Kejanggalan Iklan Rokok

Saat menonton televisi, melintasi jalan kota dan kampung, membaca media cetak, banyak iklan yang awalnya saya tidak mengerti produk apa yang sedang dipromosikan, sampai akhirnya saya jadi mengerti kalau produk tersebut ternyata rokok–hanya karena adanya pesan peringatan kesehatan. Lalu muncul pertanyaan besar di kepala saya, “perlukah dimunculkan pesan peringatan di iklan rokok yang sudah punya batasan-batasan itu?”

Mari kita melihatnya dari berbagai sudut pandang. Tapi sebelum meneruskan membaca, tolong pastikan bahwa anda sudah memakai celana dalam dan menaikkan resleting. Oh iya, yang paling penting, jangan lupa membayar utang.

Menurut tangkapan mata saya yang sudah mengenakan kacamata selama delapan tahun terakhir ini, ada kejanggalan di dua pasal yang terkandung dalam Peraturan Pemerintah (PP) No.109 Tahun 2012 Tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan, yaitu pasal 27 dan pasal 39 bertolak belakang.

Begini bunyi pasal 27 tersebut (saya ambil satu rincian saja dari sebelas):

Pengendalian Iklan Produk Tembakau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26, antara lain dilakukan sebagai berikut:

a. Mencantumkan peringatan kesehatan dalam bentuk gambar dan tulisan sebesar paling sedikit 10% (sepuluh persen) dari total durasi iklan dan/atau 15% (lima belas persen) dari total luas iklan;

Bunyi pasal 39 adalah sebagai berikut:

Setiap orang dilarang menyiarkan dan menggambarkan dalam bentuk gambar atau foto, menayangkan, menampilkan atau menampakkan orang sedang merokok, memperlihatkan batang Rokok, asap Rokok, bungkus Rokok atau yang berhubungan dengan Produk Tembakau serta segala bentuk informasi Produk Tembakau di media cetak, media penyiaran, dan media teknologi informasi yang berhubungan dengan kegiatan komersial/iklan atau membuat orang ingin merokok.

 Coba hubungkan bunyi dua pasal di atas dengan gambar yang selalu mendampingi kalimat “merokok membunuhmu” di bawah ini.

Di pasal 27 diwajibkan menampilkan tulisan dan gambar yang berisikan pesan bahaya merokok, tetapi gambar yang digunakan jelas-jelas bersinggungan dengan pesan pasal 39; batang rokok kelihatan, iya. Asap rokok apalagi. Kegiatan merokok sudah jelas-jelas, kelihatan sekali. Hanya karena munculnya model preeet inilah orang jadi tahu kalau iklan samar-samar jadi jelas sebagai iklan rokok.

Coba diingat-ingat, apakah anda tahu bahwa tulisan pensil, batik, batang, tiang, esse, menara, mantan, songo-songo, hidung belang, mata keranjang, kotak, merupakan produk rokok? Saya rasa tidak semuanya, kecuali rokok yang sudah sangat familiar dari dulu. Generasi baru dan generasi nanti juga jadi banyak tahu produk rokok karena adanya pesan peringatan yang menampilkan gambar model entah siapa itu. Lucunya lagi, dari berbagai artikel yang saya baca, model tersebut berasal dari Thailand meski tidak saya temukan siapa namanya. Berarti comotan. Apakah salah kalau saya mengartikan comotan tersebut merupakan konspirasi pabrik-pabrik rokok? Apakah salah jika saya suudzon kalau pembiaran beredarnya model perokok tersebut terselip bayaran ke pihak tertentu yang nilainya tidak sedikit? Kalau saya salah, ya maafkan.

Menurut pandangan saya yang masih tampak sangat muda ini, pesan peringatan kesehatan yang menampilkan kata rokok dan atau model perokok tidak perlu. Dengan alasan yang sudah saya sampaikan tadi. Cukup di bungkus-bungkus rokok saja, sehingga pengetahuan masyarakat tentang berbagai jenis produk rokok jadi terbatas. Generasi masa depan juga semakin minim mengetahui, paling tidak menurut pendapat saya demikian. Itu semua demi mencegah bertambahnya jumlah perokok.

Kalau niatnya mengurangi jumlah perokok, tidak usah lewat media iklan rokok yang sudah disamarkan, tapi cukup dibuatkan iklan layanan masyarakat terpisah–oleh pemerintah–tanpa menempel di produk rokok apapun. Sama halnya dengan program pencegahan penyakit tertentu yang tidak menempel di produk makanan/minuman yang terkategori junk food.

Oh ya, beberapa merk rokok yang saya sebutkan di paragraf  kedua setelah gambar tadi tidak semuanya benar, sebagian saya asal nyebut saja.

Setelah menulis ini, saya pengin melakukan observasi penerapan peraturan pemerintah tentang batasan iklan rokok apakah benar-benar dijalankan yaitu tentang larangan mengiklankan rokok di jalan protokol dan larangan iklan rokok lewat media penyiaran ditayangkan setelah pukul 21.30 sampai dengan pukul 05.00 waktu setempat. Waktu setempat inipun aneh, lah, TV yang ditonton di Indonesia tengah dan timur adalah tayangan dari TV Indonesia barat. Bagaimana mau menyesuaikan waktu setempatnya? Lucu sekali.

Bagaimana dengan anda, apakah sudah benar-benar move on dari bayangan mantan?