Lead by Example: Garibaldi Thohir

Bicara soal bussines leader, pemimpin panutan, dan orang hebat berhati merakyat sekaligus berjiwa sosial tinggi, saya sulit move on dari yang namanya Garibaldi Thohir alias Boy Thohir yang merupakan kakak dari Erick Thohir—presiden klub sepak bola ternama: Intermilan. Dua orang hebat tersebut merupakan anak dari Teddy Thohir yang tak lain adalah pebisnis besar juga.

Seperti yang disampaikan di awal buku The 8 Habit (Melampaui Efektivitas, Menggapai Keagungan) karya Stephen R. Covey bahwa pribadi agung adalah siapa saja yang dengan berani dan rendah hati menjadi teladan bagaimana kepemimpinan merupakan sebuah pilihan dan bukan sebuah posisi. Di buku tersebut, dua hal besar yang harus dilakukan oleh ‘pemimpin’ untuk dapat memberi kontribusi nyata dan pengaruh besar terhadap sebanyak mungkin orang lain adalah: menemukan suara sendiri dan mengilhami orang lain untuk menemukan suara mereka. Dua hal itu saya temukan di Boy Thohir. Beliau mempengaruhi orang lain sebagai ‘pribadi utuh’—dari tubuhnya, dari pikirannya, dari hatinya, dan dari jiwanya. Tentu saya sangat terilhami oleh beliau untuk menemukan suara saya, dengan segala keunikan sekaligus keterbatasan yang saya miliki untuk juga punya pengaruh terhadap orang-orang di sekitar, meski masih dalam skala kecil yang saya mampu.

Berikut beberapa contoh nyata Boy Thohir mengilhami orang lain, saya terutama:

 KELUARGA

Gamma, lelaki remaja berusia 15 tahun yang baru-baru ini mengejutkan masyarakat indonesia lewat karya-nya tentang Microhydro—energi alternatif ramah lingkungan yang ia jadikan proyek pembangkit listrik di desa terpencil di kaki gunung Halimun yaitu Kasepuhan Ciptagelar, Jawa Barat, desa yang memiliki akses listrik terbatas.

Sebelum proyek tersebut dilakukan, Gamma yang umurnya separuh dari umur saya tersebut melakukan pendekatan personal terlebih dahulu terhadap masyarakat setempat. Tujuannya begitu mulia, dengan mudahnya akses listrik di daerah terpencil, usaha-usaha kecil dapat berkembang dengan baik dalam meningkatkan ekonomi desa.

Soal berbicara dengan publik, kemampuannya tidak diragukan. Pada kamis, 12 November 2015 lalu, ia melakukan prensetasi di depan 200 audience tentang microhydro beserta proyeknya, bahkan dengan bahasa inggris yang menggemaskan.

Gamma adalah remaja generasi penerus bangsa yang merupakan putra dari Boy Thohir. Tentu kehebatan anak se-remaja dia adalah hasil didikan dari Boy Thohir. Itu baru salah satu contoh Boy Thohir membangun keluarganya dengan mental pemimpin sesungguhnya.

KIPRAH DI BURSA

Setelah Boy Thohir terpilih menjadi Komisaris Bursa Efek Indonesia (BEI), beliau terus menggaungkan betapa pentingnya perusahaan-perusahaan nasional—pertambangan, perusahaan keluarga, dan lainnya untuk melantai di bursa tanpa harus takut dengan munculnya pajak yang lebih besar. Secara teknis beliau menyampaikan keuntungan di sisi lain yang bisa menutupi pajak, dan ini penting untuk membuka mata semakin banyak pengusaha lainnya. Tak heran kalau mimpinya untuk mengembangkan BEI menjadi perusahaan bursa berstandar internasional bukanlah mimpi belaka.

Semakin maju pasar saham sebuah negara, semakin maju pula negara itu sendiri, tentu masyarakat yang terlibat di dalamnya karena semakin mudahnya akses ke pasar modal nasional akan merasakan dampak positif yang bakal lebih dari apa yang diekspektasikan.

ENERGI UNTUK INDONESIA

Proyek yang digadang-gadangkan pemerintah tentang pembangunan pembangkit listrik berkapasitas 35ribu megawaat konon mendapati tantangan berat, yaitu isu mengenai batu bara yang merupakan bahan bakunya tidaklah ramah lingkungan.

Dalam hal ini, Boy Thohir urun suara betapa hal tersebut tidak perlu terlalu dikhawatirkan karena da yang namanya teknologi super ultra critical yang dapat menghilangkan polusi batu-bara. Bahkan pencarian alternatif teknologi lain untuk mengantisipasi polusi terus dilakukan, terutama oleh negara-negara maju yang mengagungkan nuklir sebagai pembangkit listrik bebas polusi. Karena apa? Selain batu-bara murah dan banyak sumber dayanya di indonesia, juga karena lebih aman dari sisi keselamatan ketimbang nuklir selama teknologi pelerai polusi batu-bara dimaksimalkan. Nuklir akan menjadi raksasa penghancur jika disenggol oleh bencana alam besar. Salah satu contoh nyata adalah jepang, mereka meninggalkan nuklir dan kembali menggunakan batu-bara setelah terjadinya tsunami.

Proyek listrik 35ribu megawatt ini akan menyelamatkan kita semua dari umur pendek akibat terlalu sering mencaci maki masalah kelistrikan yang tak kunjung usai, sekaligus dapat mengembalikan bisnis batu-bara dalam negeri sendiri karena kebutuhan bahan bakunya yang besar.

Daripada terus bermimpi basah, mendingan kita menggunakan bahan baku yang jelas-jelas banyak ini, dengan menggunakan teknologi yang sudah ada, sambil mengembangkan solusinya secara berkesinambungan. Bukankah solusi hebat muncul setelah kita mencoba melakukannya?

Boy Thohir dalam hal kelistrikan ini, sebenarnya tidak sekadar urun suara—beliau juga sudah memulai: dengan dibangunnya pembangkit listrik tenaga uap berkapasitas 2 X 30 megawatt di Kalimantan Selatan yang 10megawattnya untuk masyarakat sekitar dan sisanya untuk penunjang perusahaannya dalam rangka efisiensi   penggunaan pembangkit listrik karena bianya BBM yang semakin mahal.

LINGKUNGAN

Perhelatan kegiatan lingkungan besar-besaran yang diberi tema ‘Celan Up Jakarta Day’ (CUJD) pada 18 Oktober lalu, Boy Thohir pun memberi konstribusi besar. Acara ini awalnya saya tahu dari kampanye internal perusahaan tempat saya kerja: Indika Energy Group. Setiap minggu, saya yang masih berdomisili di Balikpapan mendapat notifikasi email kantor tentang kegiatan tersebut, sampai-sampai saya turut semangat melakukan kegiatan gotong royong meski di lingkungan kantor di sini. Untuk itulah saya mengikuti berita kegiatan CUJD hingga selesai, dan mendapati Adaro juga terlibat penuh di dalamnya.

Boy Thohir menggerakan orang-orang perusahaan Adaro yang di bawah kepemimpinannya lewat tim CSR-nya, di mana semua kegiatan CSR PT. Adaro dilaporkan kepadanya, karena beliau memang mengontrol langsung program-program yang menunjang kesejahteraan sosial dan lingkungan.

Apa yang membuat saya terkagum-kagum adalah bahwa Boy Thohir beserta jajaran manajemen CSRnya dan Yayasan Adaro Bangun Negeri (YABN) bekerja sama dengan pemerintah setempat menyepakati dilaksanakannya replikasi program CUJD untuk dilakukan di daerah Tabalong, Kalimantan Selatan seminggu setelahnya, yang diberi tema Clean Up Tabalong Day (CUTD) pada 25 Oktober 2015.

Kegiatan CUTD tidak tanggung-tanggung menggerakkan 7000 sukarelawan dalam meramaikan bebersih Tabalong di tujuh titik: Taman Kota Tanjung, Tanjung City Park, Mesjid Ashirathal Mustaqim, Terminal Mabuun, Komplek Pendopo, Stadion Olahraga, Rumah Sakit Badaruddin Tabalong, dan Halaman Islamic Centre Tabalong. Luar biasa!

Mengagumi Boy Thohir, mempelajari banyak hal darinya, tentu tidak akan membuahkan apa-apa tanpa diikuti sebuah tindakan nyata. Untuk itulah saya terus menulis dan menulis tentangnya, untuk mengingatkan diri saya supaya bertindak dari hal-hal kecil yang bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, orang lain dan lingkungan, bukan sekadar berakhir di jari jemari yang kapalan.

“Pengetahuan diri paling baik dipelajari, bukan dengan merenung atau meditasi, melainkan dengan tindakan. Berusaha keraslah untuk melakukan tugas anda dan anda akan segera tahu orang macam apa anda.” – Johann Goethe.