Ngeden dan Nguping di Toliet

Suara 1: “Bro, tumben DP BBM kamu pasang foto istri? Seumur-umur gak pernah loh. Lagi kesambet apa emangnya? Atau jangan-jangan modus karena semalam gak dapat jatah?”

Suara 2: “Lagi dimarahin…hahahaha!”

Gue yang tadinya berjuang keras, ngeden mengeluarkan sisa-sisa makanan yang ikutan dikutuk seperti Malin Kundang, seketika gue ngakak geli di dalam bilik kloset–dari pose super jelek jadi pose ganteng biasa. Baru nyadar, kalo terkadang menguping itu bisa menaikkan level kegantengan. Terimakasih kotoran…

Setelah dua suara awal saling menertawakan pernyataan dan pertanyaan mereka, muncul satu suara tambahan yang ikut-ikutan nimbrung memperkeruh suasana.

Suara 3: Ah, itu mah pencitraan doang masang-masang foto istri. Palingan kalo ada yang nanya itu siapa, dijawabnya pasti… “itu ponakan aja kok”.

Suara 1 ke Suara 3: Mendinglah… daripada kamu. Masang foto istri, paling lama 5 menit udah diganti lagi.

Suara 2: Hahahahaha……

Suara 1 dan 3 terdengar sumbang, karena komentarnya cenderung menjerumuskan. Tapi suara 2 yang menjadi objek candaan, menurut gue lebih aneh lagi. Dia selalu ketawa hahahaha…setelah itu hahaha lagi dan lagi. Atau dia sangat bahagia jika sedang dimarahi atau diambekin istrinya? Atau senang jika dituduh oleh teman-temannya?

Setelah membersihkan ujung kelamin masing-masing, meninggalkan urinal menuju wastafel untuk membersihkan kuman di tangan (seharusnya sekalian kuman di mulut) candaan mereka semakin terdengar menggelikan–sampai-sampai kotoran yang hampir keluar dari anus gue, kembali menyelinap ke dalam, menemui sisa-sisa makanan yang belum jatahnya keluar berenang di kloset. Sementara mulut gue yang hampir mengeluarkan tawa pecah di dalam bilik atas hahaha-nya suara 2 yang seharusnya tidak perlu hahahaha, gue sumpel pake kerah baju–maklum, pencitraaan tetap harus dipertahankan walaupun sedang di dalam kloset yang penuh dengan tebaran bulu-bulu kelamin tak bertuan.

Gue keluar dair toilet setelah 25 menit berlalu. Oh tidak. Itu waktu yang lama sekali untuk membuang air. Oh iya, wajar. Selama menguping, ngedennya gue pause. Jadi lebih lama.

Ehm.

Padahal gue memang lama kalo di toilet.

Pencitraan lagi.

Gue mikir. Apa yang membuat mereka bertiga tertawa puas hanya dengan becandaan yang segitu doang? Gue terus mikir. Kenapa juga gue harus tertawa sendiri di dalam bilik, sementara tidak ada yang lucu dengan becandaan mereka? Mikir lagi. Gue mikir. Terus mikir. Hingga akhirnya gue menemukan jawabannya, “Oh pantas gue tertawa. Ketiga suara tersebut gue hafal mati. Mukanya sangar-sangar… sementara becandaannya enggak banget. hahahaha….”

Ah, akhirnya gue juga hahahaha. Berarti gue sama anehnya dengan suara 2.

Duh!