Pembanding Sebanding Tak Sebanding

Tidak peduli dijadikan suruhan untuk membeli rokok ketengan atau mengambilkan air minum, yang penting saya bisa duduk sedekat mungkin dengan orang yang pandai bermain gitar. Itu saya lakukan di zaman lagu-lagunya Base Jam dan Stinky jadi lagu wajibnya anak nongkrong pinggir jalan di kampung. Di mata saya–waktu itu–orang yang pandai bermain gitar adalah sebahagiabahagianya umat manusia muda.

Ketika saya duduk di bangku kelas 2 SMA, rasa ingin bisa bermain gitar tak terbendung lagi. Sudah lelah menjadi penikmat belaka, saatnya menjadi pemain dan pusat perhatian, pikir saya waktu itu. Saya lakukan apapun untuk orang yang mau mengajari saya bermain gitar: membantunya memberi makan ikan di empang, membelikannya rokok sesering mungkin, menemaninya tidur di empang di antara bau amis pakan ikan, hingga menggendong anaknya saya lakukan. Kebetulan, yang rela dengan sabar mengajari saya yang kidal ini bermain gitar adalah seorang bernama Eko yang tak lain adalah penjaga empang.

Selain pandai bermain gitar, ia pandai bernyanyi meski merdu suaranya hanya cocok untuk lagu-lagu malasya dan dangdut, ia juga pandai menaklukkan hati perempuan. Tak sedikitpun saya sangkali cerita-ceritanya tentang perempuan semasa sekolah. Terlebih dia berpawakan tinggi tanpa lemak berlebihan di sana sini.

Setelah saya bisa bermain gitar, saya merasa terlahir kembali. Saya menjadi orang yang bisa diterima banyak orang lainnya dengan tingkat menghibur yang patut diperhitungkan di kalangan kampung. Hampir setiap malam saya bergitar dan bernyanyi tanpa  suara yang ditahan-tahan tanpa memikirkan apakah orang-orang di kampung terganggu tanpa peduli apakah orang yang mendengarkan bakal bermimpi buruk. Saya merasa punya suara bagus, disukai orang banyak, dan tentu saya bangga. Tidak ada sedikitpun perasaan kurang, waktu itu.

Hingga akhirnya saya hijrah ke tanah jawa untuk melanjutkan pendidikan. Saya mengenal lebih banyak orang, ya, yang sangat pandai bermain gitar. Pada tahap ini, saya hampir tidak berani menyentuh gitar. Untungnya diselamatkan oleh keunikan saya bermain gitar kidal tanpa mengubah urutan senar. Meski kemampuan saya pas-pasan, orang cukup mengagumi dengan itu. Saya mulai diajak mengisi acara non formal, semi formal, hingga acara formal. Saya mulai akrab dengan panggung pendek dan tinggi. Pada tahapan ini, saya masih belum memiliki perasaan kurang.

Waktu terus bergulir hingga mengubah perut saya menjadi buncit. Pergaulan saya setelah bekerja dan berkiprah di media sosial menjadi lebih luas, hingga ke Ibu Kota, Medan, Sulawesi, Kalimantan, dan di mana-mana. Orang-orang yang kemahiran bermain gitarnya level dewa semakin banyak masuk dalam daftar kenalan saya. Berada di antara mereka, saya mulai merasa tak lebih dari remah gorengan yang tak laku bahkan untuk seekor lalat.

Saya mulai membiarkan gitar menjamur, tergeletak di sudut kamar dengan senar yang tidak lengkap. Saya kembali menjadi penonton dari kejauhan. Sungguh titik balik yang menyakitkan. Pada  titik ini, saya tidak lebih dari seorang yang baru belajar kunci dasar.

Singkat cerita, saya akhirnya memiliki seorang anak berumur 2 tahun setelah melewati lika-liku perjalanan hidup yang teramat panjang. Ia begitu pandai membuat saya merasa sangat berarti. Ia selalu menagih saya bermain gitar di depannya, bernyanyi lagu kesukaannya–cicak cicak di dinding hingga pegal–yang membuat saya sadar: bahwa kemampuan saya bergitar masih ada gunanya, cukup untuk kebutuhan hidup saya soal musik. Juga istri saya yang sesekali menemani saya dengan nyanyian merdunya (bagi saya) memberi kontribusi banyak untuk saya kembali suka bermusik.

Lalu saya merenung, saya telah membandingkan kemampuan bergitar dengan orang-orang yang memang kebanyakan mencari rezekinya lewat jalur itu. Mereka pasti telah menempuh tempaan keras untuk mahir level dewa dalam bergitar, karena kebutuhan hidupnya terpenuhi lewat kemampuan itu. Tentu latihan dan konsistensi yang mereka bangun tidak semudah mencabut bulu ketiak yang mengganggu. Sementara saya? Ya, saya mencari rezeki tidak lewat jalur musik, saya menempa diri dalam bermusik tidak sekeras mereka, jam terbang profesional apalagi?

Pada akhirnya, saya kembali berkeinginan membeli gitar yang bagus. Bermain tanpa perasaan kurang kembali, karena kebutuhan saya tidak lebih untuk menghibur diri sendiri dan orang-orang terkasih yang menghargai keterbatasan saya. Tidak perlu lagi saya membandingkan kemampuan dengan orang lain. Saya tidak perlu merasa rendah di hadapan mereka yang mahir level dewa, seperti halnya saya tidak perlu merasa tinggi di hadapan mereka yang tidak bisa apa-apa dalam bermusik.

ziapload

Dengan tingkat percaya diri yang pulih, bahkan lebih baik dari awal saya bermusik, saya berpose dengan gitar. Bahkan istri saya bilang begini, “kamu tampak lebih bebas lepas berpose dengan gitar ketimbang dengan mahluk hidup.” Ya, saya pikir tidak harus musisi profesional yang pantas memiliki foto bagus dengan gitar, saya pun tak ada salahnya. Siapapun punya hak untuk itu.

Pelajaran soal gitar dan bermusik ini, mengantarkan saya pada perenungan tentang hal-hal lain yang rentan akan membanding-bandingkan dengan kemampuan orang lain. Again, kembali pada kebutuhan saja. Seperti kata mantan bos saya yang sekarang menjadi salah satu pimpinan Pindad Bandung, “Untuk apa kau pusing belajar merakit bom kalau tujuanmu hanya ingin membunuh nyamuk?”

Bagaimana menurutmu?