Cerita Ojek Online, Gojek: Berguru Sama Pak Fa’at

Beliau adalah rider Gojek, usia 57 tahun, memiliki dua orang puteri. Puteri pertamanya lulusan Sastra Inggris UGM, puteri keduanya sedang kuliah semester 3 jurusan Hukum di Universitas Islam Indonesia (UII).

Awal mula kami mengobrol adalah ketika saya menggunakan jasanya dari KM 5 untuk menuju ke KM 14 Kaliurang, Yogyakarta, beliau bilang: “Kebetulan, Mas, rezeki. Mas mau ke UII, pas saya berniat mau menjemput anak saya di UII. Alhamdulillah ketemunya pas.”

Beliau bertanya apa sih bedanya jurusan Hukum Umum dengan Hukum Islam, beliau hanya pengin tahu lebih banyak tentang pendidikan anaknya. Saya menjawab ala kadarnya yang saya paham: mahasiswa/i Hukum Islam bakal menyandang gelar Sarjana Hukum Islam atau SHI, bukan SH saja seperti pada umumnya. Soal peluang kerja sesuai jurusan, ya, bisa menjadi hakim di Pengadilan Agama (PA), Panitera PA, Staf KUA, Pengacara di PA, Dosen Syari’ah, Peneliti di bidang sosial dan keperdataan Islam, SDM Departemen Agama, dan ini dan itu. Beliau semakin memperlambat laju motor karena kami sama-sama tidak terburu waktu. Santai.

Beliau tampak senang mendengar bahwa hukum yang dipelajari–selain ilmu dasar hukum umum–adalah hukum berdasarkan sudut pandang agama, yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dab Hadist. “Syukurlah, anak saya bisa belajar seimbang antara ilmu dunia dan akhirat,” katanya.

Waktu di tengah jalan Alastair minta berhenti karena kebelet pipis, kami pun mengobrol lebih banyak lagi, dan… cekrek!

Beliau pernah menjadi karyawan swasta, dua tahun-an lalu pensiun. Beliau pensiun saat puteri pertamanya baru lulus kuliah. Dua wisuda yang berbeda kepentingan.

Uang pensiun dan dana tabungan yang beliau kumpulin selama bekerja, ia pakai buat bangun kos-kosan. Untuk operasional hari-hari beliau memilih menjadi rider ojek online.

Jadi tukang ojek bukan terpaksa, bukan perkara semata tuntutan ekonomi. Beliau senang berinteraksi dengan banyak orang, memberi salam sapa senyum sesering mungkin sepanjang hari setiap hari, mengantarkan orang pada tujuannya dengan selamat, membantu orang tiba di tujuan tepat waktu, dan mengobrol banyak hal dengan banyak orang, semua itu sesuatu yang sangat bernilai baginya. Uang halal adalah bonusnya. Jiwa sehat karena memiliki banyak kegiatan meski sudah pensiun juga bonus plus plus.

Pak Fa’at senantiasa berusaha untuk tidak merepotkan anak-anaknya. Repot itu bagian orang tua. Nanti anak akan mendapatkan bagian itu saat menjadi orang tua. Sehingga, saat puteri pertamanya berhenti bekerja karena memutuskan untuk menikah waktu baru dua tahun lulus, beliau sangat ridha. Puterinya memutuskan ikut suaminya tinggal di Jakarta, ya tidak ada sedikitpun keberatan.

Tapi yang namanya rezeki ya… tak disangka nyana, tahun lalu beliau dan istrinya mendapat kejutan dari menantunya: berangkat umroh bareng-bareng.

Yang paling berkesan lagi dari Pak Fa’at adalah murah senyumnya. Saya melihat beliau selalu tersenyum. Lebih tepatnya, saat sedang tidak tersenyum pun, wajahnya tetap tampak tersenyum.

“Senyum dulu baru bahagia.
Bukan menunggu bahagia dulu baru senyum.”

Kalau Sudah Dapat Yang Baik, Ya Sudahlah Ya…

Tentang tempat kerja, kota tinggal, makanan, acara TV, seseorang, musik, dan apa saja. Kalau sudah dapat yang baik, tak usah terlalu sibuk mencari yang lebih baik, sebab itu akan menguras energi dan membuat kita lupa dengan kesyukuran.

Ketika kita mendengarkan musik dengan setingan volume tertentu, sudah nyaman dan sangat menikmati, tiba-tiba terdengar lagu yang lebih disukai dari lagu lainnya, lantas tangan kita usil menaikkan volume. Begitu muncul lagu yang tidak begitu kita sukai setelah itu, spontan menurunkan volume bahkan lebih kecil dari yang semula. Parahnya lagi, jadi sibuk ganti CD atau ganti folder atau ganti channel radio. Padahal bisa jadi kenyamanan yang timbul di awal itu, selain karena lagu-lagunya, juga karena tingkat volumenya sudah pas untuk telinga dan saraf kita. Keasikan itu tak melulu soal volume menggelegar.

Saat kita sudah tahu penjual nasi goreng enak adalah di warung Skidipapap Subidab sebelah pangkalan ojek gang Harapan, ya kembali beli saja di situ saat pengin beli nasi goreng lagi. Tak usah sibuk coba-coba nasi goreng yang kita tidak tahu referensinya. Kecuali tutup, atau ada referensi jelas lain yang sama-sama enak. Memperkaya referensi tempat makan enak boleh, tetapi tidak dengan niat mencari yang lebih enak untuk meninggalkan warung Skidipapap Subidab.

Begitu pun tentang seseorang. Kalau sudah menemukan seseorang yang baik buat kita, nyambung dan nyaman dengan keadaan kita saaat ini, tak usah mencari seseorang yang lebih baik lagi. Jika suatu saat kemudian keadaan kita berubah dan seseorang itu belum mengikuti perubahan, maka ingatlah keadaan kita dulu. Atau, bantu dia untuk lebih mampu menyesuaikan keadaan yang berubah, bukan menuntut tanpa membantu apa-apa. Apalagi dengan berpaling mencari yang lebih baik dan menganggap seseorang itu gak asik lagi, itu namanya lupa diri.

Terus mencari yang lebih baik itu hanya akan menempatkan diri kita pada situasi yang serba tidak pasti. Selalu ada dua sisi kemungkinan, memang dapat yang lebih baik atau malah dapat yang buruk lalu menyesal tiada berguna.

Contoh nyata dari teori ‘sudah dapat yang baik tapi sibuk mencari yang lebih baik’ adalah foto selfie Bapak-Bapak Muda yang lagi nungguin anaknya main, di samping ini. Sudah dapat pose yang pas, eh diulang-ulang sampai garuk-garuk kepala hingga rambutnya kusut. Pada akhirnya dikira orang, dia adalah Ian Kasela habis naik Gojek lupa pakai helm. Daradam daradam hoek…daradam daradam uh!

Habis itu malah diedit pakai beauty camera: menghaluskan kulit wajah, meniruskan pipi, memancungkan hidung. Begitu selesai diedit: hasil yang terlihat, bukannya tampak seperti bapak-bapak muda kelebihan kasih sayang, justru lebih tampak seperti mahasiswa DO yang kurang darah.

Aku dan Anakku

“Al sayang papa,” katanya mengharukan. Satu kalimat pendek yang membuat hati meleleh.

Anak mengajarkan kita untuk lebih menghargai orang tua. Dan, kita tidak benar-benar paham sepenuhnya tentang pemikiran orang tua sebelum kita sendiri menjadi orang tua.

Setelah punya anak itu…
Rasanya pengin minta maaf ke orang tua setiap hari.

Setelah punya anak itu…
Jadi tahu, banyak hal yang dulu dikesalkan ke orang tua, adalah kasih sayangnya belaka.

Setelah punya anak itu…
Semakin diri sadar, betapa seorang bapak sangat pantas untuk menangis.

Kekuatan Cinta

KEKUATAN CINTA YANG MENGGERAKAN
KEKUATAN ALAM SEMESTA LEWAT
KEKUATAN SANG MAHA

Sepanjang judul inilah kisah kejutan cinta saya dan istri hari ini.

Jam 2 siang saya meninggalkan kantor, kembali ke rumah, siap-siap berangkat ke ujung Timur Indonesia pada pukul 5.40 sore. Selesai Ashar saya ke bandara, diantar Alastair dan Ifat -if. Begitu turun dari mobil persis di depan pintu keberangkatan kami sama-sama terkejut, “LOH, TAS PAKAIANNYA MANA?”

Rupanya tertinggal di balkon rumah, di samping pintu rumah, sebelah kursi kayu berwarna cokelat tua. Mau kembali ke rumah, butuh waktu lebih dari satu jam untuk pulang dan pergi. Sementara kurang dari satu jam ke depan pesawat akan diberangkatkan. “JANGAN PANIK JANGAN PANIK JANGAN PANIK,” kata saya dalam hati.

Ifat tampak sedikit bingung, saya tidak mau membuatnya makin khawatir. Kami memutuskan untuk berlomba menelepon keluarga yang kemungkinan bisa membantu, membawakan tas ke bandara. “Tidak ada yang angkat telepon nih,” kata Ifat tanpa senyum sedikitpun.

Selang beberapa puluh detik, telepon saya terhubung ke kakak ipar–Umi Hanik–yang ternyata lagi di jalan sepulang dari tempat kerja. Beruntung sekali kakak bersedia membantu, bakal mampir ke rumah, mengambil sekaligus mengantar tasnya ke bandara. Janjian akan ketemu di parkiran bandara. Di saat yang bersamaan, saya meminta Ifat untuk ke tempat parkir menunggu kakak, sedangkan saya bergegas ke counter check in.

“MAAF, PAK, KEBERANGKATAN PESAWATNYA AKAN DITUNDA PADA PUKUL 7 MALAM,” kata petugas sembari mengembalikan KTP saya. “BENERAN, MBAK?!” tanya saya kegirangan, memastikan. “WUAAAA REZEKI!” Petugasnya kebingungan melihat respon saya, yang menghentakkan kedua tangan ke udara, saking senangnya pesawat delay.

Saya langsung menelepon kakak untuk tak melanjutkan perjalanan ke bandara, lalu saya telepon Ifat untuk keluar dari parkiran menuju pintu keberangkatan lagi, kita akan kembali ke rumah bersama, mengambil tas!

Ini bukan tentang keteledoran, tidak juga soal keterburu-buruan. Ini tentang cinta yang bekerja dengan caranya, dengan kekuatannya yang misteri.

Kami bergerak tepat waktu, hanya saja tas tertinggal belaka. Waktu keluar rumah, saya menenteng tas laptop dan menggandeng Alastair menuju mobil duluan, karena harus manasin mobil. Ifat menyusul, dan saya meminta tolong untuk dibawakan tas pakaiannya ke mobil. Saya minta tolongnya sambil mengikat tali sepatu. Suara saya rupanya kurang jelas, sedikit miskomunikasi, eh dapat hadiah waktu ekstra bersama. Begitu.

Beruntung sekali kami tidak sampai panik, dan tidak sampai saling menyalahkan. Begitu kembali naik mobil, kami bertiga saling berpelukam haha hihi. Begitu berharganya waktu satu jam. Terlebih sebulan terakhir ini saya sering pergi ke luar kota.

Ketika kita tak mencoba mengendalikan dunia, ketika kita membiarkan alam semesta bekerja, ketika kita percaya pada cinta, ketika kita yakin dengan segala rencana-Nya, ketika itu pula kita diliputi keberlimpahan rahmat kehidupan penuh cinta penuh kasih penuh sayang.

Tidak salah saya pergi mengenakan kaus dan jaket yang sama dengan yang saya pakai waktu bermalam mingguan dengan Ifat, dua hari lalu, seperti pada gambar di bawah. Suasana saling berbagi hangatnya teh poci malam minggu rupanya ikut terbawa hingga hari ini.

Bagi kami, hari ini begitu romantis.

Bertindaklah Untuk Perubahan Yang Diinginkan, Jika Ingin!

YA, BERTINDAKLAH UNTUK PERUBAHAN YANG DIINGINKAN, JIKA INGIN! Meskipun hanya sedikit dan kecil.

Jika merasa jelek, ubah menjadi bagus. Jika kecil, buat itu menjadi besar. Jika lemah, kuatkan. Jika jauh, dekatkan. Jika rendah tinggikan. Jika ketinggian, rendahkan. Jika kotor, bersihkan. Jika buntu, lancarkan. Jika bingung, cerdaskan. Semua perubahan itu sederhana, yang penting nyata ada tindakan.

Tak ada guna punya banyak keinginan, tapi hanya sedikit tindakan. Apalagi tidak ada.

Tanda tangan saya tidak pernah berubah semenjak kuliah, belakangan saya merasa bentuknya kurang bagus, bahkan terasa membosankan. Guratan garis-garis memanjang berjejeran tanpa ada bentuk yang bisa dibaca, semacam rumah kotak yang tiada motif dan kelok sekat dan aksesoris. Atau, semacam kopi tanpa rasa tanpa aroma.

Sementara, setiap nama-nama besar, nama-nama terkenal, yang saya lihat, goresan tanda tangan mereka sangat menarik. Tampak hidup. Berjiwa. Menyenangkan. Satu kesamaan dari tanda tangan mereka, adalah tulisan nama yang diindahkan. Sehingga cenderung tak perlu menulis nama lagi di bawah tanda tangannya, karena sudah terwakilkan oleh tanda tangan itu sendiri.

Berangkat dari ketertarikan dengan jenis tanda tangan seperti itu, saya pun mengajukan permohonan perubahan tanda tangan ke kantor catatan sipil. Singkat cerita, disetujui. Akhirnya, kartu keluarga dan KTP dan buku-buku tabungan, dibuat baru untuk dijejaki tanda tangan baru.

Repot?

Sama sekali tidak.

Hanya soal mengurus ulang dokumen kependudukan, itu perkara remah dan remeh.

Justru yang repot adalah ketika setiap hari kita membiarkan rasa penasaran yang tak tersalurkan, rasa bosan yang tiada terhibur, keinginan perubahan yang tak nyata, dan kebuntuan-kebuntuan lain karena kita malas bertindak.

Saking sukanya saya dengan tanda tangan baru, saya membeli notebook kulit baru, buku tulis yang saya suka, dan saya toreh tanda tangan di pojok kanan hampir di setiap lembarnya. Seperti contoh yang tampak di gambar.

Bertindak. Setidaknya membuat kita menjalani hidup tanpa sambil ‘tertidur’.

Bertindak. Setidaknya membuat kehidupan kita menjadi lebih nyata.

Bertindak…. SUDAH! MARI KITA SUDAHI TULISAN SEKALIGUS BACAAN INI. TARUH PONSELNYA. MARI BERTINDAK, APAPUN YANG BISA KITA TINDAK SAAT INI.

Sekolah Tanpa Ijazah

Hidup adalah perkara pilihan belajar dari guru-guru bermacam rupa. Bahkan plastik bekas bungkus sari roti yang menyumbat saluran selokan pun bisa menjadi guru, jika kita mau belajar darinya.

Tadi siang, seseorang baik yang luar biasa berkata padaku, kurang lebih seperti yang kusesuaikan bahasanya berikut ini:

“Hidup ini tak ubahnya sekolah, Mas.
Belajar adalah tugas utamanya.

Ketika kau melihat seseorang tiada mendapat ujian kehidupan, besar kemungkinan ia memilih untuk tidak sekolah. Tidak salah, sepanjang ia mempertanggungjawabkan kedataran hidup yang dialaminya sendiri. Akan jadi masalah jika ia mengeluh tak naik kelas, padahal sekolah saja tidak mau.

Ketika kau melihat orang lain mendapatkan ujian yang cukup ringan, tak seberat ujian kehidupanmu, bisa jadi dia masih TK. Tak perlu kau bandingkan. Namanya anak TK, ujiannya ya palingan disuruh nyanyi tralala trilili.

Semakin tinggi sekolah kita, SD, SMP, SMA, dan seterusnya, ujiannya tentu semakin ketat. Bukankah sewajarnya kehidupan memang harus demikian?

Ketika ujianmu terasa begitu berat, ya berbanggalah terhadap diri sendiri, karena sudah menempuh sekolah kehidupan yang begitu tinggi. Pastikan kau lulus, dan jadilah ahli kehidupan untuk dirimu, dan jadilah manfaat untuk sebanyak mungkin orang.

Belajar lah lagi dan lagi
Belajar lah terus dan terus
Tak perlu kau pedulikan lembar ijazah
Sebab bukan lembar fana itu yang bakal kau bawa mati, melainkan ilmu dan amalannya semata.”

Tak ada sedikitpun yang bisa kusangkal kalimat-kalimat di atas.

Mabuk Beling

Bapak-bapak lanjut usia itu menatap ke arah kiri, kepalanya tampak tenang menatap ke satu titik. Saya yang berjalan terus mendekat ke arah situ seketika salah tingkah. Begitu posisi saya lurus dengan posisi duduknya, bapak-bapak lanjut usia itu terus menatap ke arah lorong, dengan cara yang sama. Rupanya saya kegeeran. Continue reading

Bayi Dalam Genggaman

Ramadan adalah bulan kemuliaan bagi (hampir) seluruh umat muslim. Orang-orang berbondong-bondong memperbanyak ibadah, tak ingin menyia-nyiakan bulan mulia ini. Ibarat petani, ramadan adalah musim panen yang disambut gegap gempita, di mana kebanyakan orang lebih rela kurang tidur tadi melewatkan setiap detik waktunya. Continue reading