Pahala: Pacaran Halal Asik

“Hai, terimakasih untuk waktu dan keseruan malam minggunya,” kataku setelah lampu indikator parking brake mobil dalam kondisi aktif, di depan rumah. “Dan terimakasih telah menganggapku pantas menjadi teman hidupmu.” Aku memegang tangannya, sedikit menariknya ke arahku, lalu… ah, aku malu untuk menceritakan secara rinci–betapa ciuman di mobil itu begitu hangat dan begitu muda. Rasanya seperti sepasang kekasih yang belum menikah, yang mana ciuman intim itu langka adanya. Semacam ada perasaan deg-degan takut kepergok orang tuanya. 

Jam klasik bulat di atas lemari yang tetap kusebut jam dinding menunjukkan pukul 9 malam, waktu terbilang sore untuk ukuran malam minggu. Alastair sudah tidur, Neneknya sedang menonton sinetron di depan kamar. Aku dan Ifat saling bertapapan, diam-diam bersepakat untuk keluar mencari tempat berdua-duaan. Tanpa berkata apa-apa, kami beranjak dari tempat tidur dengan senyum yang mengembang, dan mengganti baju.

Tanpa terjebak di obrolan terserah, Ifat langsung memutuskan tempat yang harus dituju, yaitu ke salah satu kafe yang letaknya di pinggir laut Klandasan. Aku agak bingung ketika mendapati tempat itu seperti aula sekolah yang dipenuhi anak-anak sekolah–ribut, suara lagu tertutup oleh riuh tawa anak-anak remaja, bahkan kami kesulitan untuk mencari tempat duduk.

Awalnya agak kesulitan mengobrol santai, harus sedikit teriak supaya suara bisa kedengaran dari seberang meja. Untungya, sejam kemudian kafe tersebut mendadak sepi, anak-anak remaja pada beranjak pulang membawa serta suasana pasarnya. Kamipun akhirnya bisa mengobrol dengan leluasa.

 “Kamu lebih suka cara kita dekat waktu temenan, waktu pacaran, atau setelah menikah?” tanya Ifat, mengisi sedikit kekosongan obrolan setelah membahas soal kematian sekaligus kehilangan. “Kamu jawab santai saja, toh, kita memang harus terbiasa ngobrol terbuka.”

Ummm… secara keseruan bebas membahas apa saja tanpa khawatir ada  hal yang menyinggung perasaan sih, aku lebih suka waktu kita temenan,” jawabku tenang. Aku menyesap es cokelat yang tersisa setengah. “Soalnya kamu ataupun aku bisa tanpa malu membicarakan keburukan sekalipun, dan kita dengan senang hati saling menerima apapun kekurangan yang ada.”

“Maksud kamu, kita kurang seru setelah menikah?”

“Bukan begitu. Seru. Pun ada masalah yang muncul selama kita menikah, bukanlah masalah yang berarti, dan kita masih sering pacaran seperti ini berarti ya seru. Ini hanya keinginan untuk menyempurnakan hubungan yang sudah sangat baik ini saja.” Aku memotong pisang bakar green tea, mendekatknya ke mulut lewat garpu dan mengunyahnya tanpa ampun.

“Kamu tidak mudah cemburu waktu itu, aku suka,” lanjutku. Tatapan matanya tidak menunjukkan ketidaknyamanan, aku melempar senyum atas kebaikan sikapnya. “Bukan berarti gak boleh cemburu loh ya, aku saja terkadang cemburu kok.”

Hahaha. Kamu cemburu? Cemburu kapan? Kenapa? Terhadap aku sama siapa? Kamu pasti becanda,” sindirnya sambil memonyongkan bibir. Akupun menceritakan beberapa kejadian yang membuatku cemburu, dan menjelaskan kenapa aku tidak menunjukkan itu lewat sikap selayaknya orang yang cemburu. Ifat menerima penjelasanku, seperti halnya ia menerima suara kentutku dalam selimut.

“Sebenarnya aku adalah orang yang cukup pandai mengatur emosi, gak mudah terbawa perasaan, menguasai diri, tetapi itu berlaku ketika dalam hubungan pertemanan. Aku punya masalah soal emosi dan perasaan ketika itu kaitannya dengan pasangan. Ego cintaku terlalu besar untuk bersikap sama dengan pasangan hidup. Bahkan, saking aku takut kehilanganmu, aku berharap suatu saat nanti aku yang mati duluan. Sudah kupastikan tidak cukup kekuatanku untuk menerima kamu yang mati duluan, bagiku itu adalah ketidakadilan terbesar hidup ini, semoga tidak terjadi demikian. Terkadang aku posesif, alasannya sering gak masuk akal, itu bukan kamu berbuat salah, tetapi aku yang terlalu cinta sama kamu. Sepertinya aku harus belajar menurunkan kadar cinta yang berlebihan ini,” lanjut Ifat.

“Tidak ada kadar cinta yang harus diturunkan. Aku sangat bangga dengan penghargaan sebesar itu. Bukan cinta yang perlu diturunkan, tetapi bagaimana keyakinan dalam hati mengenai kepercayaan semakin kita perkuat dan diiringi dengan penjagaan kepercayaan itu sendiri dalam perilaku sehari-hari. Aku akan selalu bersamamu. Dan aku tidak akan mati duluan, aku sudah meminta pada Tuhan umur 80 tahun,” kataku penuh keyakinan, sambil diam-diam beroda lagi mengenai permintaan panjang umur.

“Tugas kita adalah merawat cinta ini. Bukan karena anak, bukan karena hal lain, tetapi karena kita memang saling butuh cinta ini sampai nanti sampai mati. Toh, ketika kita bahagia dengan cinta ini, anak dan hal lainnya akan turut bahagia. Tugas lain kita adalah saling mendukung apapun untuk kemajuan diri kita masing-masing. Kamu hendak melanjutkan kuliah, aku yang harus mewujudkan itu. Aku hendak meraih mimpi ke sana kemari, ketemu dengan orang-orang yang menurutku berpengaruh pada kesuksesan mimpi-mimpi, kamulah yang memberi dukungan penuh. Tak perlu menaruh curiga berlebihan ketika jarak sementara memisahkan, yang penting tidak longgar juga mengawasi supaya tidak ada dari kita yang kebablasan yang berakhir kecolongan. Jangan sampai seperti itu. Tetapi, yang tidak kalah penting adalah bahwa kebahagiaan jangan digantungkan pada orang lain selain diri kita sendiri–tak terkecuali pasangan. Menggantungkan kebahagiaan terhadap orang di luar diri kita, akan membuat tumpul hati dan sudut pandang terbaik kita yang menjadi sumber kebahagiaan itu sendiri. Dengan bahagia yang kita lahirkan dari diri masing-masing, kita akan memancarkan aura positif, dan kebahagiaan kita semakin berlimpah karena saling ditularkan, bukan dengan cara saling menunggu,” lanjutku. Tak terasa es cokelat di hadapanku tak bersisa meski ampasnya.

Ifat meraih tangan kananku. Ia menggenggam punggung tanganku, aku membalasnya dengan senyuman. Tak lama, kami memutuskan untuk pulang. Malam sudah di tengah putaran waktu, rindu terhadap Alastiar juga sudah menghampiri. Kami pulang dan mengahkiri malam di paragraf pertama.

Kami semakin yakin bahwa sering-sering meluangkan waktu berdua-duaan adalah hal yang baik dalam merawat cinta. Sebagian orang beranggapan bahwa kami tega sering meninggalkan anak di rumah. Ya, semua orang berhak memberi penilain, namun kami juga punya hak untuk memutuskan apa yang terbaik buat kami, tanpa banyak mendebat kritik dari orang lain. Anggap saja kritik orang lain sebagai peringatan, untuk tidak terlalu larut berdua-duaan. Jangankan orang lain, orang tua kami saja selalu tertawa dan melempar kalimat ejekan setiap kami berpamitan dari rumah dengan alasan mau pacaran.

“Hei, pacaran itu proses yang asik yang harus dilakukan sampai akhir hayat!” Kadang saya pengin teriak demikian kepada dunia.