Oleh-Oleh Dari Kalimantan Selatan

zia-banjar

Dari Kintap, terus, putar balik di Pasar Sungai Danau, lurus sedikit, kemudian belok kiri, terus lagi sampai melewati sekolah dasar, belok kanan, kemudian belok kanan lagi, berhenti di bawah pohon cherry liar atau kersen. Berasa sedang menyamar menjadi kepala daerah yang doyan blusukan, padahal saya dan tim sedang mencari rumah katering untuk melakukan penilaian semesteran. 

Perjalanan ke daerah selatan kalimantan selama empat hari mempertemukan saya dengan sepasang suami istri yang mampu melewati masa sulit pemutusan hubungan kerja, hingga menjadi pengusaha–yang menurut saya–sukses. Tujuan saya ke sana adalah melakukan Audit di dua proyek, yang waktu tempuhnya sekira empat setengah jam dari Banjarmasin. Selain melakukan Audit terhadap sistem operasional proyek di sana, juga ada agenda untuk melakukan penilaian terhadap perusahaan jasa katering yang men-supply makanan untuk karyawan proyek kami di sana. Salah satunya, katering M tanpa L.

Waktu tiba di rumah kateringnya, melewati gang kecil dan gang tak besar, saya kurang yakin dengan kualitas dan kebersihannya. Tetapi, saat melangkahkan kaki ke dalam rumah, kemudian duduk di sofa ruang tamu, saya terkagum dengan penataan rumah yang rapi, kesejukan oleh angin dari kipas dan ventilasi alami. Dan ya, makanan ringan yang tersaji di meja tamunya enak, sampai ada salah satu dari kami yang minta dibungkus. HAHA!

Katering rumahan. Tetapi memiliki izin usaha yang sah, berupa CV. Kokinya melakukan pemeriksaan kesehatan rutin, setiap enam bulan sekali. Alat-alat dapur tidak ada yang berbahan kayu, meski hanya untuk memotong ikan atau sayur atau yang biasa disebut talenan. Pisau saja dibedakan untuk ikan, daging, sayur, bawang, dan rempah. Di dapurnya, sulit sekali menemunkan lalat.

Katering rumahan inipun memiliki temperature gun untuk mengukur suhu masakan dan atau titik-titik panas yang berada di dapur. Sungguh profesional sekali, semacam perusahaan jasa boga yang memiliki standar tinggi.

Dari kekaguman itu lah, muncul rasa penasaran, bagaimana mereka merintis usahanya. Pemilik kateringpun bercerita, bagaimana mereka bisa sampai di titik sukses sekarang, di umurnya yang masih kepala tiga.

Pada tahun 2010, sang suami kena pemutusan hubungan kerja dengan uang pesangon hanya sebesar empat belas juta rupiah. Sementara, pasangan suami istri yang berasal dari Mojokerto, Jawa Timur tersebut baru saja tiga bulan mengambil mobil cicilan. Kondisi itu tidak mudah bagi mereka, saat itu.

Mobil mau dijual kembali terlalu dini, dan pasti harganya turun. Mereka memutuskan untuk meneruskan menyicil mobil tersebut, meski sang suami kehilangan pekerjaan dan sang istri hanya di rumah. Keputusan untuk perjalanan panjangpun mereka ambil. Mereka mengikut salah satu perusahaan travel, di mana mobilnya masuk menjadi bagian dari aset travel tersebut dan suaminya sendiri yang menjadi sopir. Dengan begitu pembagian hasilnya lebih besar, cukup untuk membayar cicilan dan mencukupi kebutuhan hari-hari.

Dari situ, mereka mulai melihat peluang-peluang mengembangkan usaha. Mobil pertama lunas, ambil mobil lagi, dan begitu terus sampai armadanya banyak. Jadi, uang terus mereka putar untuk mengembangkan aset yang bisa menghasilkan uang lebih banyak lagi. Di bidang travel, sekarang ia punya tiga kantor cabang. Pengelolaannya juga profesional, jasanya dipakai perusahaan maupun pribadi, karyawannya berseragam bak pramugari pesawat.

Mereka juga membangun rumah bangsal untuk keluarga kecil, dengan total empat unit. Satunya mereka tinggali sendiri–selain yang dipakai dapur katering–tiganya dikontrakkan. Hanya satu pertanyaan saya tentang ini, kenapa mereka memilih ungu sebagai tema rumah kontrakannya itu? Kan kasihan kalau ada cowok garang yang pengin mengontrak di situ. Oke, abaikan soal ini.

Mereka juga memiliki usaha jasa laundry yang melayani perseorangan maupun perusahaan. Usaha ini juga cukup menghasilkan karena mereka berada di daerah para pekerja tambang yang tak punya banyak waktu untuk mengurus cucian. Terakhir, ya, usaha kateringnya itu.

Awalnya kami berpikir, bahwa mereka adalah orang yang datang dari Jawa Timur sana yang membawa modal cukup dan membangun usaha di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Ternyata mereka hanya datang sebagai pekerja, dan memulai usaha dari uang pesangon empat belas juta dan mobil cicilan itu. Apa yang menarik dari semua ini? Mereka mewujudkan pelebaran usaha sedemikian rupa dari modal kecil, hanya dalam waktu enam tahun! Enam tahun itu kemarin sore lah. Tapi hasilnya itu loh. Kalau dia tetap bekerja, apa sih yang didapatkan dalam waktu enam tahun?

“Sekarang tidak terpikirkan lagi untuk kembali bekerja di perusahaan orang,” kata istri mantan operator alat berat itu.

Lalu saya merenung, melihat diri sendiri, melempar pertanyaan, kapan kau mau memulai usaha yang serius? Saya menjawab pertanyaan dengan senyum, juga ke diri sendiri.