Kekuatan Cinta

KEKUATAN CINTA YANG MENGGERAKAN
KEKUATAN ALAM SEMESTA LEWAT
KEKUATAN SANG MAHA

Sepanjang judul inilah kisah kejutan cinta saya dan istri hari ini.

Jam 2 siang saya meninggalkan kantor, kembali ke rumah, siap-siap berangkat ke ujung Timur Indonesia pada pukul 5.40 sore. Selesai Ashar saya ke bandara, diantar Alastair dan Ifat -if. Begitu turun dari mobil persis di depan pintu keberangkatan kami sama-sama terkejut, “LOH, TAS PAKAIANNYA MANA?”

Rupanya tertinggal di balkon rumah, di samping pintu rumah, sebelah kursi kayu berwarna cokelat tua. Mau kembali ke rumah, butuh waktu lebih dari satu jam untuk pulang dan pergi. Sementara kurang dari satu jam ke depan pesawat akan diberangkatkan. “JANGAN PANIK JANGAN PANIK JANGAN PANIK,” kata saya dalam hati.

Ifat tampak sedikit bingung, saya tidak mau membuatnya makin khawatir. Kami memutuskan untuk berlomba menelepon keluarga yang kemungkinan bisa membantu, membawakan tas ke bandara. “Tidak ada yang angkat telepon nih,” kata Ifat tanpa senyum sedikitpun.

Selang beberapa puluh detik, telepon saya terhubung ke kakak ipar–Umi Hanik–yang ternyata lagi di jalan sepulang dari tempat kerja. Beruntung sekali kakak bersedia membantu, bakal mampir ke rumah, mengambil sekaligus mengantar tasnya ke bandara. Janjian akan ketemu di parkiran bandara. Di saat yang bersamaan, saya meminta Ifat untuk ke tempat parkir menunggu kakak, sedangkan saya bergegas ke counter check in.

“MAAF, PAK, KEBERANGKATAN PESAWATNYA AKAN DITUNDA PADA PUKUL 7 MALAM,” kata petugas sembari mengembalikan KTP saya. “BENERAN, MBAK?!” tanya saya kegirangan, memastikan. “WUAAAA REZEKI!” Petugasnya kebingungan melihat respon saya, yang menghentakkan kedua tangan ke udara, saking senangnya pesawat delay.

Saya langsung menelepon kakak untuk tak melanjutkan perjalanan ke bandara, lalu saya telepon Ifat untuk keluar dari parkiran menuju pintu keberangkatan lagi, kita akan kembali ke rumah bersama, mengambil tas!

Ini bukan tentang keteledoran, tidak juga soal keterburu-buruan. Ini tentang cinta yang bekerja dengan caranya, dengan kekuatannya yang misteri.

Kami bergerak tepat waktu, hanya saja tas tertinggal belaka. Waktu keluar rumah, saya menenteng tas laptop dan menggandeng Alastair menuju mobil duluan, karena harus manasin mobil. Ifat menyusul, dan saya meminta tolong untuk dibawakan tas pakaiannya ke mobil. Saya minta tolongnya sambil mengikat tali sepatu. Suara saya rupanya kurang jelas, sedikit miskomunikasi, eh dapat hadiah waktu ekstra bersama. Begitu.

Beruntung sekali kami tidak sampai panik, dan tidak sampai saling menyalahkan. Begitu kembali naik mobil, kami bertiga saling berpelukam haha hihi. Begitu berharganya waktu satu jam. Terlebih sebulan terakhir ini saya sering pergi ke luar kota.

Ketika kita tak mencoba mengendalikan dunia, ketika kita membiarkan alam semesta bekerja, ketika kita percaya pada cinta, ketika kita yakin dengan segala rencana-Nya, ketika itu pula kita diliputi keberlimpahan rahmat kehidupan penuh cinta penuh kasih penuh sayang.

Tidak salah saya pergi mengenakan kaus dan jaket yang sama dengan yang saya pakai waktu bermalam mingguan dengan Ifat, dua hari lalu, seperti pada gambar di bawah. Suasana saling berbagi hangatnya teh poci malam minggu rupanya ikut terbawa hingga hari ini.

Bagi kami, hari ini begitu romantis.