Malu-Malu Yang Tak Kucing Lagi

Saya punya guru keluarga baru, namanya Asep. Saya bertemu tidak sengaja dengannya, di perjalanan panjang penuh tantangan. Dia belum berkeluarga, tetapi dia punya segudang ilmu cinta tentang keluarga.  Tentu, nasib bertemu dengannya adalah keberuntungan buat saya.

Pertengahan November 2017 saya ada tugas ke salah satu Tambang Batu-Bara di daerah Tabang, Kutai Kartanegara—sekira sebelas jam perjalanan dari Balikpapan—melewati Samarinda, Tenggarong, dan Kota Bangun. Sepulang dari sana lah saya bertemu dengan Asep.

Untuk kembali ke Balikpapan, kami harus naik transport tiga kali ganti. Pertama, naik shuttle bus sejauh tujuh puluhan kilometer. Dilanjut lagi naik speed boat melintasi hulu sungai Mahakam sekira dua setengah sampai tiga jam. Setelah itu baru ganti naik shuttle bus kedua dari Kota Bangun sampai Balikpapan.

Saat hendak meninggalkan lokasi Tambang, perhatian saya terpusat ke seseorang yang tadinya tidak saya ketahui namanya. Dia menyapa sesiapa saja yang ada di sekitarnya, dengan senyum yang begitu tulus dan diikuti gerakan muka sedikit diturunkan. Energi positifnya begitu terasa. Penampilannya pun cukup menarik. Ya. Dia adalah Asep.

Ketika naik speed boat, saya paling terakhir naik karena sempat ke toilet dulu. Boat sudah penuh. Konon kapasitasnya menampung dua belas orang, nyatanya bangku hanya tersedia sebelas untuk penumpang. Bangku dua belasnya adalah tempat Mamang Kemudi. Pas saya naik, Asep meninggalkan tempat duduknya dan mempersilahkan saya duduk di situ. Lantas dia bingung sambil berdiri dan tertawa dan bertanya, “Tapi saya bisa duduk di mana, ya?” semua penumpang pun turut tertawa. Sederetan penumpang yang duduk di bangku panjang itu—hadap samping—termasuk saya, langsung merapat mencoba membuka celah supaya semuanya muat. Sayangnya tetap sesak, dan kalau dipaksa akan mengorbankan pinggang semua orang jadi encok karena duduk miring berjam-jam yang tidak ergonomis.

Mamang Kemudi menawarkan bangku tengah, yang tidak lain adalah potongan kayu nanggung yang dibalut sedikit busa dan kulit jok tanpa kaki-kaki. Kalau mau duduk di situ, harus siap selonjoroan atau menekuk kaki dengan lutut hampir mencapai hidung. Saya langsung bergegas meraih bangku tengah yang mirip bantal itu. “Saya saja yang di situ, Kang,” kata Asep, tetap dengan senyuman yang mengesankan. “Tidak apa-apa, saya saja yang di sini,” Jawab saya. Berada di antara orang-orang baik sudah lebih dari cukup rasanya.

Setiba di Kota Bangun, kami shalat dzuhur di Masjid yang lua saya perhatikan namanya. Lalu istrahat sejenak di pelataran mesjid. Asep yang duduk di pinggir anak tangga kecil mengeluarkan telepon pintar dari tasnya, menaruh telepon tersebut di atas pot bunga berbahan beton, dan menekan tombol video call whatsapp. Dia berbincang seru dengan dua sosok anak kecil, menceritakan pengalaman kerja yang begitu dia banggakan dengan bahasa sederhana yang mudah dimengerti anak kecil. Sebentar-sebentar dia mengekspresikan rasa senangnya, cilukba…waaaa… dan bahasa-bahasa tubuh yang disukai anak kecil. Saya turut senang melihatnya.

Tidak tampak sedikitpun kesungkanan seorang Asep untuk mengeksresikan kesenangannya di depan layar telepon pintar, meski di sekitarnya banyak orang. Dia bergerak maju mundur, membuka tutup mukanya dengan kedua telapak tangan, menggerak-gerakkan tangannya mengikuti irama obrolan, karena baginya obrolan dengan keluarga yang sedang dilakukan adalah hal yang sangat penting sehingga harus dilakukan dengan sepenuh hati nan riang gembira.

Usai menelepon, dia bilang sesuatu ke saya dalam logat sungat yang kental. “Senang ya, Kang, punya keponakan. Saya sudah tidak sabar pengin ketemu mereka. Punya keponakan saja sebegitu senangnya, bagaimana kalau punya anak sendiri? Pasti rasanya surga pisan.” Saya tersenyum, dan berkata iya padanya. Dalam hati saya berterimakasih padanya, telah mengarjakan sebuah kebebasan yang tak perlu dihalangi oleh kesungkanan asumsi atas banyak orang di sekitar. Toh, urusannya berkomunikasi dengan keluarga.

Di situlah kami berkenalan. Awalnya saya mengira dia seorang mining engineer, sebab potongannya seperti mahasiswa lulusan teknik pertambangan yang baru mengikuti program Graduate Development Program atau Management Trainee. “Saya bukan engineer, Kang. Saya operator alat berat, dump truck,” Ujarnya. Lalu dia menceritakan kebanggaannya bisa duduk di kabin alat berat, mengoperasikannya dengan perasaan gagah, setelah mengikuti program pelatihan dan sekian tahun menjadi supir bus di beberapa daerah. Selain berbagi energi positif lewat sikap terbukanya tentang keluarga, pemuda berumur dua puluhan tahun tersebut juga berbagi energi positif lewat kebanggaannya sebagai karyawan perusahaan Mining Services. Dia baru bekerja dua bulan satu minggu, dan ini adalah cuti pertamanya.

Singkat cerita pertemuan dengan Asep, kami tiba di Balikpapan hampir pukul enam sore—Asep turun di Bandara, akan pulang cuti ke rumahnya di Bandung. Dia turun, berpamitan, menyalami kami yang masih tertinggal di shuttle bus.

Saya mulai mempraktikkan ilmu kebebasan berekspresi dari Asep, ketika sedang di luar kota dua minggu lalu. Dan rasanya memang menyenangkan. Biasanya saya cukup sungkan untuk video call di tempat ramai, sekarang tidak demikian. Selama kondisinya tidak mengganggu orang di sekitar, saya akan sangat senang melakukannya.

Terimakasih, Asep.