Menerangi Senyum Indonesia

listrik-nasional

Sedang asik menonton film lewat pemutar DVD, saya dikejutkan oleh lampu ruang tamu yang seketika terang benderang tak wajar. Saya tidak bisa menahan mata untuk tidak spontan melempar pandangan ke arah lampu. Baru dua kali saya berkedip, ruangan seketika menjadi gelap gulita. Belum selesai saya mengeluhkan mati lampu, tiba-tiba lampu menyala kembali dengan terang yang masih tak wajar, dan… praaaaaaaaak!  

Saya berlari ke depan rumah mendekati suara pecahan mirip ledakan gelas yang dilempar seseorang yang tak mampu mengendalikan emosi hanya karena masalah kecil dengan pasangannya. Lampu depan rumah pecah, selang waktu singkat yang tak sempat saya hitung tercium bau sesuatu terbakar. Saya kembali berlari ke dalam rumah, mendapati charger laptop terbakar dan TV tabung mengeluarkan asap. Sial amat, keluh saya. Kelebihan arus yang entah apa penyebabnya itu menyebabkan kerusakan barang-barang elektronik. Setelah lampu kembali menyala sekian jam kemudian, saya mengecek beberapa barang elektronik lainnya. Rupa-rupanya speaker aktif dan charger HP ikut tewas. Benar-benar sial, keluh saya.

“Setelah dewasa harus berurusan dengan kelebihan arus listrik, waktu kecil belia dulu hidup di kampung yang belum memiliki arus listrik,” ucap saya pada tembok dan jam dinding dan figura yang kebetulan berada di depan saya. Kalau istri sampai mendengar, mungkin saya akan dianggap gila. “Iya, aku gila karena cintamu!” Lah?

Saya menelusuri jejak ingatan tentang suramnya hidup tanpa adanya listrik. Waktu itu umur saya lima tahun, hidup di Desa Parangina, Kecamatan Sape, Kabupaten Bima–ujung timur Pulau Sumbawa. Seringkali ibu meminta tolong untuk dibelikan minyak tanah jelang maghrib untuk keperluan menghidupi lampu minyak yang terbuat dari kaleng bekas susu–yang di dalamnya dilengkapi sumbu ala kadar–supaya rumah bisa terang meski gak terang-terang amat.

Di suatu sore yang sudah cukup gelap, saya pergi ke warung membeli minyak tanah bersama kawan seumuran sekaligus tetangga, Wawan namanya. Saat di jalan pulang menuju rumah, melewati jalan sempit di samping rumah kayu tua tak berpenghuni, saya melihat sosok putih tipis serupa nenek usia sangat lanjut menempel di pagar bambu rumah kayu tersebut. Sosok putih misterius itu tiada bermuka, hanya rambut yang memenuhi kepala hingga badannya. Saya tidak tahu apakah dia menghadap depan atau belakang. yang jelas, kaki saya kaku, mata saya lupa caranya berkedip, sepertinya air kencing hendak meloloskan diri. Wawan berlari dengan kedua kakinya dan teriakan mulutnya, rupanya dia melihat hal yang sama. Saya pun memberanikan diri untuk maju, berlari sekencang-kencangnya–mengikuti Wawan yang tak berpikir panjang.

Hanya ketakutan yang melanda diri saya, sampai-sampai tak berani menceritakan kejadian tersebut kepada siapapun. Saya bungkam lalu meringkuk dan berniat tidur lebih awal. Tidak sempat saya mengobrol dengan Wawan karena dia lari duluan–tak terkejar–dan langsung ke rumahnya.

Keesokan harinya, Wawan sakit. Kata ibu saya, ia panas dingin tak berkesudahan. Dukun anak dan mantri desa tak ada yang bisa menyembuhkan sakitnya.Berhari-hari ia sakit, hingga di suatu pagi suara tangis meledak dari arah rumahnya Wawan. Keramaian orang-orang pun mengikuti tangisan tersebut. “Wawan meninggal,” kata Ibu saya. Saya tidak ingat persis, bagaimana saya bersedih waktu itu. Saya hanya ingat ketakutan yang menjadi-jadi, namun tak membuat saya buka mulut tentang apa yang kami berdua lihat kemarin.

Laju waktu mengubah Zia kecil menjadi Zia remaja. Kepergian Wawan merupakan sesuatu yang tak mungkin terlupakan, sampai kapanpun itu. Meski saya sudah berpindah tinggal ketika remaja, sesuatu tentang Wawan masih terus melekat. Setiap bertemu dengan Ibunya Wawan, saya pasti dipeluk olehnya. “Kalau Wawan masih hidup, dia sudah sebesar kamu,” kata Ibunya Wawan, air matanya menetes di jidat saya. Sampai saya pantas disebut dewasa pun hal itu terus terjadi ketika saya pulang kampung. Ibunya Wawan tak pernah segan memeluk saya dengan rindunya pada anaknya dengan tangisnya pada masa lalunya dengan kalimatnya yang sejenak menghentikan waktu itu. “Kalau Wawan masih hidup, dia sudah sebesar kamu.” Kalimat yang terus melekat di pundak saya hingga kini.

Kurang dari dua tahun lalu Ibu saya menelepon memberi kabar tentang ibunya Wawan. Saya kaget. Biasanya Ibu membahas soal Wawan dan ibunya dengan saya ketika saya di rumah, bertatap muka, tidak pernah bicara soal itu lewat telepon. “Ibunya Wawan meninggal. Jika kau punya rezeki lebih, kau kirimi bantuan ke keluarganya,” kata suara Ibu yang keluar dari speaker telepon genggam. Hening. Tak ada kata. Tak ada tenaga. Meski kepergian ibunya Wawan mungkin akan mengantarkan kerinduan mendalam itu pada pertemuan di alam sana, tetap saya bersedih.

Itulah kenapa saya tidak begitu suka gelap yang gulita, itulah kenapa saya tak senang pada terang yang kurang benderang. Terlalu mudah ingatan ini terbawa pada sedih-sedih lalu yang berkaitan dengan ketiadaan listrik. Kau tahu, aku punya adik yang belum dua bulan diberi nama Sultan Takdir Alisyahbana, meninggal dunia di rumah sekaligus kampung yang gelap gulita. Ia pergi sebelum menyaksikan bahwa di dunia ini ada kecanggihan yang memudahkan hidup umat manusia yang diberi nama listrik. Ibuku pasti sedih, meski tidak sesedih Ibunya Wawan. Ibuku punya anak lelaki banyak, aku dan abangku. Beberapa tahun kemudian punya anak satu lagi, cowok pun. Sedangkan Wawan, dia adalah anak lelaki satu-satunya. Kakanya cewek. Beberapa tahun setelah kepergian Wawan, ibunya melahirkan anak ketiga. Cewek. Setelah itu tak bisa punya anak lagi. Akhirnya beliau memutuskan untuk membesarkan anak cowok keluarganya. Aku bisa membaca rindu tak berkesudahannya dari keputusannya membesarkan anak cowok orang lain itu.

Ah, saya jadi terbawa sedih kembali. Kalau kamu menyadari, di paragraf sebelum ini saya tidak sadar menggunakan kata aku untuk menyebut diri saya, itu karena saya terlalu terbawa suasana. Begitulah.

Pokoknya saya tidak suka ketidakmerataan listrik. Tidak suka listrik padam. Terlebih lagi senyum yang padam. Indonesia ini harus selalu tersenyum, harus senantiasa terang, harus terwujud senyum Indonesia yang terang.

Beberapa hari lalu banyak berseliweran di linimasa media sosial, infografis mengenai status akses listrik. Masih ada lebih dari delapan juta rumah tangga–yang tersebar di seluruh nusantara–di lebih dari dua ribu desa dan seratus kecamatan, belum mendapatkan akses listrik. Menyedihkan sekali.

Selain belum merata, tarif listrik di negara kita juga mahal: Rp. 1.425 – 2.037/kWh. Harga tersebut merupakan harga tarif listrik termahal di Asia. Di negara tetangga, bahkan ada yang harganya hanya Rp. 783/kWh.

Padahal kita punya sumber daya alam melimpah yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik murah. Ya, batu-bara. Itu sudah bahan termurah untuk membangkitkan listrik. Di masa-masa krisis tiga tahun belakangan ini, santer berita tentang sulitnya menjual batu-bara–harganya murah pula. Karena terlalu mengandalkan ekspor. Padahal China sudah membatasi permintaan batu-bara, India melirik ke negara penghasil batu-bara lain. Batu-bara indonesia paling banyak diserap oleh dua negara tersebut. Kenapa tidak dimaksimalkan saja penggunaan dalam negeri?

Ya, saya tahu, adanya program pemerintahan tentang proyek 35.000 megawatt. Itu pasti akan menyerap banyak sekali batu-bara. Tapi apakah tidak bisa dipercepat? Maaf, saya sudah tidak sabar ingin melihat senyum Indonesia yang lebih terang.

Jika hulu hilir batu-bara ini terjadi di dalam negeri secara maksimal, saya bisa membayangkan betapa banyak serapan tenaga kerja baik dari hulunya maupun di hilirnya. Kau tahu sendiri, puluhan hingga ratusan ribu pekerja dirumahkan karena banyak tambang ditutup–baik sementara maupun permanen. Perusahan-perusahaan penunjang tambang juga banyak gulung tikar. Pengangguran merajalela. Bersyukurnya, baru-baru ini harga batu-bara kembali merangkak naik. Tambang-tambang mati suri dibuka kembali, perusahaan perusahaan kecil kembali memiliki harapan, kawan-kawan yang tadinya menganggur mulai dipanggil kembali.

Kemarin saya ketemu dengan rekan kerja lama, yang hampir dua tahun menganggur. Saya menyalaminya dengan gegap gempita–turut senang karena akhirnya ia bisa berkarya lagi dengan tenaga dan pikirannya di tempat yang sama. Mungkin ini bagian dari jawaban doa calon bayi yang sedang dikandung istrinya, pikir saya.

Semakin banyak orang tersenyum, semakin benderang senyum Indonesia.

Opsi teknologi ramah lingkungan untuk pemanfaatan batu-bara sebagai sumber energi listrik sudah mulai bermunculan. Sesuatu yang tidak perlu terlalu dikhawatirkan lagi, menurut saya. Apalagi dengan penggunaan batu-bara, dikomparasi dengan banyaknya jalur pasokan sekaligus pelanggan di negeri ini, harga tarif listrik bisa turun sampai di bawah angka 500 perak per kWh. Apa gak menyenangkan, punya akses listrik merata dan murah meriah?

Selamat Hari Listrik Nasional!