Kebiasan Itu Mengikat

Tahun ini dapat kompensasi waktu yang lebih panjang dari kantor. Biasanya, istrahat siang hanya diberi waktu setengah jam, karena pulang dipercepat setengah jam. Tahun ini wow, pulang tetap lebih awal, istrahat normal satu jam. Rasanya seperti mendambakan seluruh bulan sepanjang tahun adalah bulan ramadhan.  HAHAHA!

Lain ladang lain ilalang.

Lain cerita di kantor, lain pula cerita di Musholla sebelah rumah. Kalau di Musholla, tidak ada perkara mengenai waktu istrahat dan pulang, tetapi ada sedikit ketergantungan terhadap sosok imam. Tidak salah dan tidak ada masalah, karena dua imam yang biasa bergantian mengimami shalat di situ memang aduhai. Teduh. Indah suaranya. Iramanya pas. Kalau memimpin doa membuat hati bergetar. Kepribadiannya juga menarik. Bisa dibilang, kecintaan kami semua lah. Kalau ada acara selamatan di rumah-rumah, kedua imam tersebut juga lah yang rutin memimpin acara hajatan. Idola!

Tadi malam, jeda setelah adzan isya cukup panjang. Saya melihat beberapa jamaah berdiri di pintu Musholla, sebagian lainnya di luar. Saya pikir di dalam sudah terlampau penuh, ternyata tidak. Rupanya, orang-orang yang di luar sedang mencari salah satu dari dua imam yang saya maksud itu. Tiada kabar, tiada berita. Dicari di rumahnya pun tak ada, tepatnya, rumah mereka tutup. Ada kesan begini, kalau mereka tak datang jangan dimulai dulu.

Seruan bacaan shalat di Masjid lain kian menggema, orang-orang jadi resah. Mau lanjutin kok sudah terlanjur menunggu, mau tidak melanjutkan tanpa imam-imama idola kok ya keburu imsak. Akhirnya, dengan penuh keberanian seorang bapak-bapak tua yang berada di barisan kedua menawarkan diri untuk menjadi imam. Singkat cerita, shalat isya pun berlanjut segera.

Usai shalat isya, si bapak-bapak imam isya dadakan mengundurkan diri, tidak mau menjadi imam tarawih. Beliau meminta mas-mas kalem umur sekira 40 tahun yang menjadi imam. Singkat cerita lagi, shalat tarawih pun berlanjut segera.

Dan hasilnya…

Wuih! Tak kalah teduh tak kalah merdu tak kalah khusuk dengan imam-imam idola itu. Suaranya hanya sedikit kecil saja. Mungkin agak jauh dari mic, mungkin. Tapi begitu berkesan. Saya sering melihat orang ini, tapi cenderung diam dan memilih barisan belakang di banyak kesempatan. Pernah sekali waktu ketemu di acara tahlilan, orang ini diam-diam saya kagumi di acara itu. Dia menghafal surat yasin dengan begitu tepatnya. Kalau kami dan banyak orang lainnya membaca surat yasin dengan pegangan buku di tangan, dia tidak. Dia merem dengan khusuk sampai bacaan tuntas. Kebetulan saya di sebelahnya. Lalu, kesan dia menjadi imam itu membuat saya semakin kagum. Bahkan pengin sungkem. Bukan berlebihan, tapi memang sempat terlintas di kepala seperti itu.

Saya ketagihan pengin dia jadi imam.

Dan, oh ya, semalam saya kebablasan gak mandi lagi. Entah mengapa, rasanya gak mandi sore ini bakal menjadi rutinitas. Jangan-jangan, tidak mandi sore ini akan menjadi kebiasaan saya yang mengikat. Apakah saya harus konsisten hingga akhir ramadhan?