Obrolan Gado-Gado

Sepasang orang asing asik mengobrol dengan segala keterasingannya masing-masing di sebuah bangku milik penjual gado-gado–yang syukurnya tidak merasa terganggu oleh keberadaan mereka, meski kedua-orang-entah-siapa itu tak membeli jualannya si bibi. 

Gue yang sedang memesan gado-gado jadi sungkan mau duduk, akibat space bangku yang disisain hanya cukup buat separuh pantat. Bisa sih duduk dengan pantat penuh, tapi bakal bersenggolan, dan gue gak mau itu terjadi. Yeah.

Dua orang asing tersebut terus mengobrol tanpa ter dan tanpa bata. Ya. Tanpa terbata-bata. Orang asing satu yang gue panggil ibu-ibu dalam hati paling banyak berbicara, ehm, tepatnya curhat. Sedangkan orang asing dua yang gue sebut bapak-bapak–juga dalam hati–lebih banyak mengangguk dan bilang oh dan oke dan sedikit bertanya. Ah, si bapak, kelihatan banget kekhawatirannya takut salah ngomong di depan perempuan. Dasar laki-laki. Tua.

Gue terpaksa menguping. Karena gak mungkin gue bisa menutup kuping, sementara tangan kiri memegang piring berbalut daun pisang, dan tangan kanan memegang sendok bolak-balik mendekati mulut, kemudian menjauhi mulut karena mendekat ke piring, berulang kali.

Mau minta tolong penjual gado-gado buat bantuin nutupin kuping gue? Ah, adegan itu terlalu riskan menimbulkan pro dan kontra. Nanti banyak yang nyinyir , seperti nyiyiran untuk film AADC2 dengan dasar pendapat yang aneh dan entah. Skip!

Ifat, istri gue, juga gak bisa membantu. Alastair sibuk berlari ke sana ke mari, tentu membutuhkan tenaga ibunya untuk mengejar sekaligus menjaganya dari luka akibat terjatuh dan tersungkur. Pun Ifat tidak sibuk dengan itu, gue lebih memilih dua tangannya untuk memeluk gue ketimbang menutup telinga.

“Waktu kami belum cerai, suami saya kerja ngikut Pak Heru Bambang–mantan Wakil Walikota yang bapak bilang tadi. Penghasilannya bagus, enak hidup kita, pak,” kata si ibu tanpa ragu. Gue jadi tau awal mula kenapa mereka mengobrol panjang lebar, ternyata hanya karena sama-sama punya cerita tentang Heru Bambang.

Si bapak yang tetap asing di mata gue, membakar rokok keduanya. Mungkin yang kelima, kalau dihitung dengan batang-batang sebelumnya yang gak gue tau. Tepatnya, gue gak mau tau!

“Kalau sekarang hidupnya gak karuan tuh. Gak tau deh kerjaannya apa. Yang jelas belum menikah lagi. Punya calon sih, pernah dikenalin, tapi, ya, gak tau deh,” lanjut si ibu yang juga tetap asing di mata gue. Ia tidak begitu yakin dengan pernyataannya sendiri. Si bapak yang mendengarkan mengambil kacang bungkusan plastik dan memakannya pelan-pelan, dengan rokok yang belum habis. Entah apa rasanya makan kacang sambil merokok, gue gak pengin nyoba. Tapi bagus lah, ada yang dia beli dari tukang gado-gado, meski gak seimbang dengan waktu dan bangku yang mereka kuasai sangat lama.

Hening beberapa saat. Sampai rokoknya si bapak habis, termasuk kacang. Plastiknya gak habis. Gue gak melihat dia memasukan plastik bungkus kacang ke mulutnya, tapi juga malas mencarinya di tanah. Mendengar mereka saja, sudah kurang kerjaan betul gue saat itu dan menuliskannya saat ini.

Rokok batang kesekian kembali disulut oleh si bapak. Dia semacam hendak menyampaikan sesuatu, tapi takut, mungkin. Sesekali dua dia melirik gerogi ke arah gue. Oh. Gue tau. Dia sungkan berbicara banyak dalam kondisi ada yang menguping. Dia beda banget sama si ibu yang terus berbicara, peduli setan. Itu asumsi. Gue.

“Yah…namanya juga hidup. Dijalani saja. Kalau saya orangnya dibawa santai saja. Yang penting bisa menyekolahkan anak hingga kuliah dan bisa mengajarinya mandiri. Seperti sekarang, dia sudah saya suruh bekerja di Asuransi. Saya hanya bilang seperti ini ke dia: kalau kamu bisa berhasil menawarkan satu lembar asuransi saja, kamu mau kerja jadi apa saja gampang,” kata si ibu penuh keyakinan. Keyakinan yang entah dia dapat dari goa mana atau bukit mana. Demi batu dan kerikil dan debu yang terhormat, gue sama sekali gak paham kenapa dia berbicara seperti itu, dan kenapa dia memilih kalimat-kalimat itu untuk melanjutkan kebekuan suasana sejenak, yang jelas-jelas gak begitu nyambung dengan obrolan sebelumnya.

“Saya juga kerja di asuransi yang sama dengan anak saya, Pak,” kata si ibu lagi. Tepat di kalimat ini gue baru paham, kenapa si ibu begitu mudahnya curhat ke orang asing.

Sepenggal kalimat tiba-tiba melintasi kepala gue: perilaku penggiat bisnis MLM dan Asuransi, begitu kerapnya menyalahgunakan hubungan sosial dan keluarga.

Gue meninggalkan bangku dengan cara berdiri, membayar gado-gado dengan uang pas, dan menjauh dari dua orang asing tadi selama-lamanya–tanpa lanjut menguping, apa akhir dari obrolan gak jelas itu?