San’s Kekpisang Balikpapan

Namanya Nizar, usia tiga tahunan, sudah pandai main badminton semenjak usianya dua setengah tahun dan juga sudah pandai menginterogasi Abinya ketika Sang Abi hendak keluar rumah sendirian. Menggemaskan sekali. Energi anak kecil itu selalu berhasil memancarkan kebahagiaan bagi orang-orang di sekitar, terutama keluarganya. Kepandaian Nizar di lapangan badminton adalah nurun Abinya yang dulu seorang atlet–namun belakangan lebih memilih berkeringat di dapur ketimbang di lapangan hijau tak berumput tersebut.

Usan, begitu sapaan akrab Abinya Nizar. Dia temannya istri saya. Saya mengenal Usan semenjak saya dan Ifat menikah. Kebetulan setelah kami menikah, Ifat memesan kue yang enaknya tuh mengesankan. Ini kue aku pesan dari teman di Surabaya, kata Ifat. “Jauh amaaaat! Tapi gak percuma sih dikirim jauh-jauh, rasanya enaaaak!” kata saya singkat.

Usan adalah sosok anak muda yang berhasil membuat saya iri atas perjuangan hidup sekaligus keputusan hidupnya. Semenjak berstatus mahasiswa semester dua, dia memutuskan untuk membuka usaha kue di Surabaya–bermodalkan keyakinan dan desakan kebutuhan uang bulanan–sangat laris manis.

Sebagai perantau dari Balikpapan, keputusannya membuka usaha di Kota Pahlawan sedari usia belia tersebut patut saya acungi jempol. Kuliah sambil buka usaha, oke juga.

Awalnya Usan terancam tidak bisa kuliah karena tidak ada biaya. Daripada frustasi, Usan terus mengasah kemampuannya mengayuh raket badminton, dia gantungkan mimpinya menjadi atlet. Kalau memang keberuntungan menduduki bangku kuliah tak berpihak, tak apalah, yang penting bisa meraih prestasi di jalur lain. Setelah menjalani profesi sebagai atlet, Usan justru jatuh sakit.  Susahnya, Usan ini sedikit makan tetapi kalau main badminton bisa seperti orang kesetanan. Mesin saja kalau terus dioperasikan tapi gak diisi bensin dan oli ya bakal jebol. Bukan kalori lagi yang dibakar melainkan daging dan tulangnya sendiri. Hahaha!

Orang tuanya pun tidak tega melihat kondisi Usan yang sakit-sakitan, dan tak mungkin membiarkan Usan meringkuh di rumah tanpa ngapa-ngapain. Syukurnya, sang kakak menawarkan bantuan biaya kuliah mengingat orang tuanya tidak menyanggupi kelanjutan pendidikannya. Usan begitu senang akhirnya keinginannya untuk menjadi mahasiswa tercapai juga, meski di kepalanya, setelah kuliah tidak ingin menjadi pekerja seperti teman-teman pada umumnya. Unik memang.

Dia mengawali usaha rotinya yang ia beri nama Java Spikoe tanpa memiliki toko. Selebaran promosi rotinya ia sebar ke mana saja. Sampai akhirnya dia berhasil mendapat pelanggan di hampir semua kota di Indonesia, bahkan di luar negeri seperti Malaysia, Jepang, dan London. Wow! Sampai akhirnya dia memiliki toko yang cukup wah lah di sana.

Usaha tersebut ia rintis bersama kekasihnya, yang sekarang menjadi ibu dari dua anaknya. Usai kuliah mereka langsung menikah, dan tidak lama hamil. Pada saat masa kehamilan istrinya, Usan berusaha menekan egonya untuk menarik diri dari kesibukan usaha rotinya. “Semenjak punya toko roti, istrilah yang paling sibuk meracik komposisi roti terbaik kami. Saat ia hamil, tentu gak boleh capek-capek. Kalau sudah melahirkan, tidak mungkin istriku terus sibuk di dapur yang dampaknya bisa mengorbankan perhatian ke anak. Aku gak mau seperti itu,” ujarnya tegas.

Usan memilih kembali ke Balikpapan setelah anak pertamanya lahir, meninggalkan toko roti seisinya yang sukses ia bangun bersama istrinya. Menurutnya, Balikpapan adalah kota yang lebih cocok untuk membesarkan anaknya. Masih terasa suasana kampung dan lengang. Dia tak punya banyak alasan tentang itu, hanya mengikuti kata hati–hasil renungan dan diskusi dia bersama istri. Usan pun berhasil meyakinkan mertuanya yang merupakan orang asli Surabaya.

Tahun 2014 ia membuka usaha kuliner–Bebek Tugampal di daerah Gunung Malang, Balikpapan. Bebeknya enak! Saya dan teman-teman kantor sering banget pesan bebek di tempatnya dia. Usaha ini dia yang terlibat penuh menjalankannya. Biarlah istri mengurus anak, katanya.

Sayangnya usaha bebeknya tidak berlangsung lama. Ia berhenti di tengah jalan karena sulit mendapatkan bebek super. Harus ngambil bebek dari Jawa atau Bajarmasin, itupun dengan susah payah. Hal tersebut tidak serta merta mengendurkan semangatnya untuk tetap menjadi pengusaha, justru ia semakin semangat untuk tetap di rumah dan mencari ide usaha lain. Sampai suatu hari, Usan mendapat saran dari temannya: “Kalau mau usaha yang sukses, carilah usaha yang komoditasnya banyak, gampang dicari.” Usan mengangguk dan tidak menggeleng. Saran temannya tersebut sangat masuk akal. Dia mengakui, usaha bebek memang sebuah pelarian belaka. Hanya sebagai pengisi ajang coba-coba karena belum mendapatkan ide usaha yang cocok di Balikpapan.

“Wah, pisang!” Ide tentang pisang muncul berbinar-binar di kepalanya. Secara, orang Balikpapan sangat dekat dengan makanan berjenis pisang. Dari yang goreng, rebus, hingga yang dibakar terus digepengin. Kue-kue pisang juga banyak beredar di Balikpapan. Tapi kabar baiknya buat Usan, setiap dia menemukan kue pisang olahan orang, dia selalu mendapati ketidaklembutan. Kue pisangnya pasti keras. Ini kesempatan baik untuk mengubah citra kue pisang di Balikpapan–dari yang citra keras menjadi citra penuh kelembutan, pikirnya.

Singkat cerita, Usan akhirnya membuka usaha roti pisang yang ia beri nama San’s Kekpisang Balikpapan. San’s itu nama usahanya, Kekpisang Balikpapan itu produk andalannya. Nama San’s itu hampir tidak kelihatan, yang ia tonjolkan adalah Kekpisang Balikpapan. Biarlah orang mengenal produknya terlebih dahulu, toh nanti juga orang akan tau tentang San’s. Yang saya jual adalah makanan bukan toko, kata Usan. Dia juga mengubah strategi pengalokasian modal, tidak mau membuka toko dulu, biarlah modalnya dipakai untuk memperkuat usaha awal. “Untuk usaha roti, buru-buru buka toko itu hanyalah makanan ego belaka,” katanya tersenyum. “Toh, dengan memaksimalkan penjualan online saja sudah bikin saya dan istri kewalahan melayani pelanggan.”

Oh ya, sekarang istrinya tidak perlu repot di dapur meracik roti dan kue. Usan lah yang memegang kendali utama dapur. Terlebih, istirnya harus mengurus anak kedua yang masih bayi. Awal dia buka usaha ini, menggunakan sistem pre-order. Kalau sekarang, dia akan bikin sebanyak mungkin dengan atau ada yang memesan duluan. Dan pasti habis setiap harinya. Terkadang kurang. Wow!

Harga paling mahal 50an ribu. Roti ukuran sedang dan kecil tentu di bawah itu. Hanya saja, belakangan jarang ia produksi yang kecil. Ukuran kecil itu strategi di awal jualan, karena orang belum pada tahu. “Dengan ukuran kecil, orang tidak akan segan untuk memesan. Kalau tidak sesuai selera, gak kecewa-kecewa amatlah karena hanya membayar sedikit,” jelas Usan lagi. Sungguh anak muda yang penuh dengan strategi.

Selama bulan Ramadan ini, Usan menambah variasi produk rotinya–yakni Kekpisang Kurma. Laris manis katanya. Bisaaa aja dengan lincah melihat kebutuhan pelanggan.

Kekpisang Kurma inilah yang menemani begadang saya di Jakarta dua hari, waktu ada agenda meeting minggu lalu. Sengaja saya bawa dari Balikpapan, bentuk kebanggaan saya terhadap produk lokal dan hasil karya anak muda di kota saya tinggal. Enaknya gak pakai tapi loh.

Selain Kekpisang, Usan juga menyediakan kue-kue kering yang cocok untuk meramaikan meja lebaran. Rasanya jangan ditanyalah. Kenapa saya berani bilang begitu? Selain sudah saya cicipi, Usan ini adalah manusia langka–yang makanan pokoknya bukan nasi melainkan roti. Dari kecil dia memang tidak suka makan nasi. Makan pun hanya sebagai syarat membahagiakan ibunya, yang bakal sedih kalau tidak melihat Usan memakan nasi. Dan, nih, ya, dia seringkali makan nasi pakai roti. Kurang aneh gimana coba? Dia juga makan roti bisa pakai sayur dan lauk semacam orang sedang memakan nasi. Jadi, dia tidak akan main-main dalam membuat roti. Dia pasti menggunakan bahan-bahan terbaik. Karena yang dia buat haruslah menjadi makanan kesukaannya. Bayangkan saja, dia membuat roti-roti tersebut, seakan dia sendiri yang akan memakan semuanya.

Teman-temannya tidak banyak yang tahu, kalau pemilik San’s Kekpisang Balikpapan itu adalah dia. Promosinya lewat akun FB dan IG Kekpisang Balikpapan. Saya bilang, kenapa harus sok misterius?

“Saya dulu begajulan, Mas. Masa lalu saya itu bukanlah sesuatu yang begitu pantas untuk diingat. Ketika teman-teman tahu itu usaha saya, kemudian mereka mengingat saya di masa lalu, tentu kepercayaan mereka terhadap saya yang sekarang akan turun,” Usan menggaruk kepala setelah menyesap kopi hitamnya.

Saya tetap tidak setuju dengan pendapatnya Usan. Untuk itulah saya menuliskan ini di sini, saat ini, biarlah semua orang tahu bahwa cowok brengsek juga pantas untuk berubah menjadi sosok luar biasa–yang moto hidupnya tidak ada yang lebih penting dari keluarga.

Bagi teman-teman yang mau mencoba merasakan sensasi enaknya roti Si Usan, kamu boleh cek lebih lanjut di akun FB Kekpisang Balikpapan dan IG Kekpisang Balikpapan. Atau, bisa langsung tengok FB pribadinya Usan.

Saya hanya berpesan satu hal, kalau mencicipi rotinya Usan, tolong jangan ingat muka saya, khawatirnya kalian mual dan menyalahkan citarasa rotinya.