Pelayan Super Seksi

              Rasa-rasanya sudah lama banget gak ‘membodoh-bodohi’ diri sendiri, gue gak inget kapan terakhir kalinya, sebelum hari ini. Ya. Barusan, gue mendadak jadi orang paling gila di salah satu hotel di bilangan Kemang, Jakarta selatan. Sungguh malam yang lebih buruk dari aroma kencing kebanyakan makan duren.

               Usai mandi, gue baru nyadar kalo kamar tempat gue menginap berantakan sangat. Gue masukin pakaian kotor ke lemari, gue taruh tas di atas meja samping TV, dan… perlengkapan makan malam di atas nampan gue angkat dari meja menuju…Menuju ke manaaa??? Yes, betul sekali. Menuju pintu kamar, mau gue taruh di samping depan pintu biar diambil sama petugas hotel. Sesi beberes inilah yang membawa bencana bedebah di kehidupan gue malam ini.

          Berat nampan plus piring jumbo bekas tenderloin steak membuat gue kesulitan untuk naruh di samping pintu dengan posisi-hanya-kepala-dan-tangan yang nongol di pintu. Gue harus keluar dari kamar bersama segenap anggota badan gue yang penuh bulu ini. Arghhhhhh…… Sial! Pintunya kekunci.

             Pintu kekunci mungkin bukan masalah yang begitu berarti. Masalahnya, gue hanya mengenakan boxer dengan handuk putih menempel di kepala, tanpa baju tanpa… sensor bulu ketek serta bulu tetek. “Bodoh bodoh bodoh!!!” Gue mengutuk diri sendiri.

          Celingak celinguk berharap ada Raline Shah lewat lorong dan membantu gue manggil petugas, ternyata itu gak lebih dari harapan liar yang sama sekali gak membantu masalah gue kelar. Gue berjalan menelusuri lorong berharap ada penghuni lain yang membantu, gak peduli dia mirip Raline Shah atau mirip Andika Kangen Band, yang penting masalah gak penting gue tertolong. Sampe di lift pun, gak ada siapa-siapa.

           Gue mau nekat turun ke resepsionis meminta kunci, takutnya orang-orang pada lari terbirit-birit, kaget melihat ada orang gila bertelanjang dada keliaran di dalam hotel. Paling buruknya, bapak-bapak yang main piano depan resepsionis pas gue check in tadi menghantam gue dengan kursinya. Walaupun instrumen lagu yang dimainkan Fix You-nya Coldplay, itu gak mengubah penilaian gue tentang kesangarannya atas badan dia yang hitam, tinggi, kekar.

            Gue mengurungkan niat untuk nekat ke bawah. Gue kembali ke (depan) kamar sendiri, dengan potongan telanjang dada yang semakin membuat gue gak nyaman dan pengen berak di atas karpet. Gak ada tanda-tanda kehidupan juga. Gue tengok pintu keluar kaca pintu darurat yang ada di sebelah kamar, lebih sepi lagi. Bahkan lebih sepi dari hati yang trauma akan jatuh cinta.

               Untungnya ada bapak-bapak penghuni kamar di pengkolan lorong datang. Gue langsung ngadu tanpa peduli malu atas potongan vulgar gue. “Pak, maaf. Boleh minta tolong telfonin petugas hotel? Kamar saya kekunci. Terimakasih ya, Pak.” Tanpa menunggu jawaban, gue ucapin terimakasih aja lah pokoknya. Lama… lama… lamaaa… tapi kok gak ada bantuan juga. Gue sampe bolak balik lorong lagi, hingga ke lift lagi. Gak ada petugas datang juga. Gue kembali parno. Gue menganggap bapak-bapak tadi gak membantu, tapi beneran menganggap gue orang gila… atau dianggap setan kurang kerjaan? Arggggh….

                Asem asem asem. Kebelet pipis pula. “Di saat yang seperti ini kenapa harus ada acara kebelet pipis, sih???” Teriak gue dalam hati sambil melompat lompat di depan pintu kamar. Gue kembali menjauhi kamar, mendekati box berwarna merah yang berisi selang hydrant yang di atasnya terdapat fire alarm. “Pecahin gak yah pecahin gak yah pecahin gak yah?” Otak gue mulai ngawur. Kalo gue pecahin, semua penghuni hotel akan lari keluar kamar, menemani gue? Ah iya, mungkin keluar membunuh gue. Gak jadi deh. Terlalu ekstrim.

               Setelah gue hampir bunuh….. diri? Bukan. Bunuh urat malu, mau nekat turun aja, datanglah petugas hotel, membawa kunci kamar.  “Maaf, Pak, terlambat. Oh iya ini kuncinya, disimpan aja. Kalo bisa dikantongin ya, Pak.” Ujarnya sambil terengah-engah. “Heh! Sebegitu parah kah gue, akan mengulangi kesalah seperti itu? Sampe-sampe harus mengantongi kunci kamar sepanjang waktu?”

             Buru-buru deh gue masuk kamar dan menampar muka sendiri di depan cermin, lalu selfie keadaan gue terakhir. *mamam handuk*

ziaaalll

              Tobaaaattttt…..