Merayakan Hidup Dengan Cara Bersyukur

Hal paling nomor satu yang harus harus harus kita syukuri karena kita diberi kesempatan hidup adalah memiliki hidung, tenggorokan hingga paru-paru. Dengan itu, kita bisa menghirup udara memasuki lubang hidung, melewati kerongkongan atas atau naro pharinx, kemudian melewati tenggorokan, glotis, trakea, lalu masuk ke bronchus dan bronchiolus. Ujungnya, udara berakhir pada alveolus. Manusia yang penuh dengan istilah keren menyebut menarik napas sebagai inspirasi, dan mengeluarkan napas sebagai ekspirasi.

Saat inspirasi, otot diafragma berkonstraksi alias melengkung menjadi lurus. Kemudian rongga dada terangkat dan membesar, atas otot antar tulang rusuk yang berkontraksi. Karena rongga dada mengembang, maka tekanan udara di dalam lebih kecil dari tekanan udara luar alias mengecil, sehingga udara luar bisa masuk ke dalam paru-paru.

Ketika ekspirasi, kita mengeluarkan udara, otot diafragma berelaksasi alias lurus menjadi lengkung. Rongga dada mengecil atas otot antar tulang yang berelaksasi, maka tekanan udara di dalam lebih besar dari tekanan udara luar alias membesar, akibatnya udara keluar dari dalam.

Begitulah proses kita menghirup gas oksigen (O2) dan mengeluarkan gas karbon dioksida (Co2), yang mana oksigen tersebut kita gunakan dalam proses menguraikan zat glukosa sehingga pada akhirnya kita mendapatkan energi. Proses kompleks namun terasa simpel itu, kita lakukan setiap detik dan detaknya.

Sederhananya: BERSYUKUR KITA MASIH BERNAPAS!

Segala sesuatu yang Tuhan anugerahkan ke kita itu luar biasa, tidak sederhana. Kita hanya perlu mengaguminya dengan cara paling sederhana, yaitu bersyukur.

Mengingat untuk meningat (eling).
Mengingat untuk bersyukur.

MATA
Saat kita melihat laut, pantai, gunung, sawah, pelangi, bangunan megah, kendaraan mewah, manusia rupawan lain dan keindahan lainnya, yang utama kita syukuri adalah anugerah kemampuan untuk melihat.

Sehingga, saat yang kita lihat hanya sudut kamar atau kekeringan belaka, kita masih tetap bisa bersyukur.

TELINGA
Setiap kali telinga kita menangkap suara lantunan merdu ayat-ayat indah, lagu-lagu, kicauan burung, deru angin, ilmu verbal, ungkapan-ungkapan bijak, yang utama kita syukuri adalah anugerah kemampuan mendengar.

Sehingga, saat yang kita dengar hanyalah kritik atau nasihat pahit belaka, kita masih tetap bisa bersyukur.

LIDAH
Berbagai jenis makanan dan minuman enak yang tadinya menggoda mata dan hidung, lantas menggugah selera, masuk ke mulut, dikecap oleh lidah, didalami makna rasanya oleh pangkal lidah, dan mak nyus! Dan, yang utama kita syukuri adalah anugerah kemampuan untuk merasa (mengecap rasa).

Sehingga, saat yang kita rasa hanyalah pahit, asin, atau bahkan hambar belaka, kita masih tetap bisa bersyukur.

Begitu juga dengan indera peraba, dan segala bentuk kenimatan lainnya.

Apalah arti pemandangan indah tanpa mampu kita melihatnya.
Apalah arti suara merdu jika kita tak mampu mendengarnya.
Apalah arti kuliner enak selama kita tidak sanggup mengecap rasanya.
Dan, apalah arti kita tanpa-Nya?

Pemandangan indah, suara merdu, dan makanan minuman enak memang pantas kita syukuri. Tetapi itu semua hanyalah representasi dari betapa mahalnya sesuatu anugerah yang melekat di dalam diri kita. Iya. Dunia di luar diri adalah representasi dari betapa besarnya dunia di dalam diri kita, Mahluk Tuhan semata.

CINTA
Setiap rangkaian kebahagiaan yang kita alami karena memiliki keluarga dan hubungan baik, yang utama harus kita syukuri adalah anugerah cinta.

Karena anugerah indah ini, kita bisa mendapatkan cinta melalui proses kita memberi cinta terlebih dahulu. Ingat, memberi baru menerima.

Sehingga, dengan atau tanpa memiliki keluarga, kita tetap bisa bersyukur.

Dengan modal cinta, kita bisa memanen kebahagiaan di mana saja, kapan saja, dan dari siapa serta apa saja.

Selamat menjalani hidup penuh syukur, penuh cinta, dan penuh persatuan yang mendamaikan.