Koran Lebaran dan Dosa-Dosa

Percuma beramai-ramai mengumandangkan kembali fitrah di hari lebaran, kalau sedikit lembar koran saja tak bisa dipungut kembali untuk dibuang ke tempat yang seharusnya. Apa susahnya, Men?

Lebaran di area terbuka yang berlantaikan tanah dengan sedikit rerumputan tak terawat berujung pada penuhnya koran-koran bekas yang mendadak ‘berharga’. Saya membeli koran bekas untuk alas sajadah senilai dua ribu rupiah–untuk 8 halaman atau 4 lembar koran kadaluarsa. Jauh lebih mahal dari harga barunya. Itu di Balikpapan.

Baik penjual maupun pembeli koran bekas yang mendadak ‘berharga’ ini, sama-sama gak bertanggungjawab. Tidak bertanggungjawabnya penjual, terletak pada tidak disortirnya koran bekas yang layak dijual dan layak dinaikan harganya.

Saya sekeluarga shalat ied di Lapangan Merdeka, Balikpapan. Mas-mas yang duduknya di samping kiri saya, menggunakan sajadah mini yang hanya cukup untuk bagian muka, dengan alas koran yang pastinya lebih besar dari sajadahnya–Samarinda Pos halaman 21 edisi Jum’at, 15 Mei 2015.

Artikelnya gak bener. Kalo bener, gak saya bahas di sini. Saya bakal bahas di pertemuan remaja mesjid saja.

“Amel Alvi – Kecantikan Palsu.” Begitu judul artikelnya. “Rambut mengembang, senyum mengempis, dada mengembang, pakaian mengempis, hidung mengembang, belahan dada mengempis.” Begitu kira-kira terjemahan dari foto Amel yang ditampilkan.

Untuk lebih jelasnya, saya lampirkan gambarnya di sini.

????

Errrr banget, kan?

Kasian mas-masnya, harus melawan godaan demikian di hari yang fitri. Kalau saja gak kuatir dianggap SKSD (sok kenal sok da’i), saya akan bisikin si mas-mas tersebut, “Mas, jangan lihat fotonya Amel dengan busana hitam, lihat saja yang paling kiri–berbaju merah, dan bayangkan untuk berkencan dengannya mas harus mengeluarkan uang setidaknya delapan puluh juta rupiah. Saya jamin, jangankan tergoda, melihatnya dua kali pun, mas akan berpikir dua juta kali.”

Di bawah belahan dadanya Amel Alvi, tertulis judul lain; “Luna Maya – Kesal Dibanderol Rp. 35 Juta.” dan di sampingnya berujudul, “Chaterine Wilson menangis gara-gara inisial.”

Menurut hasil pengamatan ala-alanya saya, pihak koran hanya sekadar asal mencaplok berita, guna mengejar bayaran dari sederetan iklan-iklan ‘mimpi‘ di bagian bawahnya.

Oil untuk keperkasaan dan bikin tahan lama si otong lah…

Vacum pembesar alat vital lah…

– Pembesar alat vital herbal lah

– Pengobatan tradisional alat vital – langsung besar dan panjang di tempat lah…

– Ahli susuk lah…

Bedebah lah. Pokoknya.

Penjual koran bekas yang mengambil untung banyak itu seharusnya…sedikit berusaha untuk membuat dagangan dadakannya lebih barokah. Mengecek seluruh koran yang dijual satu per satu, menyingkirkan lembaran berisikan berita atau gambar tak senonoh. Gak sebegitu susah, tukang korannya aja gak niat. Maunya untung belaka.

Dan, kalau akumulasi keuntungan si tukang koran cukup tinggi, sekalian aja sampaikan ke pembeli, “pak, buk, silakan beli korannya, dua ribu dapat empat lembar, terima beres–usai shalat ied biar saya yang beresin.” Dengan cara itu, petugas sekaligus pengurus pelaksanaan shalat ied gak perlu mengingatkan ke seluruh jamaah sampai berbusa-busa untuk tidak meninggalkan koran. Karena, pada kenyataannya hanya segelintir orang yang mau memungut dan membuang korannya di tempat yang seharusnya. Itu terjadi dari jaman sebelum adanya WC duduk hingga di jaman kekinian–yang apa-apa di-petisi-online-kan.

Tapi, ya, paling bener: semua pembeli koran yang menggunakan itu untuk alas sajadah, memungut kembali–usai shalat ied, sendiri. Juga, memilih koran yang dibeli juga gak ada salahnya, toh si penjual membawa banyak. Kalo pas kebetulan dapat berita dan gambar tak senonoh, dikembalikan saja ke si penjual dengan cara meremas hingga bentuknya jelek, plus sedikit kalimat pengantar, “Pak, kalo jualan tuh yang niat, masa gambar beginian dijual untuk jamaah shalat ied?”. Cukup adil.

Beneran, saya masih gemes dengan pemandangan koran yang dipake mas-mas di samping kiri saya. Saking gemesnya, habis shalat, tuh koran saya minta, saya bawa pulang, dan saya cermati isinya.

Beritanya gak penting.

Tentang Amel Alvi, yang ditekankan adalah soal payudaranya. “Tidak hanya soal penampilan wajah, payudara Amel pun disebut merupakan hasil modifikasi.”

((((PAYUDARA MODIFIKASI))))

Tentang Luna, judulnya “Kesal dibanderol Rp. 35 Juta.” Padahal isinya gak ada pernyataan tentang itu. Luna hanya memberi komen sedikit, saat diwawancarai di daerah Menteng, Jakarta Pusat, “Aku pikir masyarakat harus fair mengangkat inisial.” Udah gitu doang pernyataannya.

Kalo benar ada pernyataan Luna kesal dibanderol segitu, saya udah siap-siap nyamperin dia.

“Emang Luna mau dibanderol berapa?”

Palingan habis nanya begitu saya ditembak sama Luna–doooor!