Mengenal Adaro Lebih Dekat

Gema suara petugas bandara begitu merdu meski tak saya kenali, menginstruksikan kepada para penumpang yang akan menuju Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin Kalimantan Selatan untuk segera menaiki pesawat melalui pintu 21. Bagian kecil kepala saya berkata, kok semacam disuruh masuk pintu theater bioskop ya? Waktu menunjukan pukul 19:30 WIB, mata saya sudah kantuk tak tertahankan. Itu pula yang membuat saya kegirangan dengan suara merdu tadi, serasa akan menuju kasur menikmati tidur pelepas lelah setelah seharian meeting serius di kantor Bintaro tanpa makan siang sebab sedang bulan Ramadan. Buka puasa yang buru-buru di Bandara Soekarno-Hatta pun menambah porsi ngantuk karena sedikit menyunyah banyak menelan dengan jumlah makanan yang tak sedikit. Begitu menempelkan pantat di bangku pesawat, saya langsung menyerahkan diri pada putri tidur dan pulas begitu saja. Mimpi demi mimpi saling tumpang tindih berebut tayang di alam tak nyata seorang saya, sampai-sampai saya bingung–sebenarnya, saya sedang bermimpi apa dan di mana? Setelah kelelahan menghadapi kebingungan di dalam mimpi, saya terbangun, mendapati pesawat sudah berhenti dan ruang kabin begitu terang dan nyata. “Ya Allah sudah nyampe di Banjar, cepat banget ya kalau tidur pulas begini,”  kata saya kepada punggung bangku depan. Saya mengucek mata, sedikit banyak bingung melihat semua penumpang lain tak ada yang beranjak dari tempat duduknya. Saya mengecek jam, ya, sudah waktu tibanya saya di Banjarmasin. Apakah orang-orang begitu lelah menjalani puasa hari ke dua puluhnya sehingga pada enggan membangkitkan diri? Ada yang aneh. Selidik punya selidik, ternyata pesawatnya masih nyangkut di Bandara Soekarno-Hatta, karena cuaca sedang tidak baik dan jalur penerbangan hanya dibuka satu, sehingga sejumlah banyak pesawat harus mengantri lama.

Terkadang saya berpikir, ada kalanya sebuah perjalanan (jalan-jalan) seperti bisnis atau perjalanan hidup itu sendiri: untung banyak berbanding lurus dengan risiko yang banyak. Untuk menuju perjalanan jalan-jalan yang hebat mengesankan, butuh melewati tantangan yang tidak sedikit. Memang, kalau bisa mudah ngapain susah? Tetapi, sayangnya kita sedang tidak hidup di surga. Saya akan menuju Tambang Adaro, memenuhi undangan site visit yang begitu menggembirakan hati, bakal keliling tambang nan luas membentang itu dan bakal ketemu Pak Boy Thohir selaku Presiden Deriktur Adaro yang harum namanya cukup akrab di mata dan telinga. Ini akan menjadi perjalan hebat dan pengalaman luar biasa buat saya, wajar saja muncul halang merintang. Jadi, saya maklumi saja dengan menikmati segala keadaan yang ada. Tak ada yang saya kejar di malam itu, yang penting saya dan semua orang selamat.

Kenapa saya bilang ini akan menjadi perjalanan hebat saya? Sebagai lelaki pemalu yang berkecimpung di dunia pertambangan, saya cukup banyak membaca dan mendengar tentang kehebatan Adaro, sayangnya belum pernah punya kesempatan untuk melihat langsung. Sampai akhirnya dapat undangan bersama beberapa teman blogger di rentang waktu 12-15 Juni 2017 lalu. PT Adaro Indonesia adalah tambang yang terkenal dengan sebutan Envirocoal–tambang batu bara ramah lingkungan. Tambang yang berlokasi di Tanjung ini terkenal dengan pengelolaan lingungan yang hebat, sehingga mendapat penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup berupa PROPER HIJAU dan EMAS selama periode 2012 – 2016. Tingkatan PROPER: Hitam, Merah, Biru, Hijau, Emas. Kalau menggunakan bintang, prestasi yang diteroh oleh Adaro sudah mencapai bintang 4 dan bintang 5. Untuk itulah saya penasaran untuk melihat langsung lokasi pertambangannya. Belum lagi sistem pengelolaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja yang berstandar tinggi itu. Salah satu contoh, Adaro tidak membiarkan para pegawainya yang lelah bekerja dan berpikir untuk menanggung risiko kelelahan mengendarai mobil kesana kemari sendiri. Adaro menyiapkan begitu banyak driver untuk mengantar jemput staf-staf yang hendak mengawasi seluruh daerah operasional pertambangan, meeting dengan kontraktor-kontraktor, atau ada urusan ke daerah pemukiman. Ini juga yang membuat saya makin penasaran. “Manajamen perusahaannya perhatian banget sih, sampai hal-hal seperti itu terpikirkan untuk diatur sedemikian rupa?” Kata saya kagum.

Begitu tiba dan mengelilingi tambang Adaro, saya manggut tanpa geleng-geleng. “Pantas saja perusahaan ini mendapat penghargaan tinggi,” kata saya yang membuktikan apa yang baca dan dengar kurang lebih sama dengan kenyataannya. Operasionalnya begitu teratur begitu rapi begitu enak dipandang begitulah. Saya memang tidak menikmati detail semua bagian karena keberangkatan saya lebih terlambat sehari dari rombongan blogger yang lainnya, tetapi dengan melewati bagian yang tidak dihampiripun saya bisa menikmatinya, ditambah lagi saya melihat foto yang dishare oleh teman-teman blogger lainnya. Waktu kami mampir di salah satu Megashop (bengkel alat berat) saya juga sangat kagum. Biasanya, bengkel alat berat tambang batu-bara itu kumal. Kucek. Buluk. Belepotan. Susah dibuat rapi secara konsisten. Di Adaro mengubah pandangan saya, dengan usaha keras dan niat baik apapun bisa diwujudkan secara ideal. Bengkelnya bersih. Rapi. Menyenangkan. Saya melihatnya seperti bengkel alat berat di tambang emas dan tembaga yang operasionalnya tidak se-belepotan tambang batu-bara. Tapi yang lucu di bagian ini adalah keresahan para mekanik dan kru bengkel lainnya. Di rombongan kami, ada lima wanita yang cukup asing di mata mereka, potongannya bukanlah potongan gadis tambang. Sejuta mata mengarah ke luar bengkel, berpusat pada lenggang-kangkung gerak-geriknya para wanita yang saya maksud. “Dasar laki-laki tambang! Matanya gak bisa cuek melihat cewek lewat,” umpat saya diam-diam. “Baik-baik kalian, konsentrasi kerja buyar bisa membawa ketidakberuntungan.” Saya maklum, di tambang minim pekerja wanita, minim pemandangan segar-segar, makanya saya tertawa saja melihat para pencuri pandang itu.

Yuk, mari kita mengenal Adaro Lebih dekat. Kita telusuri bersama sambil membayangkan, tak usah banyak foto, karena pandangan mata terkadang kurang netral. Mari bersama saya memasuki lorong pikiran. Dan, tenang saja, saya tidak melebih-lebihkan.

NURSERY

Program penghijauan Adaro sangat serius untuk mendukung pelaksanaan revegetasi dan reklamasi lahan bekas tambang. Luas area pembibitan tanaman hijau atau Nursery-nya adalah 2 hektar dengan kapasitas tampungan mencapai 70.000 – 130.000 bibit. Di area seluas itu sudah meliputi area penyapihan tanaman, persemaian, hingga penggandaan tanaman.

Adaro menargetkan produksi atau penambahan bibit setiap bulannya berkisar antara 10.000 hingga 30.000. Seeeetiap bulan! Jadi, selain memang dipakai untuk penghijauan lahan bekas tambang juga digunakan untuk penghijauan area umum–disalurkan lewat instansi pemerintah setempat, sekolah-sekolah, dan instansi lain yang memerlukan.

HUTAN TAMBANG PARINGIN

Dari pembibitan yang begitu banyak, telah menghasilkan program pengembalian hutan yang mengagumkan. Lokasi paringin yang sudah direklamasi, kini telah menjadi daerah subur dengan menjadi lahan yang kembali produktif hijau menghijaukan ditumbuhi pepohonan asri seperti sengon, akasia, eukaliptus, sungkai, cemara, gamal, turi, trembesi, jati putih, dan berbagai tanaman lokal lainnya yang tumbuh rapat tetapi tidak saling menikung. Ya, tidak ada pohon yang saling berebut pasangan seperti manusia. Haha!

Sistemnya bagus sih, ditanami dulu tanaman pionir seperti kaliandra, mersawa dan merani, baru ditanami pohon-pohon lain yang cenderung lebih kecil. Supaya tumbuhan pionir yang ukurannya besar-besar itu dapat melindungi yang kecil-kecil. Semacam negara dambaan hati gitu ya; yang besar melindungi yang kecil, yang kuat melindungi yang lemah.

Danaunya juga menyegarkan. Bikin pengin nyemplung. Bisa buat ngaca. Dan gak pernah kering meski di musim kemarau.

Di hutan tambang beringin ini, berbagai jenis satwa tumbuh baik dan Insya Allah rukun. Lebah, bekantan, belibis, burung-burung, reptilan, hingga babi hutan senang dan tenang berada di hutan ini. Itu semua menjadi bukti keberhasilan reklamasi wilayah tambang Adaro yang bernama Paringin itu.

Lantas saya bertanya, apa yang membuat perusahaan ini begitu hebat menyeriusi program penghijauan yang simultan demikian?

Jawabannya saya dapat banget ketika bertemu dan bebincang dengan Pak Boy Thohir di sore harinya. Beliau saja selaku Presiden Direktur, bela-belain mengunjungi langsung lahan bekas tambang yang menjadi percontohan di Luar Negeri. Salah satunya di Malaysia. Beliau yang mengamati, yang belajar, yang punya semangat untuk mewujudkan lahan bekas tambang nan asri. Pastinya beliau juga yang menurunkan semangat itu ke staf-staf kunci hingga ke para eksekutor di lapangan. Kalau orang tertingginya saja sebegitu komit–tidak saja berkata tetapi memberi contoh, bisa dipastikan orang-orang di bawahnya memiliki semangat yang tak kalah besar.

“Bahkan kalau ada kesepakatan dengan pemerintah, daerah bekas galian tambang bisa dibuat menjadi danau wisata dengan fasilitas memadai untuk dikelola dan dinikimati masyarakat setempat,” Ujar beliau, kurang lebih begitu yang terngiang di telinga saya.

 WATER TREATMENT PLANT (WTP)

Perkara pengelolaan dan pemanfaatan air bekas tambang terbagi menjadi dua: yang dikelola dan dimanfaatkan menjadi air bersih melalui WTP dan yang dimanfaatkan untuk peternakan ikan.

Air dari tambang yang tidak masuk WTP dialirkan ke kolam ikan, makanya masih tampak keruh begitu. Tetapi kualitas airnya baik untuk kehidupan ikan. Nila, Mujair, dan jenis ikan lainnya hidup gembul di kolam ini. Jumlah ikannya banyak. Pas saya kasih makan, banyak sekali yang muncul ke permukaan dengan bukaan mulut yang rata-rata sama. Kolamnya ada tiga: kolam pembibitan ikan, kolam pengembang biakan, dan kolam pembesaran.

Ikan-ikan yang dihasilkan dari kolam ini disalurkan ke Masyarakat lewat program CSR (community social responsibility). Tidak hanya ikan dan bibit ikan, tetapi pembekalan bagaimana mengembangkan usaha perikanan sendiri juga dibimbing oleh staf Adaro.

Kalau air bekas tambang yang dikelola dengan air bersih, diolah menggunakan sistem WTP yang berkapasitas 72 meter kubik per jam yang disimpan di 3 tangki penyimpanan yakni 2 X tangki 450 meter kubik dan 1 X tangki 72 meter kubik. Air yang dikelola di WTP Adaro ini bahkan bisa digunakan untuk air minum. Tidak murni air dari bekas tambang sih, tapi campuran air hujan yang ditampung juga, lalu dikelola menjadi air bersih yang bisa diminum.

Air bersih yang diolah didistrubusikan ke 1.110 kepala keluarga yang tersebar di delapan desa di sekitar wilaya Tambang Adaro. Bahkan untuk Desa Dahai dan Padang Panjang, Adaro mendistribusikan air bersih secara khusus langsung ke rumah-rumah. Desa-desa yang agak jauh, didistrubusikan melalui truk-truk tangki dengan pemfasilitasan bak penampung air yang memadai.

PEMBINAAN USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH (UMKM)

“Prinsip hidup saya sederhana saja, kalau kita hidup senang maka orang-orang di sekitar kita harus hidup senang,” kata Pak Boy, membuat saya terkagum. “Istilahnya, memanusiakan manusia lah.”

Menarik.

Pantas saja pengembangan UMKM di sekitar daerah Operasi Adaro sangat bagus, karena yang terlibat aktif langsung di program ini adalah Pak Boy sendiri. Beliau menceritakan kunjungan pertamanya ke Pondok Pesantren Nurul Muhibbin, di mana beliau bertemu dengan pimpinan yayasan menanyakan apa saja program pendidikannya dan bagaimana kehidupan santri setelah keluar dari pondok. Inti dari penjelasan pihak yayasan adalah, sekian banyak lulusan santri menyebar ke berbagai penjuru untuk mengajari ngaji dan agama. Dan banyak yang tinggal di masjid-masjid. Dari keterangan itu, Pak Boy mengusulkan program pelatihan tambahan untuk menunjang kehidupan dunia supaya lebih baik dalam menjalankan misi penyebaran bekal akhiran. Pihak Adaro dan Yayasan pun setuju. Adaro menyiapkan modal, fasilitas, tenaga pembimbing untuk memberdayakan pesantren dan para santri dalam mengembangkan usaha seperti usaha air minum isi ulang, budidaya tanaman hidroponik, hingga pelatihan desain kain sasirangan–kain khas yang berasal dari budaya banjar.

Sisi menariknya adalah, Pak Boy yang turut mencari tahu apa kebutuhan yang paling dibutuhkan oleh Masyarakat sekitar, lalu itu yang dijadikan program CSR. Goks!

Adaro memang sangat berkomitmen dalam membantu mewujudkan terbentuknya masyarakat yang religius, berkembang, dan mandiri dari segi ekonomi. Untuk itulah masjid-majid megah juga dibangun untuk mengakomodir misi mulianya: Tabalong Islamic Centre di Tanjung, Masjid Al Akbar di Balangan, dan Masjid AT-Thohir yang baru diresmikan dekat akses keluar masuk area tambang.

Yang membuat bagus lagi program pengembangan UMKM di bawah bimbingan Adaro adalah adanya Rumah Kemasan yang didirikan sejak tahun 2013. Bisa dibilang Rumah Kemasan ini adalah salah satu program unggulannya Adaro, karena menjadi penggerak puluhan UMKM di sekitaran Tabalong. Ada forum diskusi UMKM juga, yang akhirnya juga melahirkan sebuah koperasi bernama Al Yakin. Koperasi tersebut dijadikan pusat oleh-oleh; makanan, minuman, madu, kain, dan kerajinan lainnya. Misalkan ada 50 pengusaha dengan label makanan atau minuman atau barang kerajinan yang dihasilkan, nah 50 pengusaha itu memasukkan barangnya ke koperasi Al Yakin. Pengusaha tidak terlalu pusing mencari pembeli. Bagusnya lagi, Manajemen Adaro mengajak dan membiasakan para karyawan dan tamu untuk membawa pulang serta oleh-oleh khas daerah setempat kalau pulang atau cuti, sehingga pembelinya kian banyak.

Ilmu bisnis dari pimpinan dan staf Adaro benar-benar dibagi ke Masyarakat. Kentara banget kalau Adaro benar-benar niat membuat program Pasca-Tambang. Jadi, Masyarakat selalu ditanamkan pemahaman tentang umur tambang yang terbatas sehingga jangan terlalu bergantung di situ. Bangunlah usaha sendiri, berpijaklah di telapak kaki sendiri, berjayalah dengan atau tanpa adanya tambang. Itu terus yang ditanamkan.

Pantas saja pengaruhnya Pak Boy di sana besar, beliau begitu dekat dengan masyarakat. Pergi makan bakso favoritnya saja dia pergi seperti orang pada umumnya saja, tanpa pengawalan yang berarti. Ya biasa saja gitu. Sampai bakso favorit beliau yang bernama Bakso Pak Kumis begitu tenar dan ramai. Bukan hanya mengayomi dan membatu mengembangkan usaha lewat pembianaan, melainkan beliau juga mencicipi dan menikmati sekaligus mempromosikan.

Hal itu saya  lihat sendiri juga waktu buka puasa bersama dua ribu lima ratus warga di Masjid Al-Akbar balangan. Beliau begitu hangat, ramah, dan dekat nyata dengan masyarakat. Di kesempatan tersebut beliau kembali menyampaikan tentang motivasi menjadi mandiri yang bertahan lama.

Saya cuma bilang gini, “Enak ya kalau banyak uang dan punya pengaruh besar di mana-mana, bisa membantu banyaaaaaaak orang banget.” Begitu banyak pelajaran hidup yang saya petik di sini. Begitu banyak percontohan yang bisa saya bawa ke organisasi tempat saya kerja. Begitu banyak motivasi yang memicu semangat lebih saya untuk terus berbagi.

Begitu bersyukur saya mendapat kesempatan visit ke Adaro, dan bertemu Pak Boy. Rasa lelah perjalanan jauh saat puasa yang saya tempuh terbayarkan lebih dari kata lunas: senin sore terbang dari Balikpapan ke Jakarta, selasa seharian saya meeting, selasa malam saya berangkat ke Banjar yang karena kendala di awal paragraf saya tiba di Banjar hampir jam 2 pagi kemudian lanjut perjalanan darat selama 5 jam bersama driver yang sudah bekerja lebih dari 20 tahun di Adaro. Tiba di Tanjung jam 7 pagi. Buka puasa dan sahur di jalan, tidur juga di jalan, benar-benar terbayar dengan nilai kehidupan yang saya dapat di sana.

Semoga ada kesempatan berikutnya untuk kembali ke sana, menyerap ilmu dan nilai kehidupan yang lebih banyak lagi.