Horor Itu Ilusi

Memang, pada akhirnya kita akan terbangun tanpa menemukan lagi seseorang yang dicintai. Ia pergi, menutup usia, dan tak pernah dibuka kembali.Wanitaku berkata padaku, “Hiduplah dengan umur panjang, sayang, paling tidak untuk aku dan anak kita. Aku tak mau ditinggalkan seperti yang sudah sudah, cukup. Aku tak memerlukan pengalaman lagi. Setialah padaku, selain tidak berpaling pada cinta yang lain, juga tidak mendahuluiku ke dunia yang lain. Berjanjilah untuk mati hanya jika aku telah menutup usia. Aku tahu, umur adalah rahasia Tuhan. Tapi aku yakin, selama kita menaruh harapan–yang mana akan menjadi bagian dari usaha dan doa yang kuat–maka yang begini begitu tidaklah menjadi mimpi belaka.”

Aku memeluknya sebagai jawaban iya. Setia yang demikian sangat ampuh menghapus air mata.

Bagi kebanyakan orang, kehilangan itu jauh lebih menakutkan daripada kesan horor. Bukan perkara ikhlas tidak ikhlas, cinta manalah peduli soal begituan?

Kau bisa saja takut sama pocong, kuburan, dan keranda. Begitu di dalamnya adalah orang yang kau cintai, lenyap belaka lah rasa takut, terganti oleh kerinduan mendalam.

Seperti yang kukatakan tadi, kesan horor tak ada apa-apanya dibandingkan perasaan kehilangan.