Selingkuh Itu Indah?

Selingkuh itu indah bagi pelakunya–pelaku yang belum sadar kalau ternyata selingkuh itu tidaklah indah. Bagaimana mau indah, kalau orang pertama melakukannya berawal dari ketidakbahagiaan dia dengan pasangan resminya dan si orang ketiga menjalaninya dengan perasaan tidak diperlakukan adil. Terlebih, mereka menjalani hubungan itu secara diam-diam daradubidam dagdigdug!

Si orang ketiga merasa tidak adilnya di bagian mana? Well. Orang pertama punya pasangan, lalu menjalin hubungan dengan si orang ketiga. Artinya si orang pertama mendua alias punya dua kekasih. Sementara si orang ketiga tidak boleh melakukan hal yang sama–mendua–kecuali siap diberi sumpah serapah dan dituding tidak setia. What the…hah?

Tentunya dua paragraf di atas bisa diperdebatkan, dan pasti banyak yang tidak setuju, bahkan ada yang ingin menyampaikan banyak kalimat untuk menyanggahnya. Tetapi karena postingan ini tidak bertujuan untuk membahas tentang cinta dan hubungan saling silang, maka tentang perselingkuhan gue sudahi sampai di sini.

Gue tidak lebih dari sekadar ingin menulis tentang kaus kaki beda sebelah:

Beberapa hari lalu gue mengenakan kaus kaki beda sebelah, ke kantor. Bagian kiri berwarna hitam polos dan panjang, bagian kanan berwarna abu-abu campur biru dan pendek.

Muncul satu pertanyaan atas perbedaan itu, dari seseorang yang menemukan gue sedang memakai kembali kaus kaki dan sepatu di sebelah musholla: “tadi pagi pasti buru-buru dan tidak memerhatikan, ya?”

“Nggak kok. Saya melakukannya dengan sangat sadar,” jawab gue sambil melempar senyum tengil.

Lalu gue menjelaskan padanya, bahwa yang terpenting adalah fungsinya, bukan kesamaan warna dan bentuknya dan mereknya dan panjang pendeknya. “Saya nyaman mengenakannya, toh tidak kelihatan juga karena tertutup celana jins,” kata gue lagi.

Ia mulai mengangguk. Terus gue ceritain pernah memakai tas istri bermotif bibir ke luar kota, dan jam tangan hijau-jingga istri ke mana-mana.

“Warna pink dan motif bunga-bunga atau bibir milik semua jenis kelamin, tidak ada larangan telak cowok mengenakan itu. Selama barangnya layak dipakai sesuai fungsinya, dan bukan kekhususan cewek banget, saya rasa tidak ada masalah. Beha, sepatu hak tinggi, apalagi pembalut, tentu tidak pantas dipakai laki-laki. Kecuali laki-laki itu tidak mensyukuri sekaligus tidak mengakui keberadaan burungnya.” Begitu gue terus meyakinkannya, untuk menegaskan bahwa tidak ada yang salah dengan perbedaan kaus kaki gue.

Seratus persen dia setuju dan melempar senyum angguk-angguk. Bahkan dia mengiyakan dengan kalimat, “iya sih, sandal saja sudah banyak yang sengaja diproduksi beda sebelah.”

Yes yes yes!

Padahal, itu tidak lebih dari sekadar cara gue ngeles. Yes yes yes!

Ada kenyataan yang sangat jauh dari sederetan pernyataan di atas. Yes yes yes!

KISAH SESUNGGUHNYA:
Di suatu pagi, gue yang berencana memanjangkan kumis tetapi batal karena ternyata tampak aneh, menemukan kaus kaki berpasangan benar dalam kondisi basah, sebagian kotor, sebagian di ingatan tanpa penampakan.

Yang bersih dan kering dan ada adalah kaus kaki hitam panjang sebelah kiri dan kaus kaki abu abu pendek sebelah kanan. Tidak ada pilihan lain. Tapi, tolong jangan mengajak gue berdebat soal kiri dan kanannya kaus kaki, karena membedakan mana kaus kaki kiri dan mana kaus kaki kanan sama sulitnya dengan membedakan mana lipstik murah dan mahal yang sudah nempel di bibir Raisa.

Daripada membiarkan pikiran gusar, merusak awal hari hanya karena persoalan sepele, gue mengenakan kaus kaki yang berstatus pasangan tidak resmi tersebut secara sadar–penuh permakluman.

Tapi…

Apa yang gue jelaskan ke si seseorang yang tadinya merasa aneh dengan pasangan kaus kaki di awal cerita, adalah kalimat-kalimat yang gue gunakan untuk menenangkan diri sendiri, supaya tidak menyalahkan keadaan dan diri sendiri dan orang lain. Pikiran dan perasaan gue menerima kalimat tersebut seratu enam puluh sembilan persen.

Kesalahan gue saat pertama kali menanggapi si seseorang tadi adalah hanya menyampaikan kalimat permakluman yang meyakinkan, tidak langsung menceritakan latar belakang kejadian sesungguhnya, sampai akhirnya perasaan bersalah muncul begitu saja.

Menyadari kesalahan itu, segera gue menceritakan yang sesungguhnya ke si seseorang. Tanpa ragu dia mengumpat, “KAMPRET!” hahahahahaha!