Menari di Bawah Derasnya Hujan

Saya benci sekali mendapat nasehat yang tidak seharusnya saya dengar, hanya terpaksa mendengar karena berstatus orang baru di Kalimantan. “Kamu jangan mandi hujan, di sini hujannya beda dengan di Jawa dan pulau lainnya. Hujan kalimantan mudah bikin sakit dan melemahkan tulang dan gigi,” kata seorang bapak-bapak ke saya lima tahun lalu. Selang beberapa bulan kemudian, seseorang yang lain menasehati hal serupa. Setelah itu ada lagi, sampai sempat menempel di kepala saya untuk berusaha menghindari hujan Kalimantan.

Kekesalan itu lebih kepada diri sendiri, karena mitos demikian kok ya saya biarkan dalam kepercayaan isi kepala berpitak banyak ini. Sampai lebih dari tiga tahun di Kalimantan, tepatnya di Balikpapan, saya menghindari yang namanya bermain hujan–sengaja ataupun tidak disengaja. Sampai akhirnya saya punya anak, dia suka kegirangan kalau hujan turun, akhirnya saya harus sedikit bersusah payah untuk melepaskan mitos di kepala saya. Saya tidak mau melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan apa yang saya percayai. Pun harus melakukannya, saya harus melepaskan dulu kepercayaan ini. Ya, bismillah saja lah.

Pada suatu sore saya dan Alastair keluar rumah, menyusuri gang samping rumah sampai ke jembatan tanpa nama, menari di bawah hujan berdua. Kami berdua sama-sama kegirangan basah, meski sebagian anggota tubuh mengkerut tak karuan. Kebiasaan mandi hujan–lari ke sana kemari–ini adalah kebiasaan saya semasa kecil hingga lulus SMA.

Di Bima, hujan deras adalah penantian (sebelum kejadian banjir bandang belakangan ini) bagi kaum kecil yang tak mempan diomeli orang tuanya, kaum muda hingga kaum tua. Sebab, hujan deras sama dengan lari keluar rumah menuju jalan raya bertemu sejuta manusia yang jiwanya kering sekaligus basah. Ada yang berlari sejauh mungkin selama hujan belum berhenti, ada juga yang membawa bola plastik–dan mengubah jalanan menjadi lapangan sepak bola berbentuk tak wajar. Ada pula golongan penari hujan yang gak punya arah tujuan–hanya mengharap keuntungan birahi belaka; mereka adalah golongan yang tidak berlari jauh dan tidak bermain bola, melainkan bergerak random–kadang jalan kadang lari kadang diam di tempat–berharap menemukan sesosok cewek berbaju putih yang dalaman warna-warninya kelihatan, kemudian apa yang mereka lihat itu untuk di-pamer-cerita-kan ke teman-teman sekembalinya dari bermain hujan. Entah apa enaknya melihat sesuatu yang tidak mungkin dapat disentuh dengan halalnya. Eaaa… kalimat terakhir, pembualan parah!

Kali lain saya dan istri dan Alastair bermain di taman kota, lalu turunlah hujan deras. Lagi, saya dan Alastair kembali menari di bawah hujan. Padahal Al maupun saya gak bawa pakaian ganti, pulang ke rumah bertelanjang dada dalam mobil sampai akhirnya Al sempat demam karena…ya, mungkin, dia, sedang, iseng, pengin, demam, aja. Hahaha! Kami menari di bawah hujan berkali-kali dan berkali-kali.

Semakin saya bermain hujan, semakin saya merenung tentang keberkahan yang banyak dihindari orang ini. Kata orang terdahulu, hujan turun kambing lari. Nyaatanya setiap hujan, jarang saya melihat adanya kambing lari, melainkan manusia yang terbirit-birit. Apakah teori Darwin salah? Yang benar adalah manusia dulunya adalah kambing? Oh tidak… kenapa baru terpikirkan sekarang? Ini penemuan hebat, ini penemuan besar, hasil pemikiran ngawur! Abaikan saja.

Manusia berlari karena takut basah, karena takut sakit, karena tidak tahu alasannya. Beneran ada loh kategori terakhir, gak kepikiran takut basah atau takut sakit tapi karena kebiasaan aja–kalo hujan lari menghindari. Nah, itu kategori paling kasihan, melakukan sesuatu yang dia sendiri tidak tahu alasan kenapa dia harus melakukan itu. Kembali ke soal saya merenung, bahwa semakin ke sini kalau hujan saya seringkali menyemplungkan diri di bawahnya, membuka dada selebar mungkin dan tangan menengadah seakan-akan siap menerima apa saja yang perlu hinggap di genggaman tangan saya. Berkah, ini berkah! Itu yang terus saya tanamkan dalam diri. Menyambut hujan dengan cara demikian, rasanya seperti penggembala sapi yang seumur hidupnya tak pernah melihat hujan kecuali di mata ibunya yang sering ditinggal pergi bapak tak bertanggungjawabnya. Senang banget gitu.

Sedikit kesalnya banyak mulut berdatangan: nanti masuk angin, loh! nanti sakit, loh!

Kalimat begitu kalau kebanyakan didengar nanti kitanya jadi kepikiran juga. Kena sugesti negatif juga. Gak bisakah mulut itu diam saja kalau memang tak bisa ikut menikmati orang yang menari di bawah hujan?

Kemarin keluar kantor, hujan deras banget. Saya tidak berlari seperti yang lainnya, saya tidak mencari payung seperti yang lainnya, sementara jarak pintu keluar kantor menuju parkiran cukup jauh. Saya justru sengaja mandi hujan, bayah kuyup tak karuan. Sejuta mata memandang penuh keanehan, seakan-akan mata mereka melempar kalimat, “hei, zia! sebegitu tidak bahagianya masa kecilmu?” Lalu saya naik ke bus jemputan karyawan, semakin aneh bentuk rupa saya di mata banyak mata dan kepala di dalam bus itu. Untungnya tak saya hiraukan. Begitu duduk di bangku bus, saya melepas kemeja kerja saya dan membiarkan kaus dalam yang juga basah tapi tak sebasah luarannya menutupi badan ala kadarnya. Kemeja saya jadikan handuk pengering rambut. Sampai di rumah, kaus saya sudah kering, dan saya senang sekali melakukan itu. Menari di bawah hujan dan di antara mata yang memandang aneh.

Apakah kamu seseorang yang suka menari di bawah hujan atau suka menari di bawah air mata sendiri atau apa? Tolong ceritakan di kolom komentar, jangan lupa klik like, share, dan subscribe. BOOM!