Jam Tangan Istri

Rabu pertama setiap bulan merupakan agenda rapat besar di kantor–melibatkan seluruh karyawan dari berbagai tingkatan. Alhamdulillah saya dipercayakan menjadi fasilitator rutin dalam agenda ini, mendampingi bapak-bapak Manager.

Berbicara di depan umum pernah menjadi kegiatan paling menakutkan bagi saya. Sepuluh tahun lalu, pertama kali saya bekerja dan disuruh menjadi fasilitator di kegiatan serupa, rasa-rasanya ada tetesan kencing keluar tanpa rencana. Bersyukur hal itu sudah lewat. Kau tahu sendiri, kebiasaan membuat kita menjadi bisa. Rasa percaya diri sudah cukup memadai, setidaknya untuk ukuran saya yang pernah terperangkap di perasaan rendah diri sekian lama.

Terkadang saya terlewat percaya diri. Rabu pertama Oktober ini, ketika menjadi fasilitator di agenda rapat besar di kantor, saya mengenakan jam tangan istri berwarna hijau toska dan kemeja oranye. Perpaduan warna yang menyilaukan mata.

Kawan-kawan yang memusatkan pandangannya ke arah saya, bukan semata karena isi pembicaraan saya, melainkan aksesoris yang saya kenakan. Saya tahu itu, setelah rapat besar dibubarkan, beberapa kawan berkomentar:

“Jam tangan anakmu kah itu?”

“Wih, warna jam tangannya jreng sekali. Tidak cocok berada di sekitaran alat berat.”

“Kau pasti memakai jam tangan istrimu tanpa izin?”

Dan lain sebagainya dan lain sebagainya.

Aku yang sudah cukup terbiasa mengeluarkan jurus ngeles melemparkan senyum kepada kawan-kawan yang berkomentar dan berkata:

“asal kau tahu, aku sengaja mengenakan jam tangan istri seperti ini. Dengan begini aku bisa mengingat waktu sekaligus mengingat istri, sebab mengingat istri sepanjang waktu adalah sikap terbaik seorang suami.”

ahahaha! Yes yes yes!

12080148_10206618517879342_7325035794643693995_o

Jujur, pada awalnya saya sendiri agak ragu mengenakan jam tangan istri. Kalimat istri yang menguatkan, “asal percaya diri, pantas-pantas aja kok. toh, mas tidak biasa tanpa jam tangan.”

Hal itu terjadi berawal dari keisengan saya sendiri. Pulang kerja, dua hari sebelumnya, saya melipat-lipat tali jam tangan sendiri supaya bisa disimpan dengan posisi menghadap ke atas seperti jam tangan yang talinya berbahan lemas atau yang pinnya fleksibel. Entah mengapa saya bosan melihat jam tangan sendiri tergeletak dengan posisi tali melingkar kaku dan tergeletak menyamping. Dari keisengan itu, terlepaslah si tali yang ternyata tidak bisa dipasang kembali–di dalamnya terdapat tiga potongan pin kecil dan peer.

Saya bawa ke tukang jam biasa juga tidak bisa. Harus pakai alat khusus, kata tukang jam umum. Akhirnya saya bawa ke toko, tempat saya beli, beserta kartu garansi. Biarlah menunggu sebulan, yang penting bisa dipakai kembali.

Karena keberanian saya mengenakan jam tangannya dan cerita yang saya bawa dari kantor, istri memeluk dan mencium saya gemas.

Ya. Tak ada yang perlu dirasa malu. Yang penting tak kekurangan kasih sayang. Ahahaha!