Pertanyaan Cinta

Sepasang kekasih menjalani pacaran selama beberapa tahun, bahkan dari masa kuliah hingga mereka menjadi sepasang orang yang sibuk dengan karirnya masing-masing, di Ibu Kota.

Selama masa pacaran, tidak ada masalah berarti yang mereka hadapi. Hanya menjalani hubungan biasa seperti orang pacaran pada umumnya. Dan, mereka cukup bahagia dengan itu semua.

Tibalah pada suatu hari, sang lelaki memutuskan untuk melamar wanitanya. Kedua keluarga besar bertemu, berbagi tawa dan perbincangan harapan bahagia masa depan. Suasana itu begitu hangat dan menggairahkan. Semua orang kembali ke rumah masing-masing membawa senyum yang merekah indah tiada terkira. Terlebih sang calon mempelai yang sudah mengikat-depan-kan hubungannya dengan cincin yang sama bentuk rupa namun berbeda ukuran.

Hari demi hari beganti minggu dan bulan. Sang wanita menemukan satu kejutan tak mengenakan. Ia merasa ada yang beda, ia merasa ada yang baru ia kenali. Ia merasa ada yang baru ditahu. ‘Pengetahuan’ baru ini membuatnya sesak, adalah sesuatu yang sama sekali tidak ia inginkan. Dunia seketika berputar terlambat, sesekali berputar terbalik. Mungkin di situlah dirinya lebih yakin bahwa bumi ini datar, bumi ini tidak bulat. Ia tidak bahagia. Berulang kali ia katakan dengan tegas dalam dirinya, dan ke orang terdekatnya.

Sang Wanita yang berubah gusar itu terus menyampaikan keresahannya, namun tidak banyak menceritakan detail ketidaksukaan barunya terhadap lelaki yang sudah dipacarinya bertahun tahun itu. Intinya, ia ingin memutuskan untuk membatalkan pernikahan. Rencana biar menjadi sampah rencana, tak perlu ada nasi yang harus menjadi bubur, kata Sang Wanita dalam pikiran. Yang membuat sang wanita makin bersedih adalah, suara penolakannya itu hanya terdengar serius oleh dirinya sendiri. Orang lain menanggapinya lucu, selalu melempar senyum. “Kamu tenang saja. Ujian orang mau menikah ya begitu, biasa itu.”

Sang wanita meminta lelakinya untuk membatalkan pernikahan, apapun yang terjadi. Minta bantuan kedua orang tua tiadalah guna, katanya. Saatnya untuk berterus terang kepada calon pasangan yang ia ingin abadikan seumur hidup menjadi calon. Sang Lelaki keberatan dan menentang itu dengan kata manis penuh cinta yang membuat Sang Wanita pengin muntah lewat telinganya. “Kita tuh sudah sejauh ini. Lagian, harus dengan apa lagi aku mengatakan bahwa  cinta ini tulus adanya?” Sang Wanita tak menggubris pertanyaan itu, melainkan mengungkit ‘sifat baru’ lelakinya, yang sudah berulang kali mereka bicarakan—namun Sang Lelaki tak ingin mengubah itu. Kali ini, Sang Lelaki memilih diam sejenak, lalu melemparkan lagi kalimat “Aku tuh cinta sama kamu!”

Sang Wanita kembali datang kepada orang tuanya, meminta semuanya untuk segera dibatalkan. Orang tuanya melotot dan tidak terima. Sikap demikian akan membuat malu keluarga besar, kata orang tuanya.

Undangan bukan lagi sudah dicetak, melainkan sudah disebar ke seantetro dunia keluarga dan handai taulan. Gedung sudah dibayar di depan. Katering, tukang make up, fotografer, semuanya sudah dibayar dengan rupiah–yang tampaknya lebih berharga dari nilai keputusan cinta itu sendiri. Sungguh keadaan yang mempertaruhkan materi dan kebahagiaan belaka. Dalam kondisi seperti ini, lebih banyak orang yang menyayangkan uang dan ‘harga diri’ ketimbang jaminan kebahagiaan selanjutnya.

Sang Wanita menangis sejadi-jadinya, tak seorangpun mendukung niat pembatalan menikahnya. Ia berteriak lantang pada dinding dan tempat tidurnya, tanpa pernah mendapat jawaban apapun. Semuanya sia-sia. Cinta hambar yang akan dijalani pun ia bayangkan sebagai sesuatu yang akan sia-sia.

Singkat cerita, Sang Wanita akhirnya mengalah. Ia menuruti maunya semua orang, kecuali dirinya sendiri. Ia dan lelakinya tetap menikah, dengan peluh air mata yang tumpah ruah dalam hatinya. Ia begitu pandai menutupi air mata untuk tidak mengalir ke pipi. Ribuan tamu undangan ia senyumi setelah mereka memberi salam dan selamat. Sayangnya, senyum itu lebih palsu dari gigi emas tempelan.

Setiap hari ia merasakan siksa bahin menjalani rumah tangga yang tiada bernuansakan bunga-bunga cinta. Rumah tangga yang tak lebih dari sekadar status. Berbagai pandangan coba ia minta, dari sahabat dan kerabat. Kebanyakan memberi masukan, kalau sudah menikah maka pilihannya adalah belajar untuk terus menumbuhkan cinta, tidak ada pilihan lain. “Nanti juga kamu cinta (lagi) kok,” kata orang-orang pada umumnya. Ia mencoba sekuat tenaga, meski masih penuh kepura-puraan dan keterpekasaan. Konon, kalau pura-pura bahagia—bisa jadi akan bahagia betulan. Kalau pura-pura cinta—akan jadi cinta betulan, meski perihal cinta sirna yang harus disinarkan kembali. Selalu itu saran-saran seperti itu yang ia dapat. Sampai pada akhirnya, ia melahirkan seorang anak dari lelakinya—yang entah dia cintai atau tidak, sudah terlalu sulit untuk membedakannya.

Setelah punya anak, ia begitu bangga atas dirinya, telah mampu melahirkan sesosok manusia yang teramat lucu. Ia sangat suka dengan statusnya sebagai ibu. Ia bangga punya anak. Ia bangga dengan cinta dari hubungan ibu dan anak. Tetap. Ia tidak cinta dengan suaminya. Ternyata. Cinta yang sirna itu tetap tidak bersinar.

Ia seperti main kora-kora untuk pertama kalinya. Saat melihat anak ia tertawa keras, saat pikirannya melihat suami ia teriak histeris campur ketakutan. Baginya, terlalu sulit untuk membedakan kepedihan dan kenikmatan. Sampai pada akhirnya ia tak mampu lagi menjalani hubungan bahagia yang palsu. Sebab, kini, ia tahu persis bahagia yang tulus itu adalah seperti hubungannya dengan si kecil. Ia membandingkan. Bagi orang lain, pasti tampak aneh. Suka dengan anaknya, tetapi tidak suka dengan yang ‘menurunkan’ anak itu. Tetapi baginya, logika tidak berlaku bagi kehidupannya kini.

Sekarang, orang tuanya melihat persis bagaimana keterpurukannya yang tak berujung. Pada akhirnya, orang tuanya pun menyetujui perceraian. Bahkan membantu proses perceraiannya.

Lalu sejuta pertanyaan jatuh gemblongan dari langit menuju pekarangan, lorong rumah, dan atap atap pos kamling: “kenapa lebih memilih perceraian ketimbang pembatalan pernikahan?”

Mohon bagi para teman-teman yang sudah sempat mampir ke laman ini, membantu memberikan jawaban, setidaknya pandangan yang mencerahkan. Tidak untuk melihat benar dan salah, baik dan buruk, hanya ingin melihat berbagai sudut pandang tentang kasus di atas.

Menurutmu, dengan melihat kasus di atas, keputusan mana yang lebih baik: pembatalan pernikahan atau perceraian? Kenapa?