Lelaki Ganteng dan Tas Cantik Dalam Jinjingannya

Lelaki itu melakukan perjalanan jauh dari tengah indonesia menuju timur indonesia, untuk suatu pekerjaan yang gak penting-penting amat, selama 5 hari. Tak banyak barang yang dibawanya. Hanya dua tas: satu tas punggung berisikan laptop dan satu tas bibir berisikan pakaian, perlengkapan mandi dan tiga lembar celana dalam. Jumlah daleman sedikit itu menyebabkan ia mendapat surat cinta dari tukang laundry.

Blog

Lelaki itu tak lain adalah gue sendiri.

Kalaupun ke ujung Timur Indonesia gak bisa mengajak anak istri, setidaknya saya membawa tasnya.

Sengaja saya bawa tas yang motifnya penuh bibir, supaya kalo pas kangen bibir tinggal lihat tas atau tasnya dicium sekalian.

Kurang lebih begitu caption untuk gambar di bawah ini, yang gue sebar di media sosial. Tentu, sukses menghasilkan berbagai macam tanggapan–dari cekikian hingga cibiran.

mtf_eUUUc_327.jpg

Tas istri tersebut memang sengaja gue bawa, dengan kesadaran seratus enam puluh sembilan persen! Walhasil, begitu banyak mata yang menatap tajam ke arah gue memancarkan kata aneh yang tentunya gue balas dengan kalimat bodo amat. dalam hati.

Dari keluar rumah, turun dari taksi, masuk bandara, naik pesawat, keluar masuk hotel di makassar, masuk bandara lagi, keluar bandara papua, ke kampung yang dituju, selalu ada saja yang menatap tas gue dengan sorotan tidak setuju.

Waktu gue hendak kembali ke Balikpapan, tepatnya waktu mau turun dari bus bandara Makassar yang mengantarkan penumpang menuju pesawat, seorang lelaki asing berteriak kepada wanita asing di depannya, “mbak, tasnya ketinggalan, mbak. mbak mbak…” Dia terus meneriakkan kalimat itu, karena tidak ada sesiapa yang merasa tasnya ketinggalan.

Sementara gue yang di belakangnya teriak, mengatakan kalau itu tas gue, gak dia hiraukan. Sampai akhirnya seseorang asing lain yang mendengar suara gue memberi tahu lelaki asing pertama bahwa tas tersebut bukanlah milik wanita berbaju cokelat muda dengan rok pendek yang menampakkan putih betisnya itu. Lelaki asing itupun meletakkan tas bibir gue begitu aja, di lantai.

Sama sekali gue gak merasa terganggu dengan tanggapan dan sorotan mata orang-orang itu. Gue nyaman, percaya diri, dan bangga. Gue hanya ingin berpendapat saja karenanya.

tas bibir

 Sepertinya batasan tentang warna, motif, hingga model, antara cewek dan cowok ini tidak adil. Model cowok tidak begitu banyak. Meski demikian, kalau dipake cewek sangat dianggap wajar. Beda halnya barang cewek dipakai cowok, langsung dianggap aneh.

Padahal, yang penting kan fungsinya. Kalo cowok pake BH padahal gak punya toket (asli), itu namanya tidak tepat. Atau cowok pake rok, pas kencing di urinal dia harus mengangkat roknya hingga pangkal, lalu pantat dan burung ke mana-mana, itu juga tidak tepat.

Kalo tas dipake sebagai tas karena butuh bawa barang, topi dipakai sebagai topi karena punya kepala, seharusnya tidak masalah. Apapun warna dan modelnya.

Di sisi lain juga, kalo ada cowok yang bawain tas ceweknya, di saat ceweknya ada di sebelah, tidak begitu dianggap aneh. Begitu si cowok berjalan sendirian, seketika dianggap aneh. Padahal judulnya sama-sama memakai tas cewek. Kalau kasusnya seperti gue, anggap aja gue sedang sama istri, tapi istri gue ketinggalan di belakang. Hidup ini jangan terlalu dibuat ribet lah.

Ehm. Tapi. Alasan jujur gue bawa tas istri, karena tas traveling gue kegedean. Mau beli tas baru, lagi gak ada dana. Ukuran yang paling pas tanpa merogoh kocek, hanya tas istri. Dan, sekian banyak paragraf sebelumnya, hanyalah pembelaan untuk paragraf terakhir ini. Hahahaha!