kan?

Waktu SMA saya pernah punya misi menyatukan mereka, dan akan melakukan segala daya upaya. Saya sampaikan kemauan itu satu per satu ke mereka, lantas ibu menangis tetapi tidak berkata apa-apa. Lantas Om Em, adiknya Ibu datang menasihati Si Zia kecil yang sok-sokan ingin mengendalikan dunia. “Niatmu baik sebenarnya,” katanya pelan. “Tapi kamu hanya akan mengulangi kedukaanmu pada adik-adikmu yang lain. Bapakmu punya kehidupan sendiri, dengan anak istrinya yang lain. Ibumu punya kehidupan sendiri, dengan suami anaknya yang lain. Jumlah mereka lebih banyak dari kalian. Kan cukup kalian saja yang merasakan orang tua pisah, jangan mereka lagi.”

Napas saya terhenti, seakan dicabut dari atas kepala, lalu dihembuskan kembali lewat telinga kiri dan kanan serta lewat hidung dan mulut dengan kesejukan yang begitu melegakan. Betul. Betul itu. Betul betul kebenaran itu. Aku tak boleh egois. Itu betul. Aku menyetujui nasihat Si Om itu hingga aku mengulang-ulang kata betul di dalam hati dan kepalaku. Semenjak saat itu, kukuburkan rencana gila itu. Apa yang ada di depan mata, situasi hidup yang sedang dijalani, itulah yang terbaik. Selebihnya, serba tidak pasti. Jika kita (khususnya saya) menuruti nafsu memaksakan yang tidak pasti, kemungkinan besar hal lebih buruk bisa terjadi, dan saat ini tidak akan ada tulisan ini.

Aku meneruskan hidup dengan bertumpu pada pesan ibu, “kau tak hidup sendirian. Tuhan selalu menyertai. Berjuanglah. Jangan takut!”

Iya, aku tidak takut, Bu. Aku pemberani! Buktinya aku berhasil berdamai dengan dunia dan segala pelosok nusantara, kan kan kan? Buktinya aku berhasil berdamai dengan diri sendiri, kan?

Sialan. Saya menangis sebentar. Sialan.
Maaf, bagian di atas (3-4) paragraf di atas adalah momen paling emosional, saya mesti menangis bahagia karena merasa berhasil pernah melewati itu. Dan kalau kalian sadar, saya pun baru menyadarinya setelah menulis paragraf ini, kalau sebutan untuk saya berubah menjadi aku. Kalau kalian perhatikan (maaf jadi membuat kalian kembali membaca lagi ke atas).

Mereka adalah pemuda bodoh yang oleh waktu membuktikan ternyata mereka hebat dan tidak bodoh.

Ibu adalah orang hebat. Kelebihannya adalah menyadari bahwa manusia tiada daya, semua daya adalah milik Tuhan. Ia tak pandai memasak, tak pandai berkata manis yang menyenangkan hati anaknya, tak pandai mengumpulkan uang buat beli mainan anaknya, tak pandai ilmu pengetahuan untuk mengajari anak-anaknya. Ia tak pandai semua persoalan itu. Tapi… oleh karena kekurangan yang adalah kelebihannya itu, ia sukses membuat anaknya bisa rindu dan kagum dan cinta dan bangga dengan dirinya tanpa embel-embel. Oleh karenanya, anak-anaknya tidak rindu dengan masakannya atau kenangannya atau lainnya, kami hanya rindu dengan ibu, apa ada dirinya. Sebab kehebatannya yang luar biasa adalah do’a murni. Do’a yang berangkat dari kesadaran bahwa ia bukanlah apa-apa, semua daya adalah milik Tuhan. Ia terus berdoa meminta segala kekuatan Tuhan itu, untuk anaknya. Itu dahsyat sekali.

Bapak juga hebat. Kehebatannya adalah pernah melakukan banyak sekali kesalahan di masa lalu, sehingga seumur hidupnya dihabiskan dengan meminta maaf pada dirinya sendiri. Oleh karenanya, ia tak pernah merasa lebih baik dari orang lain, apalagi dari anak-anaknya. Dari situlah energi kecintaan itu begitu kuat di hati kami. Ia tak malu untuk menangis didepan kami atau bersama kami, jika ia ingin. Kami tak pernah ragu untuk saling berpelukan hingga menua bersama. Lalu kekuatan apalagi yang melebihi kekuatan cinta seperti itu? Kesalahannya lah yang selalu menjaga kami untuk menjalani hidup dengan baik. Dan saya sangat sayang sama dia. Bapak adalah inspirasi besar saya, untuk mengenal dunia di dalam diri.

Ini bukan cerita kesedihan. Ini adalah cerita tentang kekuatan dan kesenangan hidup. Saya sangat bangga dengan semua jalan hidup yang menyenangkan ini. Punya orang tua yang mengantarkan saya pada dunia yang luar biasa ini.

Situasi hidup hari ini adalah yang terbaik, bagi semua orang, selebihnya serba tidak pasti.

Jalani hidup dengan sebenar-benarnya hidup. Jangan hidup dalam angan apalagi dalam sesal.

Bersyukurlah
Berbanggalah
Berbahagialah!