Pedang Kapitan Pattimura

Kembali dari tugas luar kota, hati saya begitu senang tiada terkira. Hujan dan kabut tak menghalangi langkah kembali ke rumah. Yang tertinggal di pikiran hanyalah, anak dan istrid dan rumah dan pelukan menghangatkan. Pun isi dompet, tak saya pedulikan lagi. Pokoknya pulang.

Shuttle bus yang akan mengantarkan saya dan rombongan hingga ke tepi laut seberang Balikpapan terlambat datang, padahal kami sudah berdiri di tempat penjemputan yang tiada beratap memadai itu. Jadilah baju dan kepala basah. Tiba di tepi laut seberang Balikpapan pun kembali kebasahan, yang menimbulkan hastrat pengin kencing.

Saya masuk WC umum sedikit terburu-buru, jangan sampai ada yang tumpah dalam celana. Malu sama umur. Satu-satunya bilik WC yang kosong adalah bagian ujung, tak dilengkapi lampu. Gelap, namun tak seram. Ya. Kecing gelap-gelapan. Usai kencing, saya tarik pintu kayu bercat putih itu perlahan, melangkah didahului kaki kiri melewati batasan pintu. Tanpa menutup rapat kembali sang pintu, saya belok kanan menghampiri kotak uang bayaran penggunaan WC umum yang cenderung sama dengan bentuk kotak amal Masjid.

Saya terbelalak melihat isi dompet yang hanya menampakkan Kapitan Pattimura yang tiada lelah mengangkat pedangnya, alias seribu. Benar-benar pas untuk bayar biaya kencing. Lalu kepala saya berputar, bagaimana saya bisa melanjutkan naik angkutan umum saat tiba di Balikpapan nanti? Penumpang lain yang saya sebut rombongan akan pulang ke arah masing-masing yang tentunya tidak ada yang bisa saya tumpangi. Mau pinjam uang, malu. Mana hujan tak menunjukkan niat berhenti.

Akhirnya saya putuskan untuk tetap naik angkot saja, tiba di seberang rumah, tinggal telepon orang rumah untuk bawain duit buat bayar angkot. Setengah jam menunggu angkot nomor tiga ke arah rumah, tak kunjung tiba, mana basah dan baju dan tas dan kaki sudah semakin basah. Tak ada tanda-tanda angkot nomor tiga datang, saya putuskan naik angkot jurusan lain–nanti turun di simpangan, baru cari angkot jurusan rumah. Kondisi ini bikin deg-degan, uang tiada serupiah pun di dompet, harus naik angkot dua kali.

Otak saya entah mengapa terlambat berputar. Masa harus kepepet baru bisa memunculkan ide, meminta supir angkot berhenti di ATM, tunggu sebentar baru jalan lagi. Dan saya melakukan itu.

Mau nyari taksi online biar bisa bayar di rumah, sayangnya pilihan itu sedang tidak bisa, entah mengapa. Dua orang yang dari awal berniat naik taksi online di jurusan lain juga batal karena mobilnya tak kunjung datang. Mereka pun naik angkot.

Setiba di rumah, saya hanya tertawa dengan lambannya saya berpikir soal uang di dompet. Saya merenung. Rupanya yang membuat saya rela menuggu angkot lama-lama dan semacam kebingungan soal ketiadaan uang, adalah kerinduan akan mandi hujan. Saya begitu menikmati diri dan perasaan yang basah itu.

Ya. saya suka mandi hujan.