Modus Penipuan E-Cash Money

Belakangan modus penipuan semakin berkembang. Biasanya kerap kita dengar penjual online abal-abal yang menipu calon pembelinya. Sekarang justru terbalik, penipu yang berpura-pura jadi pembeli dan berniat menipu penjualnya. Hari ini saya hampir jadi korban modus ini, setelah saya memasang iklan etalase tidak terpakai di OLX.

Begini ceritanya…

Seseorang meng-capture foto etalase yang saya iklankan di OLX tadi pagi. Dia menyapa sopan, selayaknya calon pembeli pada umumnya yang membutuhkan barang yang kita jual. “Pagi, Mbak. Etalasenya masih? Saya minat, Mbak,” katanya membuka obrolan via whatsapp. Tentu saya merespon cepat dengan semangat yang tak terbantahkan. Bahkan saya menjelaskan lagi kondisi barangnya untuk meyakinkan dia.

“Ibu di mana?” tanya saya. Kebiasaan bertanya lokasi ini ketika saya sebagai penjual, adalah untuk memudahkan saya menjelaskan lokasi saya. Jadi gak perlu menjelaskan alamat sampe mulut berbusa, terus orangnya tetap kebingungan.

“Saya di Balikpapan, Mbak,” jawabnya. Biasanya saya akan menanyakan kembali, Balikpapan sebelah mana. Dan tadi itu sempat kepikiran untuk bertanya. Tetapi berhubung di tahap obrolan itu saya mengecek DP-nya untuk menekankan lagi bahwa saya berkomunikasi dengan perempuan atau laki-laki. Kalau saya dianggap mbak-mbak, sudah biasa. Gak kaget. Bukannya terus bertanya lokasi keberadaannya dengan kata ‘di mana?’, saya justru yang melempar pertanyaan sekaligus pernyataan ini, “Balikpapan Baru?” Iya, jawabnya. Saya berpikiran netral saja, selain karena puasa, ya karena melayani calon pembeli harus ramah, yekaaan. Padahal kalau saya nanya detail tentang Balikpapan, dia pasti sudah bingung.

Dari situlah masalah dimulai, dia merasa saya orang yang kemungkinan bisa ditipu.

“Begini saja, Mbak, kalau cocok nanti saya suruh karyawan saya menjemput barangnya di rumah, Mbak.” Saya semakin yakin kalau dia tinggal di Balikpapan Baru. Tampang meyakinkan, pengusaha, cocok tinggal di komplek elit Balikpapan Baru. Tentu saya mengiyakan.

Atas kalimat yang meyakinkan, bakal mengirim karyawan, saya semakin terlena. Saya justru mengirim alamat rumah saya. Ini perilaku tidak baik, belum ada kejelasan sudah memberi alamat rumah. Seharusnya tidak demikian. Alamat rumah itu jangan sembarang diumbar, kecuali sudah jelas berurusan dengan orang baik dan orang yang jelas. Dan, alamat lengkap itu saya kirim setelah dia nego, “gak bisa kurang harganya, Mbak?” Semakin saya tidak sadar ada modus penipuan. Setelah memberi alamat lengkap, saya bilang harga bisa turun. Tetapi sedikit saja, dan saya kurangi seratus ribu dari harga awal yang saya tawarkan. Dia menawar diturunkan seratus ribu lagi dari tawaran kedua saya, dan saya tidak menyepakati itu. Akhirnya dia yang yang sepakat, “Okelah, Mbak. Deal!” tanggapnya.

Selang dua menit kemudian, dia mengirim pesan lagi: “Uangnya boleh saya transfer saja kan, Mbak?” Tentu saya jawab iya. Barang belum dicek langsung, duitnya ditransfer, siapa yang tidak terlena? Saya masih berpikiran netral, dia sepertinya sibuk. Untuk mengambil barang saja dia mengirim karyawannya. Cobaaaa…

Saya mengirim nomor rekening saya. Dua informasi pribadi saya berikan padanya. Ini bagian teledor keduanya saya soal informasi pribadi dalam hal ini. “Okelah, Mbak,” katanya santai. “Saya transfer sekarang ya, Mbak, via electronic money Mandiri. Sabar ya, Mbak.”

Saya mengucapkan terimakasih padanya, juga berucap syukur atas kelancaran urusan. Karena dia bilang transfer sekarang, saya langsung mengecek internet banking, tetapi tidak ada uang masuk. Wogh…saya mulai curiga, tapi porsinya sedikit. Saya tidak ingin suuzdon. “Ingat, ini puasa!” kata saya pada pikiran sendiri.

Dia mengirim bukti transfer seolah-olah dengan kata pengantar, “Sudah, Mbak. Silakan ke ATM Mandiri untuk mengecek.” Sontak saya bilang, saya cek di internet banking saja. Langsung. Belum sempat saya menyampaikan bahwa barusan saya cek dan tidak ada uang masuk, dia sudah menimpali. “E-Cash beda, Mbak. Harus ke ATM untuk konfirmasi saja,” katanya. Selama belum konfirmasi, uang tidak bisa masuk. Nah, di bagian ini saya manggut-manggut. Di sinilah kunci, orang itu akan meneruskan modus penipuan atau tidaknya. Secara tidak langsung, mereka mengetes apakah calon korbannya paham e-cash atau tidak. Dia membaca gelagat saya, bahwa saya tidak paham. Dia mencoba menelepon, tetapi tidak saya angkat. Karena begitu kecurigaan saya muncul, saya langsung googling dan membaca informasi tentang Mandiri E-cash di website resminya Bank Mandiri.

Kemudian dia mengirim tulisan gambar yang niatnya meyakinkan saya, tetapi justru itulah yang semakin meyakinkan kecurigaan saya padanya. Dia mengirim semacam panduan pengambilan dana e-cash, setelah dia mengirim bukti transfer yang juga mencurigakan itu.

Dua-duanya janggal.

Janggal versi struk elektronik: transkasi elektronik kok pakai struk begitu? Kalaupun memang ada struk elektronik semacam struk fisik gitu, kenapa diameternya menyimpang dari gambar latar? Font-nya kenapa beda-beda dari atas hingga bawah? Kenapa tulisannya ada yang agak buram ada yang terang sangat? Yang ketebalan warnanya berbeda adalah data yang harus dia ubah-ubah, seperti nomor transaksi sekaligus tanggal transaksi, nama calon korban, dan nominal transaksi. Dan, yang lebih menonjol editannya kasar bin ngawur adalah kalimat terakhir–transaksi berhasil bla bla bla… Kalau saya gak curiga di bagian ini, saya ini bodohnya kelas wahid!

Kejanggalan versi panduan: gimana ceritanya link/URL diawali dengan kalimat panduan yang panjang begitu tanpa ada alamat website itu sendiri? Bagaimana penjelasan kelas perbankan pakai singkatan dan typo di sana sini? Kenapa juga bahasa yang harus dipakai adalah bahasa inggris, sementara bahasa itu adalah pilihan? Itu kan jelas-jelas dia mau menipu yang orang yang sekiranya tidak paham bahasa inggris.

Daripada terus membuang waktu, saya langsung mengirim link resminya Bank Mandiri tentang Mandiri E-Cash dengan tagline handphone-mu, uangmu:  http://mandiriecash.co.id/home/ 

Dia sudah kadung berusaha, masih tidak mau mundur dan mengaku atau segera menghilang. Dia masih nyerocos, “Cuma buat konfirmasi, Mbak. Masukin rekening pengirim, masukan jumlah uang yang mbak terima. Nanti saya bantu Mbak di ATM.” Wah wah. Nekat dia. Padahal saya barusan baca kalau transaksi e-cash ini adalah sama dengan sistem T-Cash nya Telkomsel, untuk bertransaksi di merchant-merchant karena biasanya suka ada diskon menggunakan uang elektronik. Dan, dalam sistem e-cash ini tidak ada yang namanya nomor rekening, tidak ada akun bank, karena registrasi dan datanya menggunakan nomor HP saja. Dan, nih, ya, mana ada penerima transferan uang harus kerepotan ke ATM? Bodoh banget kalau saya tidak merasa dibodohi. Saya mau mengomel, tapi berusaha menahan diri. Jadi saya tetap bertahan menggunakan bahasa yang baik dan sabar. Itupun dia masih gaya-gaya merespon, akan membantu saya di ATM. Bantu ngejelasin. Biar gak salah paham. Hih!

Saya sambil menanggapi dia, sambil baca-baca artikel penipuan e-cash money. Dan sedang mencari yang ringkas, supaya saya kirim ke dia untuk menamparnya secara berwibawa!

Begitu dia mendapat kirim tautan penipuan e-cash yang saya kirim, seketika foto DP-nya hilang, dan dia memblokir saya. Padahal saya mengirim doa-doa baik yang agak panjang di akhir obrolan. Rugi sekali dia tidak merasakan doa baik dari lelaki kidal yang kalau makan tetap pakai tangan kanan dan cebok normal pakai tangan kiri ini.

Ya, hikmahnya adalah: saya gitu yang dia coba tipu, sehingga saya bisa menyebar informasi modus ini ke sebanyak mungkin orang. Membuka mata banyak orang untuk lebih waspada dalam bertransaksi online. Untuk lebih waspada berinteraksi dengan orang asing yang sok baik, yang sok menggunakan kata-kata manis. Preeeet. Dengan saya menyebar kisah pendek di twitter saja, sudah banyak yang menyimpan nomor si penipu dan mengerjainya–sampai dia sibuk memblokir nomor orang banyak. Dasar penipu tak pandai, kalau sudah ketahuan banyak orang begitu, buang dong nomornya, beli nomor baru. Gimana, sih? 😀

Waspada, waspada, dan waspada, teman-teman! Kalau ada sesuatu yang mulai mencurigakan, jangan abai terhadap rasa curiga tersebut. Kalau ada yang tak kau mengerti, bingung, jangan abai terhadap kebingungan dengan mebiarkan orang asing menjelaskan dengan cara membodohimu. Lawan. Jangan kasih kendur!