Pamer Mesin Dolce Gusto di Kantor

“Mas, kita sekarang udah jarang yah nongki-nongki cantik—menikmati kopi di manaaa gitu.” Kalimat istri itu membuat saya berpikir, bagaimana mengakali kebiasaan kami menikmati minuman ala-ala kafe tetapi bisa dilakukan di rumah sendiri, tanpa perlu menunggu waktu khusus. Yang penting makna kebersamaannya dan kopi dan teh tubruk dan kami dan cinta. Pertanyaan itu muncul semenjak kami lebih betah menghabiskan waktu di rumah, setelah punya anak yang kini sudah berumur 10 bulan. Awalnya saya membeli teko khusus untuk mengolah teh tubruk tanpa perlu menyaring tanpa perlu berurusan dengan ampas. Namun masih saja ada yang kurang, karena belum punya pengolah kopi spesial. Hingga pada akhirnya saya menemukan beberapa teman media sosial memamerkan Mesin Nescafe Dolce Gusto yang baru-baru ini mereka miliki, dan cukup membuat saya iri. Dengan tidak menunggu lama, saya menghubungi salah satu teman pemilik mesin unyu tersebut, menanyakan pengalaman dan kelebihan mesinnya. Alhamdulillah cocok, sesuai dengan kebutuhan, saya memutuskan untuk beli—teman itu sekaligus saya repotkan, saya titip dibeliin di Jakarta, lalu dipaketin ke Balikpapan.

Kisah Senang Memiliki Mesin Kopi Dolce Gusto

Bagi yang belum tahu, setia adalah nama tengah saya. Hanya saja saya kadang lupa memiliki nama tengah itu, dalam kondisi tertentu. Misalkan pada saat saya memiliki Mesin Kopi keluaran Nescafe ini, saya lupa memiliki teko teh tubruk sekaligus lupa nama tengah saya dan lupa udah berapa waktu gak ngeteh.

Di meja kerja yang menyatu dengan dapur di pojok ruang belakang rumah,  mesin kopi kesayangan yang menghasilkan kopi enak dalam waktu sekejap terduduk manis—setia menunggu dan melayani tuannya.

DG1

Selain mesin kopi, saya juga titip dibelikan kapsul Dolce Gusto di Jakarta—karena di Balikpapan belum ada yang jual. Di Hypermart, Ranch Market, Food Mart, Maxi, Hero, Giant, Lotte Mart, semuanya gak ada. Bahkan di Carrefour juga gak ada. Soalnya Carrefour di Balikpapan baru akan dibangun. Kapsul Dolce Gusto yang saya beli baru yang rasa Mocha dan Espresso. Varian rasa kapsul Dolce Gusto sebenarnya tidak hanya itu—masih ada Capuccino, Grande Intenso sampai Nestea. Tapi dengan menikmati yang dua rasa dulu sudah lebih dari cukup. Rasa juga lebih dari cukup buat saya pencinta kopi instant yang juga gak mau ribet meracik kopi terlalu lama.

Saya berharapnya, kapsul Dolce Gusto ini segera dijual di Balikpapan, jadi saya gak perlu kerepotan lagi menitip jauh-jauh. Teman yang saya titipkan pastinya yang lebih repot, apalagi sering-sering dan ehm…ongkos kirim juga jadi kendala. Bila perlu, varian rasanya lebih diperkaya lagi, jadi gak ada kata bosan dalam jangka waktu lama. Meskipun nama tengah saya adalah setia.

Satu kejadian yang membuat saya sedikit kerepotan dengan jauhnya tempat pembelian kapsul adalah waktu saya telat bangun, buru-buru ke kantor tanpa sempat ngopi pagi di rumah, saya bawa mesin kopinya ke kantor. Walhasil, 1 box kapsul yang saya bawa habis dikeroyok beberapa teman kantor, yang penasaran pengin mencicipi dan pengin merasakan pengalaman menggunakan mesin kopi Dolce Gusto. “Yah, ini mah nyarinya susah, gak dijual di Balikpapan.” Hanya itu kalimat yang bisa saya lontarkan ke teman-teman, mengingat stok saya tinggal satu box aja yang tersisa di rumah.

Setelah ini saya harus titip dibelikan lebih banyak kapsul lagi untuk stok di rumah, bukan memesan kurang dari 10 box seperti yang kemarin-kemarin, tapi membeli untuk stok sebulan. Rata-rata saya minum kopi 1-2 kali sehari, plus istri, plus teman yang sesekali ke rumah. Artinya saya harus punya stok minimal 15 box di rumah, lebih aman lagi kalau lebih.

DG2

Waktu saya naik lift membawa mesin kopi, saya ketemu General Operation Manager, langsung mendapat komentar, “Wah, ternyata kamu punya mesin kopi ini yah. Beberapa waktu lalu saya pengin beli pas ke Jakarta, tapi karena di Balikpapan gak ada yang jual kapsulnya, saya belum jadi beli. Nanti kalo kita udah pindahan kantor di pinggiran kota, boleh nih kamu taruh di kantor, karena di sana jauh dari mana-mana. Dan yang jelas gak ada coffee shop.” Nampaknya dia iri dengan saya dan ingin dishare pakai. “Kan bisa titip ke teman-teman yang di Jakarta, Pak. Saya juga begitu. Soal bawa ke kantor baru, nanti bisa dipertimbangkan.” Jawab saya sedikit sombong. Nyampe kantor, beberapa teman yang lihat saya membawa mesin kopi, turut penasaran, dan minta jatah. Dari situlah awal mula stok kapsul saya mengosongkan dirinya dari box. Kepalang tanggung, sekalian aja saya pamer dan bilang, “Pokoknya saya mau aja sering-sering bawa ke kantor, asal kalian mau membeli kapsulnya sendiri. Lebih bagus lagi ada jatah kapsul gratis buat saya. Hahahaha…” Ceritanya biar saling menguntungkan. Kalimat jujurnya, gak mau rugi.

Kalo di Jakarta sih enak, di jual di mana-mana. Di Best Denki, Carrefour, Centro, Electronic Solution, Farmers, Grand Lucky, Hero, Jasons, Lotte, Metro, Ranch Market, Seibu, hingga Sogo. Itu referensi dari temen yang bantu beliin mesin kopi sih, pamer dia. Asem.

Bagi teman-teman kantor yang menghabiskan stok kapsul, saya ngomporin mereka untuk ikut membeli mesin Dolce Gusto. “Setidaknya kalo ada tamu ke rumah, kalian bisa menyuguhkan minuman ala kafe ke tamu. Keren, kan?” Imbuh saya.

Saya juga memperkenalkan mereka beragam seri mesin Dolce Gusto Indonesia yang lain. Bahkan info diskon di Lazada pun saya tunjukin–hampir setengah harga soalnya.

Dari referensi teman yang bantu beliin mesin kopi saya, produk Dolce Gusto tidak hanya seperti yang saya miliki, tetapi ada juga yang lain. Dan itu saya kenalkan ke teman-teman kantor. Terus saya buka situsnya Dolce Gusto untuk memperlihatkan bentuknya seperti apa.

DG3

Dari situs Dolce Gusto tersebut tedapat dua jenis yang ditampilkan, bentuknya sama-sama lucu. Seri Genio dan Circolo. Harganya macam-macam, bergantung pada kapasitas air yang bisa ditampung. Selayaknya kebanyakan barang-barang elektronik lainnya, semakin besar kapasitasnya ya semakin banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk memilikinya.