Kenapa Saya Harus Kaya?

air-surga

Hidup berkelimpahan, kaya raya, adalah hak semua umat manusia. Untuk mendapatkan hak, tentu kita harus memenuhi kewajiban-kewajiban–salah satunya dengan bertindak mewujudkan mimpi-mimpi, tak peduli siang malam penuh peluh keringat, usaha dan doa harus senantiasa terjaga pada tingkat tertinggi. Tidak terkecuali saya yang suka kentut sembarangan ini, punya hak dan kewajiban yang sama.

Sebaiknya saya harus kaya raya, berkelimpahan, karena begitu banyak keluarga yang menaruh harap terhadap saya, dan sedihnya tidak semua keluarga dapat saya bantu setiap mereka membutuhkannya. Ya, saya tidak mau memaksakan diri, kecuali memang ada dan sedang bisa membantu. Penginnya sih selalu ada di saat dibutuhkan.

Saya tiga bersaudara, yang statusnya seibu dan sebapak. Ibu saya punya tiga anak gadis, dengan suaminya yang lain. Bapak saya punya dua belas anak, dengan istri-istrinya yang lain, setelah bercerai dengan ibu saya. Saya anak kedua, berarti saya punya enam belas adik. enam belas, loh. Bukan jumlah yang main-main.

Secara tanggungjawab moral langsung, saya hanya punya tanggungjawab satu–adik seibu sebapak saya. Tetapi apakah bisa saya menutup mata, ketika saat ini ibu saya dan bapak saya semakin menua dengan fisiknya yang sudah sangat menurut dan segala keterbatasannya mengurus anak-anaknya? Ya, memang itu adalah keputusan mereka, seharusnya tanggungjawab mereka, bukan saya sebagai anaknya yang tak maksimal mendapatkan kasih sayang ini. Rasa-rasanya terlalu egois kalau saya, jika serta merta menutup mata.

Bisa saja saya menutup mata, tetapi saya akan menyaksikan beban berat orang tua saya sampai akhir waktunya. Sebab, mereka pasti akan bersedih ketika ada anak-anaknya yang tidak bisa menjalani kehidupan dengan baik lantaran tidak semuanya mampu berdiri di kakinya sendiri sendiri.

Kalau saya kaya raya, tentu beban berat orang tua saya akan menguap begitu saja.

Saya bermimpi menjadi pengusaha sukses, di bidang yang saya kuasai–entah apa itu. Belum terang benderang saya melihatnya. Ketika sukses hidup melimpah ruah, saya ingin membangun rumah di tengah tanah yang luasnya tiga hektar. Rumah saya berada di tengah-tengah. Sekeliling rumah, saya akan membangun tembok berupa rumah cluster yang mampu menampung enam belas adik dan satu kakak, beserta keluarganya–jika mereka berkeluarga.

Mereka semua tinggal mengelilingi saya bukan sekadar numpang tinggal, tetapi saya memiliki cabang usaha yang memperkerjakan mereka dengan layak. Bagi yang tidak memiliki keterampilan dan atau susah dikembangkan untuk memiliki keterampilan khusus, biarlah bekerja sebagai pengurus rumah dan taman dan segala sesuatu yang perlu dibantu urus di rumah–saya tetap menggajinya dengan bayaran yang layak.

Melihat mimpi sebesar itu, tentu saya akan memperkerjakan orang lain selain keluarga inti yang saya sebutkan di atas. Dan, bukan karena berasal dari keluarga inti, serta merta saya beri posisi kunci, itu bunuh diri namanya alias merencanakan kegagalan usaha. Saya akan memberikan pekerjaan, posisi, sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya. Yang penting, kan, mereka kerja, memiliki penghasilan sendiri. Sekecil apapun penghasilan dari kesesuaian posisi dan tanggungjawab kerjanya, tetap tidak akan kesusahan, karena sudah saya sediakan tempat tinggal layak huni meski tidak mewah.

Berlebihan punya mimpi seperti itu? Saya rasa tidak. Sama sekali tidak.

Kesalahan bermimpi adalah ketika kita tidak jelas mau jadi apa, tujuannya apa, misi kemanusiaannya apa, hanya pengin mewah yang berakhir dalam keserakahan demi kepentingan diri sendiri.

Kalau saja saya tidak punya mimpi merangkul semua keluarga tersebut, apa yang saya miliki sekarang sudah cukup berlimpah untuk saya, anak, dan istri. Saya bersyukur, saya puas, saya bangga, dengan apa yang ada sekarang. Sama sekali saya tidak merasa kekurangan. Again, saya hanya ingin melihat orang tua saya bahagia tanpa harus memikirkan lagi anak-anaknya yang berjumlah banyak itu. Bila perlu, keluarga mertua saya juga bisa bergabung dengan saya dan keluarga saya.

Menerima apapun yang terlanjur menjadi keputusan hidup ibu dan bapak saya, adalah cara terbaik saya menyayangi mereka. Saya pikir begitu.

gambar diambil dari: sini