Menggila di Bilik ATM!

Pemilik rumah kontrakan (sebut sapa Pak P) yang masih saya tempati hingga hari ini menawarkan tandon kapasitas 1200 liter beserta dudukannya yang terbuat dari kayu ulin separuh harga baru, karena tahu saya bakal pindah ke rumah sendiri–kurang dari dua bulan lagi. Jelas dia tahu, karena saya kasihtahu saat menyampaikan bahwa saya tidak memperpanjang masa kontrak. Ia yang sedang butuh uang tambahan tak segan meminta saya membayar segera, jika berminat. Tentu saya berminat dengan harga murah, kan bisa dijual untung kalaupun tidak dipakai. Ahaha!

Sebelum ia berubah pikiran, terutama tentang harga, saya bergegas ke ATM center di depan komplek perumahan. Ifat, istri saya sempat komplain karena tidak diajak beserta Alastair. “Buru-buru nih, nanti malah lupa,” jelas saya sekenanya. “Lagian sebentar saja, kok.”

ATM sepi, saya masuk bilik tanpa merapikan rambut lewat pantulan kaca–hal yang biasa saya lakukan ketika mengantri.

Setelah menekan beberapa kali tombol ATM, tinggal proses terakhir, kartu ATM saya tertendang keluar belaka. Oh, ada apa ini? Saya ulangi lagi, tertendang lagi, dan saya kesal lagi. Oh, ada apa ini? Begitu lagi dan lagi. Sampai-sampai saya merasa gila sendiri di bilik ATM, gara-gara proses transfer uang ke Pak P tak kunjung berhasil. Oh, ada apa ini?

Berulang kali saya masukin nomor rekening, berulang kali juga ditolak secara otomatis. Selalu di bagian ini saya harus merasa gila. Saya sesuaikan lagi inputan saya dengan nomor rekening yang ada di SMSnya Pak P, sudah, lalu saya cocokkan ulang untuk meyakinkan, sama persis, tetapi gagal juga.

Merasa jiwa sudah gerah tak terkira, saya tinggalkan bilik ATM tanpa pamit tanpa mengucap salam. Lalu, saya kirim saja SMS ke Pak P:

“Pak P, berulang kali saya sudah mencoba transfer uang ke rekening bapak: 0101096002XXX, gagal melulu. Besok saja saya coba lagi.”

“Mas Zia, nomor rekening saya yang ini: 149000XXXXXXX.”

Astaghfirullah. Saya siwer, Pak P, rupanya nomor meteran air PDAM yang saya masukin.”

“hehehehehehehe.”

Konsentrasi bedebah! Balasan SMS Pak P membunyikan HP saya ketika sudah tiba di rumah, dan sukses membuat saya tertawa hingga memukul tembok rumah. Ifat mengira saya gila. Tak lama ia tertawa mencengkeram kain sprei setelah saya menjelaskan kesintingan suami teledornya ini di bilik ATM.

Saya tidak sering berkomunikasi dengan Pak P lewat SMS, kecuali mengirim nomor tertentu: rekening bank, rekening Air PDAM yang baru terpasang (sebelumnya pakai air non PDAM), rekening listrik, dan nomor kontak tukang-tukang. Banyaknya nomor yang masuk lewat SMS yang diberi keterangan atas nama Pak P membuat saya siwer.

PESAN MORAL: Tidak ada.