Puasa Media Sosial

Setelah delapan tahun berkutat di dunia media sosial, akhirnya saya bisa tidak bergantung lagi dengan keasikannya. Jujur, delapan tahun saya tidak melepaskan diri seharipun dengan media sosial meskipun saat berada di hutan yang susah sinyal sekian tahun silam. Waktu itu, saya bela-belain jalan kaki ke tanah lapang yang memunculkan seberkas cahaya harapan adanya sedikit sinyal demi bermedia sosial ria. Dari zamannya Friendster, Plurk, terus pindah ke Facebook, Twitter, Instagram, Path dan lainnya.

“Kamu seperti sedang kehilangan jati diri, Mas,” komentar istri saya saat mengetahui semua aplikasi media sosial di telepon pintar saya tidak ada lagi yang on. Semuanya sign off. Teman-teman juga banyak yang menanyakan kenapa saya gak pernah muncul lagi di twitter, facebook, dan lainnya. Tidak ada alasan spesifik sebenarnya, saya hanyalah orang yang suka melakukan sesuatu yang sedang yang ingini.

Pada suatu sore di atas laju roda bus kota saya menyandarkan muka di kaca menatap pergerakan demi pergerakan pengguna jalan di sudut kanan jalan, sementara lantunan lagu yang diputar pak sopir terus menggema melayangkan pikiran yang sedari tadi memang tidak fokus pada satu hal. Tiba-tiba muncul keinginan untuk rehat dari kesibukan dunia media sosial, tiba di rumah langsung saya lakukan.

Alasan justru muncul belakangan setelah saya menonaktifkan media sosial. Saya lebih banyak bermain fisik dengan anak, dan lebih banyak lagi mengobrol dengan keluarga dan teman-teman. Saya jadi sering menelepon sahabat lama, saya jadi mendatangi tetangga sekadar mengobrol kesibukan masing-masing. Ini bukan soal benar dan salah, tepat dan tidak tepat, ini hanya soal cara hidup yang harus bervariasi. Ada hal-hal yang sudah lama tidak saya lakukan, begitu dilakukan lagi rasanya menyenangkan. Tapi, bisa juga nanti akan terbalik. Saya bosan tanpa media sosial, lalu kembali lagi. Who knows? 

Seratus persen meninggalkan media sosial sih enggak juga, saya masih aktif di linkedin dan memantau youtube. Bedanya, saat mengakses youtube sekarang, saya lebih banyak belajar apa saja yang saya yakini akan meningkatkan pengetahuan sekaligus keterampilan saya baik dari sisi personal maupun profesional. Penikmat sekaligus pelajar. Kemudian di linkedin, biasanya saya hanya memantau lowongan pekerjaan dan meminta materi tertentu dari orang lain, sekarang saya mencoba untuk membangun personal branding yang mencerminkan bahwa saya adalah seorang profesional yang mengedepankan hati nurani–paling tidak sejajar dengan logika. Kenapa demikian? Saya sering merasa kurang nyaman dengan sikap orang-orang di tempat kerja yang terlalu mengagungkan logika, dan mengesampingkan hati nurani. Sementara kapasitas alam sadar tidak apa-apanya dibandingkan kapasitas alam bawah sadar.

Sekelebat pikiran saya sempat protes, “hidupmu jadi serius sekali, Zia?” Dengan segera saya membantah, justru sekarang hidup saya lebih santai. Jauh dari kata serius. Saya jadi suka membuka tulisan-tulisan lama yang saya endapkan di folder pribadi, membuka naskah-naskah novel yang gagal menjadi buku cetak, membuka draft ide-ide menulis konyol, dari situ saya tertawa sesuka hati. “Ternyata kamu bisa selucu ini, Zia!” kata saya lagi terhadap diri sendiri.

Saya juga beberapa kali bikin video lucu-lucuan dengan OB dan Security kantor, untuk hiburan sendiri. Selama take video, kami tertawa dan menggila. Selama editing, saya menikmati prosesnya. Setelah jadi, kami menontonnya bersama-sama, lalu saling menertawakan. Sesederhana itu saja. Sekali lagi, hidup saya tidak berubah serius kok hanya karena sejenak meninggalkan media sosial. Apalagi situasi media sosial saat ini penuh dengan keributan antar teman bahkan antar keluarga, justru yang hidupnya serius adalah mereka yang ribut tanpa ujung itu.

Dan saya menulis ini dengan sebebas-bebasnya, tanpa peduli dengan apa intinya, ini bicara apa, apa maksudnya, saya hanya menulis apa yang sedang ingin saya tulis. Dan ya, saya terlihat ganteng sekali pagi ini, mungkin cerminnya lagi jatuh cinta.