Kerandoman Awal Tahun 2018

Adalah kisah malam minggu pertama tahun 2018 yang melibatkan saya, ifat, dan ibu mertua sebagai pemeran utama dalam kisah yang apalah ini. Begini ceritanya…

Alastair sudah tertidur pulas. Ibu mertua sedang asik menonton sinetron. Ifat masih sibuk menggarap penilaian hasil tes psikologi orang-orang. Sementara saya yang lagi gak ada kerjaan, meraih buku puisi Joko Pinurbo yang sudah setahun terhimpit di rak buku tanpa selesai membacanya.

Saya membuka halaman buku secara acak, membacakan bait-bait puisi dengan nada keras dan gerakan melas. Saya membaca keras belaka, tanpa peduli apa isinya. Pokoknya sekadar bersuara.

Ketika masuk ke puisi ketiga sekaligus puisi terkahir yang ingin yang baca, nada suara saya kian meninggi. Di sini lah tragedi tawa pecah campur malu tak karuan terjadi.

*benerin sarung*

eng ing eng…

Puisi ketiga berjudul ‘Di Salon Kecantikan’. Puisi ini paling panjang dari puisi-puisi lainnya, menghabiskan tiga halaman sendiri. Di halaman pertama dan kedua sama sekali tak ada keanehan. Saya terus membacanya. Bahkan semakin cepat, tanpa sempat lagi mengolah dalam pikiran–apakah ada kalimat yang perlu disenyapkan suaranya atau tidak. Halaman ketiga sudah terbuka dan sedang terbaca, seketika reaksi ibu mertua mengejutkan saya, persis ketika saya membaca paragraf di bawah ini:

… Senja semakin senja.
Kupu-kupu putih hinggap di pucuk payudara. Tangannya meremas kenyal yang susut dari sintal dada. Dan ia ingin mengatakan, “Dada, kau bukan lagi pegunungan indah yang dijelajahi pendaki.”…

Ibu mertua tertawa tak tertahankan. Ifat juga tertawa sambil mengatai saya gila. “Emang wis kisut. Lah wis tuwek kok,” kata ibu mertua spontan, tetap dalam tawanya. Beliau merasa seperti sedang disindir, padahal tak ada niat sama sekali. Bahkan awalnya dikira saya mengarang sendiri, padahal begitulah isi puisi adanya.

Saya terkejut oleh reaksi ibu mertua.
Saya terkejut dengan isi puisinya.
Saya terkejut karena sikonnya gak tepat.
Saya terkejut karena suara sudah terlanjur menjadi bunyi.

Rasanya jadi pengin malu dan menutup muka dengan buku sampai perayaan malam tahun baru 2019. Saya malu tak terbantahkan, meski sambil tertawa sembarangan.

Sungguh awalan tahun yang penuh haha hihi…