Satu Hati Untuk Selamanya

ZF batik

“Mencintaimu adalah acara terbaik untuk tau bertapa hidup ini penuh makna.”

Potret ini adalah ketika saya dan istri bernaung di satu atap kesibukan yang sama–tepatnya, adalah waktu terakhir kami di tempat sama yang bernama kantor. Kami sengaja mengabadikan momen tersebut, dengan batik senada yang diberikan oleh sahabat istri saat kami bertandang ke pekalongan awal April 2015.

Ketika saling sadar bahwa hari itu adalah hari terakhir kami berangkat dan pulang kerja bersama, hari terakhir kami sama-sama menjadi karyawan di kantor sekaligus perusahaan yang sama, hari terakhir kami berdua menjalani waktu 24 jam tanpa henti, rasa sedih dan senang saling tumpang tindih berebut tempat–hingga kami menertawakan saja perasaan perasaan yang timbul. Istri saya mendapat surplus bersama dengan 29 rekan kerja lainnya, karena kondisi bisnis perusahaan yang kian turun–memutuskan perampingan organisasi. “Doa anak itu memang luar biasa ya, sayang, begitu manis cara Tuhan mengabulkannya.” Ujar istri dengan kelegaan hati yang tiada terkira.

Sedih yang timbul bukan karena istri kehilangan pekerjaan, tapi lebih kepada perubahan yang terjadi terhadap rutinitas kami berdua yang biasanya tak ada jarak yang berani melerai waktu kami. Perubahan itu…tak ada lagi genggaman penuh semangat dan kecup lembut sesekali ketika saya harus menuju dan meninggalkan kantor, tidak ada lagi makan siang sederhana yang terkesan mewah oleh kebersamaan, tidak ada lagi kesibukan gila yang bisa saling kami tertawakan di tempat yang sama. Itu saja, tak lebih.

Di balik sedikit sedih yang timbul hanya beberapa waktu itu, ada rasa senang luar biasa yang patut kami syukuri, yang sepantasnya kami rayakan–malaikat kecil yang sering kami panggil ‘little zombie’, Alastair Zikril Haq tidak lagi harus menghabiskan waktu siangnya tanpa salah satupun dari kami yang menemaninya tumbuh mengenal dunia. Alastair Zikril Haq, sumber inspirasi kami, tidak lagi harus berebut perhatian di tempat Baby Care. Alastair Zikril Haq, sumber semangat kami, tidak lagi harus meminum ASI hasil pompa–Dialah kini sang pemilik waktu 24 jam dari kami, walau salah satu.

“Doa anak itu memang luar biasa ya, sayang, begitu manis cara Tuhan mengabulkannya.” Istri saya mengulangi kalimat syukur ini untuk ke sekian kalinya, hatinya sudah sangat mantap untuk di rumah saja, hingga waktu yang tidak ditentukan. Keputusan yang sebelumnya sering dipikirkan secara ragu-ragu, yang pada akhirnya diputuskan lewat cara-Nya. Berhenti bekerja dengan bayaran lebih.

Pada akhirnya, kami sama-sama menyadari bahwa inilah keputusan terhebat yang pernah disepakati dalam kurun waktu hingga tahun kedua memasuki usia pernikahan kami.

Terimakasih, waktu dan Pemilik Waktu.