Rezeki Yang Tak Tertukar

“Beb, motor kita gak ada loh,” kata saya ke istri–Ifat–sesaat setelah kami membalikkan badan usai membeli tolak angin di sebuah apotek.

Kami duduk dan menaruh helm depan apotek, membicarakan kesalahan apa saja yang baru-baru ini kami perbuat. Apakah ada orang yang sengaja dan tidak sengaja kita sakiti? Kami sama-sama menggelengkan kepala setelah berusaha mengingat untuk mengoreksi diri. Motor hanya berjarak sedikit meter, stang motor terkunci, transaksi di apotek hanya sedikit menit. Agak janggal memang kalau motor itu hilang.

“Kalau memang hilang, ikhlasin saja ya, beb?” tanya istri saya. “kita upayakan uangnya untuk membeli ganti motor ibu yang hilang ini. Mungkin kita kurang bersedekah.”

“Iya. Insya Allah ada saja rezeki untuk menggantikannya,” jawab saya.

Setelah mengobrol banyak dengan istri, saling mengingatkan untuk ikhlas dan tetap tenang, saya menelepon Iwansyah–adik saya–untuk datang menjemput istri saya supaya balik ke rumah duluan. Biar saya yang urus masalahnya, meskipun badan dilumuri bau kotoran kuda akibat main di kandang paginya dan terkahir mandi kemarinnya.

“Beb, motor ini tadinya ada gak?” tanya istri lagi, sembari menunggu kedatangan Iwan.
“Gak ada. Tadi di depan tempat kita parkir motor, gak ada motor lain sama sekali, dan motor ini muncul setelah motor kita gak ada,” kata saya.

Saya tanya sana sini tentang pemilik motor honda beat biru itu. Dari toko sebelah hingga para nasabah BRI di seberang jalan tidak ada yang merasa memiliki. Saya dan istri yakin bahwa ketiadaan motor kami ada kaitannya dengan motor tak bertuan barusan.

Selain Iwan, Bapak dan Kakak sayapun datang ke TKP. Iwan mengantar pulang istri saya, bapak saya minta antar ke kantor polisi sekadar melapor, dan saya meminta tolong kakak menunggu motor mencurigakan itu. Selain film, motorpun ternyata kalau labelnya biru dapat menimbulkan kecurigaan.

Usai melapor, saya kembali ke TKP. Lokasi mendadak ramai. Saya meminta semua orang untuk tenang, toh kalau rezeki motornya pasti diketemukan. Kami pun mengecek jangkauan CCTV BRI di seberang, ternyata gak sampai ke jalan. Yasudah, skip!

Saya dan orang-orang saling beradu pendapat tentang berbagai kemungkinan. Ada yang bilang pencurinya sudah mengincar terutama wajah asing seperti kami, terus dicuri dengan segala keahliannya. Motornya ditinggal dan motor saya dibawa, nanti pas orang-orang lengah dia datang mengambil motornya. Masuk akal juga, karena saya dan istri pulang kampung paling setahun sekali, wajar dipandang asing. Dan modus motor ditinggal diam-diam mungkin saja terjadi.

Ada yang bilang motornya tertukar, karena sama-sama Honda Beat. Bisa jadi, karena motor yang saya bawa kuncinya tidak orisinil lagi. Tapi… agak aneh kalau tertukar tapi bisa jadi tapi aneh tapi bisa jadi tapi aneh tapi bisa jadi tapi aneh. Motor saya spionnya lengkap kiri kanan, motor biru mencurigakan gak ada spion. Motor saya dilengkapi plat nomor, motor biru mencurigakan tidak berplat. Motor saya putih oranye, motor biru mencurigakan warnanya sudah saya sebutkan barusan dan bahkan dari paragraf sebelumnya. Kunci motornya dia masuk ke motor saya, kunci motor saya gak masuk ke motor dia. Saya mengunci stang, dia tidak. Why?

Detik dan menit terakumulasi sampai 4 jam, kami mengobrol banyak hal dengan banyak orang di depan apotek, akhirnya Iwan mendapat informasi dari seorang ibu-ibu yang kenal dengan motor itu, untuk ke desa sebelah–besar kemungkinan motor ada di alamat yang entah di sebelah mana itu karena saya tidak menguping pembicaraan mereka. Benar. Tak lama Iwan pun kembali bersama motor yang sempat hilang. Katanya, memang tertukar tetapi si orang yang tak muncul batang hidungnya gak mau kembali menukar ulang motor karena takut digebukin orang. Katanya.

Banyak orang bertanya-tanya, kalau merasa tidak bersalah kenapa harus takut? Tapi saya menepis anggapan itu, positive thinking sajalah. Toh, harapannya motor kembali sudah terpenuhi. Saya mengucapkan terimakasih kepada keluarga, teman-teman, dan semua orang yang sudah peduli sekaligus menemani saya selama 4 jam. Dari jam 9 pagi hingga jam 1 siang.

Hal lain yang yang sangat kami syukuri adalah sikap tenang yang dianugerahi oleh Tuhan. Dengan tidak panik, kami menyelamatkan banyak orang untuk tidak turut panik, terutama bapak dan ibu. Sebab, panik cenderung menular.

Hikmah lainnya, suasana mudik lebaran jauh lebih terasa, meski sudah tanggal 5 Juli 2017. Jadi ketemu lebih banyak keluarga dan orang baru dan bahkan teman-teman SMP. Anggaplah ini kenangan unik manis luar biasa.