Pertamina Kekinian

Gambar Dari Sini

Pagi sedang cantik-cantiknya dihiasi keramahan mentari tanpa amarah panas menyambut kota dan kita dengan kata yang tak terdengar, saya meninggalkan rumah bersama anak dan istri—sekadar menikmati udara segar yang masuk lewat jendela mobil yang sengaja dibiarkan terbuka setelah AC dimatikan. Perjalanan belum sampai satu kilometer, muncul keinginan membeli sosis bakar yang biasa dijual di lapangan Merdeka setiap akhir pekan—saya memutar mobil dari kilometer nol Balikpapan menuju jalan minyak, berniat tembus pelabuhan Semayang yang berdekatan dengan lapangan keramaian yang dituju. Baru memasuki ujung jalan minyak, security sudah menghadang dengan palang yang entah mulai kapan dibentangkan. “Mas, belok kiri, Mas, masuk gang sono,” kata tangan kanan security yang menghadap ke arah saya,  dengan gerakan pelan namun pasti seperti boneka kucing di toko-toko orang china. Sayapun tak menepis arahannya, masuk ke arah lapangan Persiba yang mulai sepi karena adanya stadion baru. Setelah melewati lapangan, dua orang security mengarahkan kami untuk belok kanan. “Woi, buruan woi! Lo pikir berdiri macam begini gak capek apa? Buruan belok kanan dan jangan kembali lagi ke sini,” kata tangan kiri security berkumis aneh yang saya terjemahin secara ngawur. Saya terus jalan, hingga akhirnya keluar ke jalan jalur kilometer nol lagi. Ahelah, capek-capek muter kembali ke asal juga.

Saya yang penasaran dengan penutupan jalan minyak yang tumben-tumben itu melupakan sosis bakar, dan kembali ke rumah, lalu mencari informasi kenapa pagi ceria kami harus dirusak oleh sesuatu yang tidak kami ketahui? Eheeemmm… emang kamu siapa Zia harus dikasih tahu urusan begituan?

Dari hasil keterangan tetangga yang terlibat di kegiatan area kerja Pertamina, katanya sedang ada pekerjaan pengurasan tangki minyak pertamina yang melibatkan enam ribu pekerja sementara. ENAM RIBU! Saya ulangi kalimat si tetangga memastikan saya tidak salah dengar, dia pun mengulangi kalimat enam ribu karyawan sampai tiga kali, mungkin agak kesal dengan ketidakpercayaan saya. Entah beneran angkanya segitu atau tidak, saya tidak punya pilihan lain selain harus percaya dan diam. Pantas saja pagi-pagi jalan minyak yang sepanjangannya berjejer kilang minyak raksasa di sebelah barat dan di sebelah timur berjejer perumahan pertamina itu ditutup, ternyata dilewati ribuan karyawan yang menguras tangki.

Konon katanya, ribuan karyawan tersebut harus diperiksa kesehatannya setiap hari sebelum kerja. Kalau ada yang tidak fit sesuai dengan daftar periksa tim medis, karyawan tersebut dipulangkan dan tidak boleh bekerja. Iyasih, pekerjaan mengursa tangki adalah pekerjaan berisiko tinggi. Yang masuk tangki terancam kekurangan oksigen dan atau terpapar bahan berbahaya yang terperangkap di dalam tangki, kalau kesehatannya kurang oke bisa wassalaam. Saya salut dengan ketatnya sistem Pertamina untuk menjamin semua orang bekerja dalam kondisi sehat dan selamat. Yang saya kurang bisa membayangkannya, berapa banyak tim medis setiap harinya—harus memeriksa kesehatan ribuan orang setiap sebelum bekerja? Jangan-jangan para tim medis itu mendadak jadi robot, bergerak statis, suara yang dikeluarkan pun seperti settingan yang mustahil berubah dengan sendirinya, saking banyaknya manusia yang ditangani.

Akhir pekan berikutnya, saya pergi ke pintu masuk para penguras tangki pas jam sepi dan jalan minyak dibuka. Hanya untuk memastikan bahwa benar keramaian sedang terjadi di sana, dan pengin melihat jalur masuknya seperti apa—karena ribuan orang itu kan harus absen pastinya. Gak mungkin sembarang nyelonong begitu saja. Saya terjekut, sampai dibuat jalur khusus sebanyak kurang lebih lima lorong masuk yang disekat dengan pipa-pipa. Saya menghitung lorongnya agak buru-buru karena tatapan mata security penuh kecurigaan. Atau mungkin saya yang terlalu parno, entahlah. Saya bilang dibuatkan jalur khusus, karena gak pernah melihat bentukannya setiap melewati jalan tersebut sebelum keramaian ini.

Saya meneruskan perjalanan ke arah pasar inpres kebun sayur—melewati hotel blue sky—saya lebih terkejut lagi melihat bangunan apartemen yang sebegitu tinggi dan tampaknya sudah siap huni. Ya, itu adalah apartemen Pertamina, saudara-saudari! Terakhir saya lewat jalan itu pas Imlek, februari lalu. Masih tampak compang-camping di sana sini. Pas melihat yang terakhir ini, wuaaaa sudah berdiri megah dan menggiurkan.  Saya sampai bilang begini sama istri, “kayaknya enak nih kerja di Pertamina, bisa tinggal di apartemen baru nan keren begini.” Agak becanda sih. Istri nanggepinnya begini: “yaudah, cari lowongannya buru, terus lamar, terus kita pindah sini deh.” Hahaha…ngarep!

Saya pikir wacana perluasan kilang RU V Balikpapan itu hanya wacana atau rencana yang masih lama direalisasi. Kan, sering dengar kata teman-teman pegawai Pertamina kalau perumahan-perumahan sekitar lapangan Persiba bakal dirubuhin, untuk perluasan area bisnis pertamina di Balikpapan. Makanya dibangunlah apartemen itu. Dan, progresnya cepat gila. Semacam disulap gitu. Ya, anggap saja disulap. Kalau disulap, yang jelas bukan Uya-Kuya yang melakukannya—skill dia mah sebatas bikin drama hiptnotis panggung. Ehehehe.

Makin penasaranlah seorang saya. Pertanyaan enam tahun lalu waktu saya baru pindah ke kota ini muncul kembali. “Kota minyak dengan kilang sebesar itu kok bisa kesulitan bensin sih?” keluh saya di salah satu pom bensin yang penuh dengan antrian kendaraan karena hampir seharian stok bahan bakar kosong, di tahun 2011 lalu. Kalau sekarang sih yang terucap bukan lagi pertanyaan tetapi pernyataan: semoga dengan perluasan begini, dampaknya terhadap kota ini lebih nyata, gak ada lagi yang namanya kesulitan bahan bakar. Gitu.

Setelah baca sana-sini mengenai proyek pengembangan perusahaan BUMN Indonesia terbesar tersebut, ternyata yang sedang dilakukan pengembangan bukan hanya RU V Balikpapan, tetapi juga RU VI Balongan, RU IV Cilacap, dan RU II Dumai. Itupun disebut sebagai program pengembangan kelompok pertama, akan ada lagi yang namanya kelompok kedua. Bisa diasumsikan yang di Plaju Palembang (RU III) dan Kasim (RUVII) bakal dilakukan pengembangan juga? Atau, kelompok kedua nanti adalah realisasi rencana  pembangunan kilang minyak baru di Tuban dan Bontang yang santer kabar burungnya itu? Wah wah wah. Kalau kilang minyak baru di Tuban dan di Bontang yang segera direalisasi, ini kabar baik untuk pemenuhan kebutuhan minyak dalam negeri.

Pertanyaan lain yang selama ini bersarang di kepala akhirnya terjawab juga dengan banyaknya informasi terbuka, seiring dengan terwujud nyatanya proyek-proyek baru Pertamina saat ini. Pertanyaan yang saya maksud adalah: kenapa Indonesia harus impor minyak dari negara luar, sementara kekayaan alam di negeri ini begitu luar biasa?

Dari berbagai sumber yang saya baca, bahwasanya kebutuhan konsumsi minyak dalam negeri alias konsumsi nasional sebanyak satu koma enam juta barel per hari (1,6 MBPD: million barrel per day). Sementara kapasitas kilang minyak Pertamina yang ada sekarang tidak mencapai angka segitu yaitu hanya 1,05 juta BPD, angka segitupun tidak sepenuhnya tercapai oleh kapasitas operasi. Karena kapasitas operasinya sendiri hanya sampai 850-900 ribu BPD. Ini jelas-jelas defisit. Pantas saja masih ada proses impor.

Kalau beneran yang di Bontang dan Tuban itu jadi dibangun dan dalam waktu dekat ini, bakal kebantu banget. Katanya kan kapasitas satu kilang minyak baru sebesar 300 ribu BDP, dua berarti 600, ditambah pengembangan kilang minyak yang sudah beroperasi—harusnya lebih dari 1,6 juta BPD. Anggap saja lah bakal tembus angka 2 juta BPD, wah banget. Gak bakal ada lagi impor-imporan minyak. Semakin makmur sentausa lah kita kita ini. KITAAAA???

Menurut saya, memang harus menembus angka 2 juta BPD, apalagi melihat tenggat waktu proyeknya selama 7 tahun. Artinya, semua akan tuntas di tahun 2023. Semakin ke sana semakin banyak kebutuhan, karena ekonomi Indonesia juga semakin tumbuh. Katakan tumbuhnya 5-6%, berarti kebutuhan minyak nasional pun bisa mencapai 2,2 MBPD.

Kalau sudah menulis serius begini, saya jadi pengin pulang kampung, ikut jadi calon kepala desa. Kayaknya cocok jadi pejabat, meskipun sebatas pejabat desa. Entahlah, kenapa pikiran yang muncul seperti itu.