Jajaran Penambang Kelas Kakap

Indonesia, kekayaannya melimpah pah pah ruah—tentu hal ini sudah menjadi rahasia umum, dunia. Perkumpulan mahluk halus di segala penjuru bumi pun, mungkin tau juga tentang kaya raya-nya negeri ini. Supaya kita tidak sekadar ngomong negara ini kaya, mari kita menilik (((MENILIK))) kekayaan Indonesia dari segi kandungan sumber daya alamnya, seperti minyak & gas, mineral, dan batu-bara.

Siapin kalkulator, please…

Mungkin terlalu luas juga kalo semua komoditi pertambangan kita tilik, kita persempit saja—baru bara? Oke, kita lihat batu-bara saja. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, sektor batu-bara paling berjaya di tahun 2011-2012. Untuk itu, kita lebih persempit lagi dengan data tahun 2012.

Meskipun batu-bara bukan komoditas paling primadona, juga bukan penyumbang pendapatan dan devisa negara terbesar—seperti Migas yang bisa menghasilkan penerimaan Negara mencapai 35 Milliar Dollar AS, tetapi sektor batu-bara tidak bisa dipandang sebelah mata. Total sumberdaya batu-bara di negara kita diperkirakan mencapai 105 Miliar Ton, dengan cadangan yang juga masih banyak—sekitar 20an Miliar Ton, yang terbagi di tiga lokasi utama: Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan—mampu menyumbang ke Negara dengan nilai mencapai kisaran 60 Trilliun Rupiah setiap tahunnya, pada tahun-tahun kejayaannya itu.

Harga Batu-Bara pernah mencapai 140-160 Dollar AS/Ton, juga turun sampai 60-80 Dollar AS/Ton. Kita ambil hitungan rata-rata aja 100 Dollar AS/Ton.

Hitung-hitungan sok pintar, yuk?

US $100 X 20 Milliar = banyak banget.

Rp. 1.352.000 X 20 Milliar = gak cukup layar kalkulator karce untuk menampilkan nilainya dalam rupiah.

Jika dihitung secara tahunan, produksi batu-bara mencapai 240 Juta Ton/Tahun; Rp. 1.352.000 X 340.000.000 = masih males juga kan menghitung nilainya? Pokoknya kaya. Kalau ditambahin Emas, Tembaga, Nikel, Minyak dan Gas, jangan ditanya lagi jumlah kekayaan alam kita—saya jamin, gak akan ada satu rumput bergoyang pun yang mampu menjawabnya.

Perusahaan-perusahaan yang menjadi produsen terbesar sekaligus eksportir batu-bara terbesar di Indonesia—sebenarnya masih cukup jari jemari saya untuk menghitungnya. Dari majalah internal perusahaan induk tempat saya kerja saat ini (Indikator—Indika Energy), pada edisi pertamanya tahun 2013 lalu, dikatakan ada 5 pemain besar batu-bara dari segi produksi maupun eksportir adalah Bumi Resources, Adaro, Kideo, Indo Tambangraya, dan Berau Coal.

5. Berau Coal

BerauBerau Coal didirikan pada tahun 1983 dan sesuai PKP2B (Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu-Bara) tersebut Berau Coal memperoleh ijin untuk melakukan kegiatan penambangan di wilayah konsesinya yang meliputi 487.217 hektar di Kalimantan Timur, Indonesia. Pada 7 april 2005 Berau Coal melepaskan dengan sukarela sebagian wilayah konsesinya, sehingga hanya memiliki 118.400 hektar sisa wilayah konsesi.

Berau Coal pada saat ini mengoperasikan 3 tambang aktif dengan perkiraan cadangan sebesar 509 juta ton pada tahun 2010. Dalam beberapa tahun terakhir, Berau Coal mengekspor 60 persen produksinya ke luar negeri  dan sisanya 40 persen untuk kebutuhan domestik. Berau Coal mengekspor batubaranya ke pelanggan-pelanggan di China, Hongkong, India, Jepang, Korea Selatan, Taiwan dan Thailand. Berau Coal memproduksi batubara Thermal  dari 3 lokasi tambangannya dengan kualitas abu dan sulfur yang sesuai untuk pembangkit batubara di Indonesia dan Asia lainnya.

4. Indo Tambangraya Megah (ITM)

ITMIndo Tambangraya Megah berdiri pada tahun 1988 sebelum akhirnya pada tahun 2007 diakuisisi oleh Group Banpu Thailand. Pada tahun 2010, Bonpu Minerals (Singapore) Pte. Ltd. mempertahankan kepemilikan mayoritas sebesar 65 persen dan selebihnya dimiliki masyarakat. Pada tahun 2011, ITM memiliki cadangan batubara sebesar 416,9 juta ton dengan sumberdaya melebihi 1,6 miliar ton, yang tersebar di beberpa 4 blok tambang miliknya.

Pada kuarter ketiga tahun 2012, ITM telah memproduksi lebih dari 18 juta ton batubara dari total target tahun tersebut yang mencapai 26,5 juta ton. Sebagian besar produksi batubara ITM  diperuntukan bagi pasar ekspor. Sebagai catatan, pada tahun 2011 ITM mencatatkan sebanyak 91,5 persen batubaranya  diserap pasar ekspor  dari total volume penjualan batubara pada tahun 2011 yang mencapai 24,7 juta ton. Negara-negara tujuan ekspor ITM meliputi China sebanyak 5,8 juta ton, Jepang 4,1 juta ton, India 2,3 juta ton, Taiwan 2 juta ton, Italia 1,8 juta ton serta Asia Timur dan Asia Tenggara.

3. Kideco Jaya Agung (KJA)

kidecoSejak berdiri pertama kali pada tahun 1982 di kabupaten Paser, Kalimantan Timur, KJA menjadi salah satu produsen sekaligus eksportir  batubara terbesar di Indonesia. Secara bertahap, KJA menunjukan peningkatan produksi batubaranya. Jika pada tahun 1993, produksi tahunannya baru mencapai 3 juta ton, maka pada tahun 2011, produksi tahunannya telah mencapai lebih dari 10 kali lipat, yakni 32 juta ton. Produksi batubara KJA tersebut, diperuntukan untuk melayani lebih dari 50 pelanggannya yang tersebar di 16 negara. Ekspor batubara KJA terbesar untuk tahun 2011 adalah ke korea Selatan (14,9 persen) diikuti China (14,6 persen) dan India (7,9 persen).

Di lokasi tambang paser yang luasnya mencapai dua per tiga kota Jakarta tersebut, terdapat cadangan batubara sebesar 651 juta ton dengan perkiraan total sumberdaya batubara sebanyak 1,37 miliar ton. Batubara yang dihasilkan merupakan jenis batubara yang rendah kandungan debu dan sulphur sehingga sangat ramah lingkungan. Batubara bersih (clean coal) yang dihasilkan dari 5 titik tambang milik KJA disebabkan kandungan airnya yang cukup tinggi sehingga sesuai dengan standar emisi yang ditentukan.

Dengan dukungan Indika Energy yang memiliki 46 persen saham kepemilikan KJA, semakin memperkokoh posisinya sebagai perusahaan produsen batubara terbesar ketiga di Indonesia dari sisi produksi.

Tentunya, saya bangga punya perusahaan induk yang finansialnya baik. Oh ya, perusahaan tempat saya kerja, juga menggarap proyek ini, sebagai salah satu perusahaan jasa pengelolaan tambang. Semacam anak menggarap proyek bapaknya gitulah.

2. Bumi Resources

BRSebenarnya Bumi Resources ini menjadi eksportir batubara terbesar di Indonesia, juara satu dia mah. Tapi, terbesar karena gabungan dari dua anak perusahaannya yakni PT Arutmin Indonesia di Kalimanatan Selatan dan PT Kaltim Prima Coal (KPC) di Kalimantan Timur. Arutmin sendiri mengelola  tiga pertambangan Batubara; Asam-asam, Satui dan Sanakin. Sedangkan wilayah operasi KPC meliputi Bengalon dan Pinang. Tambang di Satui dan Senakin menghasilkan batubara barkalori tinggi yang ditujukan untuk untuk kepentingan ekspor. Sementara itu, tambang di Pinang dan Bengalon  menghasilkan beragam jenis batubara yang ditujukan baik untuk pasar dalam negeri maupun ekspor. Dan tambang Asam-asam menghasilkan batubara kalori rendah khusus untuk kepentingan domestik.

Hingga tahun 2013, Bumi Resources memiliki cadangan batubara terbesar di Indonesia  yakni 2,9 miliar ton yang tersebar di berbagai wilayah operasional di atas. Jumlah cadangan ini meningkat dari 107 persen dari jumlah cadangan pada tahun 2007 yakni 1,4 miliar ton. Bumi Resources mengusai 26,6 persen market share  produksi batubara di Indonesia pada tahun 2009 dan pada tahun 2011 berhasil menambang 66 juta ton batubara. Pada tahun 2014, Bumi Resources menambang sekitar 100 juta ton batubara dari perut bumi Indonesia.

 1. Adaro

AdaroMeskipun Adaro dibilang urutan kedua dari sisi produksi, saya bilang sih Adaro ini nomor satu—karena lokasi tambangnya satu, di Tanjung Kalimantan Selatan. Adaro memproduksi batubara berkalori sedang yang rendah sulphur (ramah lingkungan), terutama untuk kebutuhan ekspor.

Di tambang tutupan miliknya, Adaro menghasilkan 47,7 juta ton batubara pada tahun 2011, naik dari 42,2 juta ton dari tahun 2010. Ini merupakan salah satu sumberdaya batubara rendah kalori terbesar yang ada di Kalimantan Selatan. Salah satu keuntungan Adaro adalah mereka memiliki satu tambang batubara terbuka terbesar dalam satu lokasi (single open pit mine).

Kinerja keuangan Adaro sejak 2012 tidak luput dari pengaruh penurunan harga batubara dunia. Laba bersih perusahaan turun sebesar 7,8 persen year on year (YoY) menjadi 346,48 juta Dollar AS  per September 2012. Dengan volume produksi yang batubara yang turun  4 persen menjadi 33,87 juta ton jika dibandingkan tahun 2011, menyebabkan volume penjualan juga mengalami penurunan sebesar 9,5 persen di angka 34,68 juta ton.Meski mengalami pelemahan dalam harga jual rata-rata batubaranya, Fitch Ratings tetap memberikan sinyal positif dengan memberikan peringkat BB+ dengan prospek stabil untuk resiko kredit (issuer default ratings). Fitch Ratings menilai, Adaro dalam jangka menengah akan tetap menjaga profil keuangannya meski mendapatkan tekanan akibat pelemahan harga batubara.

Pada akhir 2014, dengan kapitalisasi pasar sebesar US$2,68 miliar, Adaro tetap bertahan sebagai salah satu perusahaan pertambangan publik yang terbesar di Indonesia.Pada tahun 2014, Adaro memproduksi 56,2 juta ton Envirocoal, sehingga total produksi dari tiga pit di Kalimantan Selatan sampai saat ini mencapai 509 juta ton.

Konon, cadangan batu-bara Adaro gak habis ditambang hingga 100 tahun sekalipun. Bayangin saja, di satu titik ketebalan kandungan batu-baranya mencapai belasan meter. Bagaimana tidak? Adaro memiliki sumber daya batu-bara mencapai 12,8 miliar Ton. Wow! Jika produksi dengan pola seperti sekarang, dalam setahun kisaran produksi 56 Juta Ton, berapa lama coba untuk menghabiskan 12,8 miliar Ton batu-bara? 100 tahun aja baru menghabiskan 5 milliar ton. Silakan dihitung, deh.

Yang menarik lagi dari Adaro adalah Pimpinan tertingginya—Pak Garibaldi Thohir a.k.a Boy Thohir, yang mengembangkan visi-misi perusahaan dan beliau hidup dengan visi tersebut; ‘memberikan energi positif dari batu-bara indonesia’. Energi positif di sini, jika dilihat dari sisi personalnya Pak Boy Thohir, cakupannya sangat luas.

Perusahaan-perusahaan Batu-Bara di atas, tidak hanya besar dalam sisi produksi sebenarnya, tetapi juga ‘besar’ dalam program-program penjaminan kesehatan dan keselamatan kerja karyawan, ‘besar’ dalam program penglolaan lingkungan hidup, dan ‘besar’ dalam program CSR (corporate social responsibility). Tak heran jika perusahaan-perusahaan tersebut setiap tahun mendapatkan penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup—setidaknya proper hijau (tingkatan proper: Hitam, Merah, Biru, Hijau, Emas).

Kalau kamu, familiar dengan perusahaan yang mana?