Kelebihan Ngantor di Tengah Kota

Mungkin (hampir) segala sesuatu yang akan saya sampaikan di tulisan ini tidak berlaku untuk teman-teman di Jakarta. Selain kotanya besar, juga macet di mana-mana, sehingga rasanya kantor pasti jauh dari rumah. Umumnya. Karena yang saya bilang enak ngantor di tengah kota, sangat erat kaitannya dengan dekat rumah.

Dulu saya ngantor di samping hotel Zurich–dekat Mal Balikpapan Superblock–selama dua tahun, dari rumah hanya lima belas menit. Enaknya tuh banyak. Berangkat kerja, dari rumah jam 7:45. Pulang, masih terang benderang sudah sampai rumah. Sudah main cekikian sama anak dan istri.

Tapi bagian paling enaknya menurut saya adalah sering didatangi oleh anak istri. Apalagi pas ngantor sabtu setengah hari. Bukan didatangi lagi, tapi saya bawa anak istri dari pagi. Mereka nungguin sambil main di kantor. Jam makan siang juga kadang disamperin istri, sekadar makan siang bareng. Atau saya yang pulang ke rumah sekalian. Santai aja gitu bolak-baliknya karena dekat.

Pas saya ulang tahun juga pasti didatangi beserta kue dan lilin. Benar-benar bisa dibilang rumah kedua. Hal-hal seperti itulah yang membuat saya rindu dengan kantor lama. Bukan tidak bersyukur dengan kondisi yang sekarang, hanya rindu saja. Toh, perusahaannya masih sama. Perusahaannya masih dan selalu baik. Orang-orangnya juga sangat baik. Pindah ke pinggir kota karena beli lahan baru untuk kantor sekaligus untuk bengkel alat berat.

Kurang enaknya sih gak signifikan. Hanya tidak wangi saat pulang kerja. Kantornya kebetulan dekat laut, hawa laut menguasai pori-pori. Mau sewangi apapun kita dari rumah, jam sepuluh pagi udah menguap wanginya. Kulit menghitam dan berminyak karena panas. Airnya juga kurang mantap, kadar besinya aduhai. Itu saja sih, selebihnya oke. Kelebihannya, setiap hari berasa piknik di pantai. Buka jendela sudah melihat hutan mangrove dan air laut.

Kalau kamu, lebih suka ngantor di tengah kota atau dasar laut?