Perusahaan Impian

Sebuah truk melaju kencang dengan kecepatan yang sulit diperkirakan dengan nalar biasa, entah apa yang sedang ia kejar sekaligus ia hindari. Sementara seorang ibu yang entah ke mana arah tujuannya–berusaha melindungi anak kecil di gendongannya dengan menutupi anaknya dengan ujung kerudung lusuhnya–terus berjalan tanpa peduli dengan truk mana yang telah menghasilkan debu sebegitu rupa, juga tidak peduli dengan keberadaanku yang menatapnya dari seberang jalan.

Aku disibukkan oleh pikiran-pikiran lalu, kini, dan nanti. Sampai aku kebingungan sendiri memilah mana pikiran yang pantas aku ikuti arah maunya, mana yang tidak perlu, sebab semua isi kepala saat ini bukan sesuatu yang penting dan wajar untuk dijangkau.

Hawa panas dari wajan tukang gorengan yang berada persis di belakangku, sedikit mengganggu lamunan. Aku bergeser beberapa langkah yang tak sempat kuhitung ke arah kiri, menjauhi tukang gorengan mendekati salah satu pikiranku tentang kantor. Aku duduk di bangku kayu tanpa izin, karena aku tidak tahu harus meminta izin kepada siapa. Aku menyulut sebatang Marlboro Black Menthol, menghisapnya, lalu menghembuskan kelegaan sembari menaruh korek merah merk Cricket di saku celana kiri depan.

Aku membiarkan pikiranku liar membayangkan kemulusan hidup: menghkayal jadi pemilik perusahaan idaman.

Di dalam pikiranku, aku membayangkan jadi pemilik perusahaan pada suatu waktu yang memiliki kantor paling manusiawi, setidaknya menurutku. Di kantor aku menyediakan ruang bermain dan istrahat untuk anak-anak, karena aku memperbolehkan karyawan membawa anaknya ke kantor. Di setiap ruangan anak-anak itu sudah aku sediakan setidaknya tenaga pengasuh anak, yang menjaga dan mengurus anak-anak selama orang tuanya bekerja. Makanan dibawa masing-masing oleh orang tuanya, karena bagiku, makanan ini soal selera, lebih pas tidak disediakan.

Ketika jam istrahat, karyawan yang membawa anak dibebaskan bersama anaknya. Bagi karyawan yang sedang menyusui, dia boleh memberi ASI kepada anaknya kapanpun ia mau, atau saat anaknya membutuhkan. Ini sama saja dengan pengalokasian waktu ibu menyusui yang melakukan pumping ASI di kantor lain pada umumnya, bedanya hanya mempompa dan menyusui langsung.

Bagi karyawan lajang, aku menyediakan ruang tidur dengan kasur mini seukuran badan atau kantong tidur di ruangan dingin dengan pembagian dua ruangan: laki-laki dan perempuan.

Kalau di kantor lain pada umumnya karyawan bekerja paling tidak 8 jam per hari, di kantor aku mengharuskan karyawan untuk bekerja 7 jam saja, meski tetap pulang ke rumah pada jam ke delapan. 1 jam sisa aku meminta karyawan untuk melakukan hal-hal yang mereka sukai yang fasilitasnya aku sediakan di area yang aku beri nama Arena Kehidupan (recreation hall) berupa; perpustakaan, mini theathre, studio musik, arena olahraga terbuka, jogging track, gym centre, kolam renang, cyber room dengan koneksi internet memadai, halaman tanaman hydroponic, halaman burung beragam rupa, dan dapur.

Namun di sisi lain, aku memupuk kedisiplinan tinggi pada seluruh karyawan: tidak boleh mengobrol ke sana kemari selama jam kerja, kecuali urusan pekerjaan yang menuntut untuk bertemu langsung. Ketika karyawan berkumpul dan mengobrol, tidak boleh membicarakan keburukan orang lain, apalagi menceritakan keburukan atau kekurangan pasangan dan keluarga mereka sendiri. Aku sendiri yang mengawasi hal ini, dengan alat bantu pengawasan yang terus dikembangkan. Kalau semua sudah berjalan baik, baru aku tidak begitu mengawasinya.

Sempat terpikir olehku, kesulitan untuk menemukan calon-calon karyawan yang mau diajak berpositif, hidup senang dan tenang dengan cara yang diatur, dalam kebebasan yang sepaket dengan kedisiplinan ketat seperti yang aku bilang tadi. Tapi pikiran itu berhasil dihalau oleh pendapat di sisi lain; banyak kok orang yang mengidamkan tempat kerja seperti itu, bisa bersama anak dan menikmati hiburan bermacam rupa yang difasilitasi perusahaan dan dihitung jam kerja pula.

Mungkin konsepku tentang karyawan membawa anaknya ke kantor itu menimbulkan pertanyaan, “nanti kerjanya tidak konsentrasi karena ada anaknya?” Oh, tentu tidak. Aku sudah mempertimbangkan itu matang-matang. Orang tua justru lebih khawatir dan tidak konsentrasi ketika anaknya jauh, telat mendapat kabar, menunggu waktu pulang untuk bisa bersama. Setidaknya pendapat terakhir ini berlaku di diri aku sendiri.

Soal jam kerja lebih pendek aku pikir tidak akan merugikan perusahaanku, karena di sisi lain aku melarang karyawan mengobrol membuang waktu percuma di tengah jam kerja. Dari pengamatanku di kantor umum lainnya, mengobrol tidak penting di jam kerja justru membuang waktu lebih banyak, lebih dari waktu satu jam yang aku alokasikan ke karyawan untuk bersenang-senang sebelum pulang.

Untuk mengadakan fasilitas dan sistem kesenangan demikian pastinya butuh biaya besar di awal. Tapi aku selalu percaya, bahwa tidak ada usaha yang sia-sia. Bahwa semua akan dibayar oleh produktivitas karyawan yang berlandaskan loyalitas, kepercayaan, dan saling menghargai.

Ibu yang menggendong anaknya sudah hilang dari pandangan mata, semoga mereka baik baik saja, pikirku. Aku harus pulang ke rumah, khayalanku tentang kantor sekaligus perusahaan idaman membuatku tersenyum sendiri. Sesampainya di rumah, aku menceritakan semua khayalanku ke istri dengan semangat yang menggebu-gebu. Istriku mengucap amin dan mengakhiri bincang khayalan dengan pelukan dan sedikit kecupan hangat. Bagian terakhir ini paling aku suka!