Mudik Meriah dengan Mobil Murah

Pertemuan keluarga, di tempat yang jauh, di acara yang mengumpulkan keluarga dekat keluarga jauh, keluarga dekat yang merasa jauh, keluarga jauh yang merasa dekat, jauh dari kampung, jauh dari kata dekat, pokoknya jauh, selalu menimbulkan obrolan yang mengerucut pada pembahasan mudik, baik berupa pertanyaan maupun pernyataan. Mungkin rindu kampung yang terucapkan dalam bentuk kalimat lain, akan berakhir pada tanya yang nyata atau nyata yang penuh tanya seperti itu—tentang mudik dan lebaran yang tak terpisahkan .

Beberapa waktu lalu saya beserta istri dan anak kecintaan ke Jakarta, menghadiri undangan pernikahan keluarga, tepatnya sepupu, yang umurnya dua puluhan sekian—ya, beda beberapa hari lah umurnya dengan saya, atau mungkin beda menit bahkan detik? Oke, lupakan saja.

Pertanyaan “Kapan terakhir mudik?”dan “Kapan mudik lagi?” seakan-akan menjelma menjadi masalah yang enggan untuk diselesaikan segera oleh banyak orang—dilempar sana dilempar sini. Si A melempar pertanyaan ke si B, si B melempar Balik ke si A dan si C, si C melempar ke si D yang sebenarnya tak begitu dekat dengannya karena gak mau kalah dengan si A dan si B tetapi gak mungkin melempar pertanyaan balik ke si A dan B karena dia sudah mendengar jawabannya secara tidak sengaja; awalnya dia belum diajak bicara, hanya mendengarkan sepintas, lalu pura-pura kaget saat diajak bicara diawali dengan pertanyaan. Si D sepertinya kesal karena jawabannya ke si C tidak begitu didengarkan, si C terlalu basa-basi, sibuk mencerna bola pertanyaan sudah terlalu jauh diping-pong.

Setelah acara nikahan selesai, mengobrol lah saya dengan keluarga jauh (generasinya bapak) yang istrinya orang bogor di depan aula Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta—menceritakan pengalaman mereka mudik naik mobil tua sekitar 20 tahun lalu, dari bogor ke Sape-Bima, Nusa Tenggara Barat. Perjalanan yang memakan waktu hingga tiga hari, jika hanya tidur semalam selama perjalanan itu. Ceritanya cukup detail, karena kisah perjalanan mereka belum sempat diceritakan ke saya pada waktu mudik dulu. Belum sempat atau gak perlu diceritakan…ke saya. Maklum saya masih suka lari telanjang. Selain mereka malas cerita-cerita ke orang yang suka telanjang, mereka juga malas cerita kisah begituan ke anak kecil yang melihat ibu kota kabupatennya sendiri pun belum pernah.

Gak lama kemudian, muncul-lah keluarga lain, generasi saya, yang katanya, kalau punya mobil sendiri sebenarnya pengin juga merasakan mudik ke kampung kami bersama keluarga, sekalian mampir di daerah wisata setiap kota yang dilewati—Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Lombok, Sumbawa. Dia gak sadar aja kalau libur kerjaan gak akan cukup untuk melakukan apa yang dikatakannya, kecuali resign dan pulang-pulang kere akibat duit habis di jalan.

“Gue mah gampang soal waktu, usaha sendiri ini. Bisalah suka-suka karena gak kerja formal, walaupun usaha kecil kecilan sih.” Ujarnya mengagetkan saya, seakan-akan dia tau apa yang saya pikirkan. Padahal saya belum menanggapi apa-apa tentang keinginannya untuk mampir di mana saja kalau mudik. Setidaknya, saya belum ngeuh dia kerja apaan waktu itu, jadi gak ketauan. Gak enak kalo ketauan saya lama gak update banyak hal tentang keluarga di sana.

Sampai akhirnya, saya teringat tentang mobil123 yang awalnya tahu dari teman blogger dan beberapa teman twitter, sekalian saya perkuat keinginannya untuk mudik dengan memperkenalkan dengan situs jual beli mobil murah itu. Dia senang, saya lebih senang—melihat mukanya yang semakin mupeng.

Mobil123

Saya pikir, tidak hanya Dia yang gak saya sebutkan nama yang mupeng tentang kemudahan dan kemurahan yang ada di mobil123, banyak orang lain juga mengalami hal yang sama (kamu yang baca tulisan ini juga bisa mupeng). Karena apa?

Karena…

20 Juta udah cukup untuk bayar DP (down payment…yang entah kenapa artinya uang muka) mobil jenis apa saja, dari brand apa saja, tinggal klik aja mobil murah di situ, yang penting jangan cari mobil gratis—gak akan ketemu sampai manusia semuanya tinggal di bulan. 20an juta tersebut adalah 30% dari harga mobil yang 80an juta. Ya, harga segitu karena mobil yang ditawarkan adalah kurang dari 10 tahun. Mobil bekas dan mobil baru, pastinya.

Karena…

Tanpa harus mengandalkan perhitungan otak tanpa alat bantu, atau tanpa harus mengandalkan alat bantu berupa kalkulator lima ribuan, di situ terdapat tabel komparasi yang membuat siapapun yang mengaksesnya bisa membandingkan harga mobil di mobil123 dengan harga mobil di tempat lain (masih di seputaran bumi dan indonesia). Namun, fitur ini gak bisa digunakan untuk membandingkan kenyamanan mobil tertentu dengan mantan yang pernah mencitai sekaligus menyakitimu. Dan, tidak penting juga membandingkan masa lalu.

Karena…

Gak seperti beli kucing dalam karung—bisa booking test drive.  Fitur mobile yang sudah tersedia untuk handphone pintar akan sangat memudahkan proses komunikasi kebutuhan test drive. Tinggal atur jadwal sesuai dengan jam tidak sibuk dan tidak sok sibuk dan menentukan mobil jenis apa yang mau dites—yakin tidak sedang tinggal di bulan. Gampang.

Mudik lebaran dengan aman dan nyaman semakin mudah.

Karena…

Aman dan nyaman adalah koentji!

Satu keuntungan buat saya ketemu dengan keluarga yang tak saya sebutkan namanya ini, yaitu saya berhasil membujuknya untuk menyerahkan batu cincin jenis blue safir miliknya. Batu mulia yang saya gemari beberapa waktu terkahir karena ketularan teman-teman kantor. Batunya bagus pokoknya! Sampai-sampai saya rela membeli bracket cincin yang terbuat dari perak asli, menggantikan bracket bawaan dari keluarga yang jelek dan menodai batunya yang bagus.

Kesenangan dan keberuntungan saya tersebut sepaket dengan utang yang belum bisa saya lunasi—dia minta dikirimkan bongkahan batu red borneo yang hingga hari ini belum saya dapatkan.