Penggandaan Sutan Takdir Alisyahbana

Setelah terindikasi mengalami tekanan darah tinggi di usianya yang masih kepala dua, Ibu disarankan dokter untuk mengkonsumsi timun. Kebetulan (bahan) makanan yang dipertanyaakan apakah buah atau sayur tersebut sangat mudah didapat, murah dan bahkan bisa didapati secara cuma-cuma di kampung saya. Tak disangka nyana, ibu terus mengkonumsi timun sebagai makanan favorit–bahkan dijadikan camilan. Manis. Gurih. Krauk–hingga akhirnya, lambung ibu mengalami gangguan hebat. Ibu jatuh sakit. Ia tak dapat mengenali orang. Badannya terkulai lemas di tempat tidur beralaskan tikar berbahan daun pandan.

Entah ada hubungannya atau tidak, ibu jatuh sakit setelah meninggalnya adik saya–Sutan Takdir Alisyahbana–yang baru berumur dua bulan, di tahun 1985. Di tengah sakit yang melandanya, Ibu didatangi Almarhum adik lewat mimpi, katanya. “Ibu, bangun. Jangan sakit lagi,” cerita ibu, menirukan apa yang ia lihat di mimpinya. Saya menyandarkan dagu pada lipatan tangan sendiri, mendengarkan cerita-cerita ibu tentang adik yang tak sedikitpun saya bisa ingat garis mukanya. Saya hanya tahu tentang nisan kuburnya di sebelah kepala Nenek Kisman. Itupun kata ibu, dan ibu yakin hanya berdasarkan dia ingat makamnya Nenek Kisman. Keyakinan ibu terkadang meragukanku. Ibu pernah berhenti mengunjungi makam anaknya itu sekian banyak tahun setelah Ibu cerai dengan Bapak pertengahan tahun 1989. Apakah terjadi tumpang tindih dan pergeseran makam di waktu tersebut, bisa iya bisa tidak. Tapi… semoga itu hanya pikiran kirtis saya saja, dan keyakinan ibu tetap benar sampai kapanpun. Jadi saya bisa mengunjungi makam adik saya (lagi) nanti saat pulang kampung, bersama ibu yang masih saja phobia makan timun.

Bicara tentang Almarhum adik saya–Sutan Takdir Alisyahbana–tanpa perlu saya tanya, sudah bisa dipastikan nama itu pemberian kakek, bapaknya bapak saya. Sebab hanya almarhum kakek satu-satunya orang di keluarga bapak saya yang suka mengikuti berita tentang tokoh-tokoh nasional dan internasional. Nama saya persis nama Perdana Menteri Pakistan, kakek yang memberi nama. Ada sepupu bernama Saddam Hussein, juga pemberian kakek. Begitu juga dengan Sutan.

Saya kagum dengan almarhum kakek. Bagaimana caranya dia mengakses berita, mengikuti jejak tokoh-tokoh sementara ia tinggal di ujung Bima sana, tempat yang tidak ada listrik dan sesuatu yang mewah waktu itu? Saya tahu dia punya radio merk national (kalau tidak salah ingat) yang menggunakan tenaga baterai, suara radionya sangat lantang, terutama di pagi hari, memancarkan suara berita gelombang AM. Tapi saya tahu itu setelah saya sudah menjadi anak sekolah. Apakah kakek punya radio sebelum saya lahir? Apakah ada mahluk bernama baterai di kampung saya sebelum saya lahir? Entahlah.

Kakek memilih nama Sutan Takdir Alisyahbana untuk almarhum adik saya, saya anggap kakek memiliki jiwa seni yang tinggi. Ia punya kekaguman tersendiri terhadap sastrawan sekaligus ahli bahasa indonesia tersebut. Sepertinya kakek juga pandai merangkai kata, buktinya banyak sekali buku catatannya dulu. Tulisannya bagus. Tapi tidak ada yang pernah saya baca, tidak ada minat sama sekali waktu itu, selain melihat sepintas lalu. Paling-paling itu catatan tentang urusan tani dan ternak, pikir saya.

Dan, istri kakek ada dua. Tak mungkin dia bisa menikah lebih dari satu kali kalau dia tidak pandai merangkai kata untuk berbujuk rayu. Setidaknya pendapat saya demikian.

Saya menerka-nerka, kakek dulu sering mendengar atau membaca (?) puisi-puisi karya Sutan Takdir Alisyahbana. Mungkin dia pernah membaca puisi yang berjudul Aku dan Tuhanku. Atau salah satu puisi kesukaanku yang berjudul Bergundah Hati?

BERGUNDAH HATI 

Di atas tebing duduk seorang kelana
Memandang arah ke tengah lautan
Dalam hatinya, gundah gulana
Teringat kampung dengan halaman

Pandangnya dilayangkan arah ke barat
Terlihat surya hampir terbenam
Sebab pun kelana, jadi melarat
Menurutkan hati yang remuk redam

Melihat surya, hampir beradu,
Cahayanya laksana emas perada
Hati kelana bertambah rindu
Terkenanglah ayah beserta bunda

Kelana duduk, hati bercinta
Suara hati rasa terdengar
Wahai kelana muda juita
Hendaklah engkau berhati sabar

JIka benar kakek membaca puisi-puisi itu, ganteng sekali ia semasa mudanya. Sayang, kakek meninggal sebelum pertanyaan-pertanyaan ini muncul di kepala saya. Bahkan, kakek pergi sebelum saya bisa pulang kampung, untuk sekadar melihat wajahnya terakhir kali. Ah, sedih sekali rasanya. Seringkali kakek datang menjenguk saya dalam mimpi, dengan senyum tanpa giginya, dengan kecerdasan yang senantiasa terpancar dari mukanya. Kakek adalah orang yang paling berpengaruh dalam hidup saya, soal belajar dan sekolah. Waktu saya sudah bekerja, hanya kakek pulalah keluarga yang menasehati saya bagaimana harus berlaku sebagai pekerja yang benar.

Tadinya, saya ingin menulis banyak tentang Sutan Takdir Alisyahbana di sini–baik yang lahir tahun 1908 dan meninggal tahun 1994 maupun yang lahir sekaligus meninggal di tahun 1994. Tetapi di tengah jalan, kakek muncul beserta rindunya di pikiran saya hingga muncul di tulisan ini, dan saya tidak ingin membelokkan tangan melawan pikiran demi tujuan awal.

Saya membiarkan kakek menggerakkan tangan saya mengetik hingga di baris ini, sebab saya selalu rindu akan sosoknya. Kalau boleh saya cerita tentang penghormatan saya terhadap kakek, saya akan merasa sangat berdosa kalau pulang kampung lupa berziarah ke makamnya. Dan, itu tidak terjadi pada yang lainnya. Ketika saya memimpikan kakek, saya akan menelepon bapak dan meminta bapak untuk berkunjung ke makamnya. Itu permintaan yang tidak boleh ditolak, saya pasti memohon itu pada bapak.

Hubungan emosional saya dengan kakek, jujur, melebihi kekuatan hubungan emosional saya dengan orang tua saya. Waktu saya pergi dari rumah, memutuskan pindah sekolah ke kota, kakek mencari saya–menempuh jarak 80km–naik motor honda grand keluaran pertama, hanya untuk memberikan sejumlah uang dan berpesan untuk saya tetap bersekolah. Saya pikir, uang hanya simbol, kakek datang jauh-jauh ke kota hanya pengin memastikan saya masih bersekolah.

Waktu saya sudah kuliah tahun kedua di Solo, tahun 2002–kebetulan waktu itu saya tak mampu sering pulang kampung–kakek mengajak saya bertemu di Jakarta, di tempat anaknya yang lain. Ia berangkat dari Bima naik bus malam, saya naik kereta ekonomi dari Solo. Ia melakukan perjalanan sebegitu jauh seorang diri. Di umurnya yang sudah sangat tua, tak sedikitpun kakek kesulitan mendengar dan membaca. Kau tahu, pertemuan dengannya di Jakarta tahun segitu, dia hanya menanyakan tentang perkembangan teknologi bernama handphone. Padahal saya tidak tahu banyak, baru punya HP–itupun bekas dan jelek sekali.

Yang bikin saya terkejut adalah ceritanya di hari kedua tiba di Jakarta–kakek pergi sendirian dari Jatinegara ke Ciledug, sendirian, dan tidak nyasar. Hebat! Memang sih, ini bukan kali pertama kakek ke Jakarta, tetapi kan sesekali dan tidak lama-lama. Oh ya, di Jatinergara ada anaknya dari Nenek pertama, yang di Ciledug adalah anaknya dari Nenek kedua.

Dan, sepertinya saya harus menghentikan tulisan ini, karena bakal tidak ada habisnya kalau terus diikuti. *senyum*

Temui keluargamu selagi masih ada, hubungi mereka lewat telepon atau chatting kalau terpisah jarak yang agak sulit dijangkau. Perbanyak mendengar cerita dan menggali cerita orang-orang penting dalam hidupmu, supaya tidak seperti saya, kerepotan mengumpukan cerita setelah orang-orang penting tidak ada lagi di dunia ini.

Selamat hari sumpah pemuda!