Pelajaran di Pojok Pantry

            Gak harus jauh-jauh ke Negeri China untuk mengejar ilmu, kecuali mau belajar bagaimana caranya menduplikasi produk elektronik asli menjadi barang murah pemuas mata belaka. Kita ambil contoh aja ((((KITA)))) di kantor gue; cukup masuk pantry, mendatangi OB pengguna henpon china, bisa dapet ilmu. Semudah membuang angin ketika sendirian di lift.

Tadi pagi gue hendak minta tolong sama OB, dia meminta waktu sebentar, karena harus menyeduhkan dan mengantarkah teh untuk Bapak-Bapak yang sedang meeting–entah membahas apa, kok mukanya pada lupa akan senyum pengusir sumber penyakit jiwa!

“Bentar ya, Mas Zia. Habis nganterin teh ini, aku bantuin.”

Setelah mengatakan “Oke” gue bertanya tentang cara dia memerlakukan gelas-gelas berisi teh itu; Dia mengelap dengan tissue setiap sudut gelas yang sebenarnya udah dilap setelah dicuci. Bahkan sudah direndam air panas. Dia menggesekkan ujung sendok teh di setiap bibir gelas, lalu menghilangkan gelembung kecil yang tak lebih besar dari tai lalat di ujung kelamin pada setiap permukaan teh tersebut. Begitu teliti. Begitu maksimal dia melakukan pekerjaan, yang gue anggap hal sepele itu. Di mata gue, memang membuat teh gak harus serumit itu.

“Segitu amat bikin teh-nya, Mas Ndro?”

“Oh iya, Mas Zia. Harus begini. Nanti dikira tehnya kami ludahin. Nanti dikira gelasnya gak kami cuci. Nanti pada gak suka minum teh-nya. Nanti kami kena komplain.”

“Ouh… oke.”

Gue berasa tertampar. Kami ((((KAMI)))) yang dikasih tanggung-jawab lebih dan (maaf) dibayar lebih, gak segitunya memikirkan hasil kerja dan dampaknya ke orang lain. Sementara mereka yang dibayar pas-pasan, outsourcing, begitu mempertimbangkan hasil akhir dari apa yang dikerjakannya. Lepas dari jenis pekerjannya berbeda.

Itu sudah cukup menjadi ilmu, pembelajaran, bagi gue.

Itu hanya butiran kecil aja yang bisa dipelajari dari OB ini. Lebih dari itu, banyak keahlian yang bisa dia lakukan secara profesional.

Dia bisa melakukan service gadget, hardware dan software, lengkap dengan spesific toolsnya. Dia lihai dalam mengerjakan pekerjaan high/low voltage electrical. Dia bisa memperbaiki TV, AC, Kulkas, dan barang-barang elektronik lainnya.

Kenapa dia gak bekerja formal jadi teknisi listrik?
Ah, pertanyaan yang sudah bosen dia denger.

“Faktor nasib, Mas.” Jawaban singkat, tetep diiringi oleh senyum hingga tawa.

Sejak kelulusannya dari SMK jurusan Elektro tahun 1996 dulu, dia terus mencari pekerjaan sesuai jurusannya. Gak dapet-dapet. Dia harus hidup, menghidupi anak istri, pekerjaan apa saja dia ambil asal halal. Tapi dia gak pernah kecewa dengan keadaan. Hingga saat ini, dia masih terus berusaha mencari pekerjaan sesuai jurusannya. Sementara belum dapet juga, dia menikmati pekerjaan kininya sebagai OB dan bekerja paruh waktu memperbaiki barang elektronik dari rumah ke rumah.

Oh ya, tadi pagi itu dia bantuin nge-root tablet gue, dan bantu ngejelasin gue harus ngapain setelah henpon di-root. Gue gak begitu ngerti begituan soalnya. *manja* :’))))

Terakhir, gue cuma mau bilang: jangan pernah memandang sebelah mata profesi tertentu atau pekerjaan seseorang.

Udah, gitu aja.

*Masuk pondok pesantren*