Mabuk Beling

Bapak-bapak lanjut usia itu menatap ke arah kiri, kepalanya tampak tenang menatap ke satu titik. Saya yang berjalan terus mendekat ke arah situ seketika salah tingkah. Begitu posisi saya lurus dengan posisi duduknya, bapak-bapak lanjut usia itu terus menatap ke arah lorong, dengan cara yang sama. Rupanya saya kegeeran.

Bapak-bapak lanjut usia itu mengenakan peci warna putih dan kain kotak-kotak melingkari lehernya. Mungkin pak haji yang sedang menunggu anaknya atau cucunya, pikir saya. Dia terus duduk di bangku depan WC umum.

Saat saya keluar dari WC umum yang gelap itu, beliau menjelaskan sesuatu tanpa saya tanya. “Lampu WC-nya dicuri orang,” jelasnya, sambil mengangkat bohlam baru di tangan kanannya. “Biasa. Dicuri para pemuda pecandu narkoba yang kehabisan uang. Konon, dalam kandungan beling bohlam lampu putih ada bahan sabu yang memabukkan.”

Saya hampir kaget mengeluarkan bola mata dan salto di udara, tetapi khawatir bapak-bapak lanjut usia itu lebih kaget dan jantungan. Baru kali ini saya dengar beling lampu bisa menggantikan sabu atau menjadi campuran sabu. Itu orang mau nyabu atau mau debus? Kalau memang bapak-bapak lanjut usia itu benar. Lagian, kalau memang demikian bisa dipakai mabuk, kenapa tidak mengumpulkan bohlam bekas yang sudah mati saja? Daripada mencuri bohlan lampu WC.

Tapi tak ada gunanya saya menyangkal, buang-buang energi saja. Saya mengiyakan. Sempat terpikirkan sebuah logika untuk membenarkan pernyataan bapak-bapak lanjut usia itu; “Mungkin kombinasi sisa tenaga listrik di dalam bohlam dan akumulasi uapan aroma tai WC umum memberi efek mabuk seperti sabu, lantas para pemabuk itu mencurinya?” Hanya itu logika yang paling mendekati menurut saya.

Gak tau menurut teman-teman. Ada penjelasan?