Mensyukuri Keberuntungan

Istri adalah inspirasi terbesar saya. Ia telah membuat saya belajar sangat banyak hal, salah satunya tentang mendengarkan. Keberhasilan terbesarnya adalah mengubah seorang saya yang keras kepala sekaligus telinga, menjadi manusia yang melunak–setidaknya untuk ukuran saya yang tahu persis perubahan itu.

Saya bocorkan sedikit rahasia yang sebenarnya bukanlah sebuah rahasia; bahwasanya, tak terhitung banyaknya potongan tulisan di blog dan media sosial yang bersumber dari ucapannya. “Bagus nih buat bahan tulisan,” kata saya spontan dan berulang kali, lalu saya mengambil telepon selular saya dan menuliskan apa yang dia ucapkan dengan bahasa yang saya sesuaikan tanpa mengubah makna sesungguhnya. Khusus kalimat-kalimat pendek, biasanya saya jadikan bahan tweet.

Salah satunya lagi adalah percakapan berikut ini, yang menjadi inti dari tulisan kali ini.

Sebelum makan siang berdua, kami berbincang panjang lebar tentang keluarga, dan berakhir dengan pembahasan soal keberuntungan yang menyadarkan.

“Kamu beruntung bisa ketemu Ibu setiap hari, tidak seperti aku yang ketemunya sesekali,” kata saya. Kemudian saya mengubah posisi duduk.

“Kamu lebih beruntung, karena Bapak sama Ibu masih hidup,” kata istri saya menimpali. “Setidaknya kamu masih bisa melihat keduanya, meski jarang.”

Iya juga. Saya hampir meneruskan kalimat lanjutan, tentang orang tua yang pisah sedari saya berumur lima tahun. Untungnya saya berhasil menahan diri. Selain cerita itu sudah sering saya bahas, juga karena saya merasa memang tidak perlu melihat sisi ketidakberuntungan selama kita masih mampu menemukan sisi keberuntungan itu sendiri. Lagian, kalau saya menjawab dengan ketidakberuntungan atas kasus cerai hidup, istri saya akan menjawab lagi: cerai hidup mungkin masih lebih baik, daripada cerai mati.

Usai makan siang, saya iseng membuka-buka lagi buku The 8 Habbit karya Stephen R. Covey dengan melompati halaman demi halaman, dan mampir di halaman tertentu sesuka hati saya. Di pemberhentian memutar balik halaman ke sekian kalinya saya menemukan Doa Kedamaian Hati yang digunakan oleh Alcoholics Anonymous:

Ya Tuhan, berilah saya kedamaian hati,

Untuk menerima hal-hal yang tidak bisa saya ubah,

Keberanian untuk mengubah hal-hal yang bisa saya ubah,

Dan kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaan antara keduanya.

Saya pun menutup buku itu dengan senyuman yang tak sempat saya ukur berapa detik lamanya. Ya. Saya memang orang yang sangat beruntung.