Sekolah Tanpa Ijazah

Hidup adalah perkara pilihan belajar dari guru-guru bermacam rupa. Bahkan plastik bekas bungkus sari roti yang menyumbat saluran selokan pun bisa menjadi guru, jika kita mau belajar darinya.

Tadi siang, seseorang baik yang luar biasa berkata padaku, kurang lebih seperti yang kusesuaikan bahasanya berikut ini:

“Hidup ini tak ubahnya sekolah, Mas.
Belajar adalah tugas utamanya.

Ketika kau melihat seseorang tiada mendapat ujian kehidupan, besar kemungkinan ia memilih untuk tidak sekolah. Tidak salah, sepanjang ia mempertanggungjawabkan kedataran hidup yang dialaminya sendiri. Akan jadi masalah jika ia mengeluh tak naik kelas, padahal sekolah saja tidak mau.

Ketika kau melihat orang lain mendapatkan ujian yang cukup ringan, tak seberat ujian kehidupanmu, bisa jadi dia masih TK. Tak perlu kau bandingkan. Namanya anak TK, ujiannya ya palingan disuruh nyanyi tralala trilili.

Semakin tinggi sekolah kita, SD, SMP, SMA, dan seterusnya, ujiannya tentu semakin ketat. Bukankah sewajarnya kehidupan memang harus demikian?

Ketika ujianmu terasa begitu berat, ya berbanggalah terhadap diri sendiri, karena sudah menempuh sekolah kehidupan yang begitu tinggi. Pastikan kau lulus, dan jadilah ahli kehidupan untuk dirimu, dan jadilah manfaat untuk sebanyak mungkin orang.

Belajar lah lagi dan lagi
Belajar lah terus dan terus
Tak perlu kau pedulikan lembar ijazah
Sebab bukan lembar fana itu yang bakal kau bawa mati, melainkan ilmu dan amalannya semata.”

Tak ada sedikitpun yang bisa kusangkal kalimat-kalimat di atas.