Semarang ‘Banjir’ Hiburan

Semarang kaline banjir adalah suatu kalimat yang sudah hanyut ditelan perubahan besar-besaran, perbaikan berkesinambungan, dan upaya positif pemerintah dan masyarakat yang akhirnya kalimat tersebut terlupakan sekaligus tergantikan oleh wajah baru Kota Semarang yang kini lebih pantas disebut Semarang banjir hiburan. Sudah minim dijumpai banjir yang membabi buta. Tahun 2010 lalu, saya beberapa kali mengunjungi kota surga kuliner ini–mengantar adik yang mau masuk kuliah di UDINUS. Tahun 2015 saya ke sana lagi dalam rangka si adik wisuda. Bila saya membandingkan kunjungan terdahulu saya dengan kunjungan ke Kota Semarang pada tanggal 5-7 Mei 2017, sangat jauh berbeda pemandangan yang disajikan di setiap sudut kota hingga daerah pinggir. Jika diibaratkan pertumbuhan seorang perempuan, perubahannya tuh seperti gadis remaja yang beranjak dewasa, di mana aura cantiknya sudah muncul memancing mata untuk melirik genit. “Gokil nih perubahan kota,” kata saya dalam hati.

Saya pikir, pantas saja sekarang mendapat julukan sebagai Semarang Hebat. Fasilitas umum yang menunjukan julukan tersebut banyak, salah satu contohnya sederetan banyak ambulance gratis bertuliskan ambulance hebat yang saya temui dekat hotel saya dan rekan-rekan blogger (kami) menginap. Belum lagi pendisiplinan ruas jalan utama, gak ada kendaraan parkir sembarang. Kalau sampai ada, bakal digembok rodanya, dan si pemilik kendaraan bakal menyesal enam puluh sembilan turunan. Tak usahlah kendaraan parkir sembarang, penjual jajan sembarang pinggir jalan saja susah ditemui. Bahkan, waktu acara Semarang Night Carnival begitu sulitnya saya mencari penjual asongan–hanya sekadar untuk membeli tembakau berbungkus kertas yang dilengkapi filter untuk memenuhi kebutuhan aktivitas mulut. “Gokil nih ketertiban kota,” kata saya saat menulis tulisan ini.

Masyarakat pun tak mau kalah dalam memberi andil mengembangkan kemajuan kotanya. Hal ini terbukti waktu kami mengunjungi kampung herbal yang mana penduduk setempat berlomba-lomba mempercantik kampungnya, membuka akses wisata, terlibat aktif dalam promosi dan pengembangan berbagai jenis makanan khas. Begitu juga waktu kami mengunjungi hutan mangrove, ada satu spot yang membuat mata terbelalak yaitu pemandangan ban bekas sepanjang berkilo-kilo meter di pinggir laut untuk menahan kikisan air laut terhadap daratan sebagai penyempurnaan kekuatan hutan mangrove itu sendiri. Kau tahu, ban bekas itu dicari, dikumpulkan, dan dipasang oleh warga Tapak. Bukan biaya dari pemerintah atau gerakan berbonus pundi-pundi rupiah atau piagam, hanya bentuk dari kepedulian masyarakat yang… ah, bikin saya malu karena tidak banyak berbuat untuk alam. “Gokil nih masyarakat pada,” kata isi kepala yang mendadak muncul saat ini dan saat  itu.

Tak heran pada saat mendatangi berbagai keramaian, orang-orangnya begitu bangga dan cerah ceria berada di tengah keramaian–entah sebagai pengundang keramaian ataupun pengunjung keramaian. Entah sebagai pemerintah, pengusaha, penikmat remah gorengan, ataupun pendamping temannya yang sedang enggan sendiri. Waktu mengunjungi keramaian Waroeng Semawis (semacam pasar malam), kehangatan penjual, pekerja, dan pembeli begitu terasa. Dan, itu tertular juga di kami yang datang numpang makan gratis. Hahaha! 

Begitu juga waktu perayaan ulang tahun Kota Semarang di Balaikota, tak terlihat  sedikitpun kesenjangan tamu undangan resmi berbaju rapi jali yang duduk deretan kursi berhias pita kain dengan masyarakat umum yang datang menonton dengan pose berdiri di berbagai sudut halaman Balaikota. Semua pihak menikmati belaka. Berjuta kaki dan kepala serentak bergoyang dengan caranya masing-masing selama lantunan musik orkestra digaungkan di atas panggung besar itu. Saya pun tak mau ketinggalan untuk angguk-angguk geleng-geleng, meski bagian kencangnya hanya pada saat lagu Bon Jovi berjudul Is My Life dinyanyikan. Pengin rasanya menetap saja, menjadi warga Semarang yang tiba-tiba diberi pekerjaan enteng dengan gaji puluhan juta dan rumah gratis. Eh! Maaf maaf. Mohon dimaklumi, saya anaknya suka ngelunjak ngawur minta ditonjok sampai ancur.

Terlebih pada saat puncak acara yang menjadi rangkaian ulang tahun Kota Semarang, yaitu Semarang Night Carnival atau disingkat SNC–ramainya naudzubillah. Seperti keramaian di Balaikota dan keramaian lainnya, tidak ada orang yang saling sikut meski hanya tamu undangan resmi yang mendapat kursi. Semua berbaur begitu saja meski sampai berdesak-desakan penuh gejolak kawula-tua-muda menikmati berbagai macam pertunjukan; marching band dari ratusan manusia ganteng, parade kostum–kostum burung blekok, kostum lampu lampion, hingga kostum bunga kembang sepatu. Nah, hebatnya, peserta parade kostum tersebut sebegitu menikmati kencantikan uniknya meski berat kostum mencapai 15kilogram yang dipakai dari sore sampai larut malam. Kalau orang kaya saya, pasti sudah mengeluh minta ratusan bidadari dari kayangan didatangkan untuk memijat setiap inci badan saya–gratis! Beda produk, beda semangat memang. Hih! 

Parade kostum berlanjut keluar ke jalanan–menempuh perjalanan berkilo-kilo meter–tetap dengan berat yang tak mampu diemban oleh seorang saya itu. Semua lapisan masyarakat menikmati dari berbagai tempat yang mereka sukai. Saking serunya keramaian jalanan yang dibalut parade kostum, para remaja yang niatnya datang pacaran memanfaatkan situasi ramai–pasti mendadak merasa dirinya jomblo–tak peduli kanan dan kiri. Kami yang pulang dari panggung SNC dalam kondisi penuh kelaparan, berjalan kaki menuju hotel, dan mampir hendak makan di berbagai warung, namun tak kebagian. Saking sudah diserbunya oleh masyarakat yang puas menikmati keramaian kota. Kau tahu, ramainya Kota Semarang dalam kondisi ini tak beda jauh dengan perhelatan malam tahun baru. Perlu saya bilang gokil lagi gak nih?

Jangankan pemerintah dan masyarakat, monyet saja gokil loh di Semarang ini. Jadi pengin bilang wow sambil salto di pucuk tanaman mangrove tau gak sih? Saya bilang gini karena waktu mengunjungi Goa Kreo–saya dihadang oleh salah seekor monyet. Kalimatnya benar gak sih? Atau, salah segumpal monyet? Atau, salah semonyet ekor? Atau… ah, sudahlah. Saya dihadang bukan dalam rangka mau diajak kelahi atau diajak berdebat mengenai pasangan (calon) Gubernur DKI mana yang paling baik, bukan. Tetapi dihadang karena saya berjalan menenteng sebotol Pulpy Orange–dia tergoda dan pengin minum tapi gak mampu beli. Oh, mungkin bukan gak mampu beli, tapi malas tawar menawar dengan bahasa manusia. Saya ikhlaskan begitu saja minuman yang baru saya sesap dua teguk itu. Gokil parahnya, ketika dia membuka botol tanpa kikuk, dan meminumnya selayaknya manusia. Tadinya saya sempat diingatin, hati-hati membawa minuman ber-rasa di situ, bakal diincar sama monyet. Saya mah gak peduli, karena tidak percaya dengan kepandaian monyet bisa sejauh itu. Kenyataannya memang iya. Gokil parah parah parahnya lagi, si sekutu monyet ini tak doyan air mineral. Mereka doyan minum penuh rasa bukan juga kesenangan membabi buta, ya, sesuai kebutuhan saja. Contoh saja waktu mereka melakukan atraksi panjat pinang ala monyet; di situ tergelantung sekian banyak minuman berwarna merah muda, mereka tidak langsung mengmabil minuman, melainkan merebut kacang rebus, jagung, ciki ciki, dan makanan lainnya, kenyang baru deh minum. Sungguh monyet yang terdidik. Ya, terdidik. Selain soal pandai mengurut makanan dan minuman, mereka juga menurut untuk ikut atraksi saja daripada menghancurkan tanaman kebun masyarakat. Tak sia-sia pemerintah berniat baik untuk membuat wadah bagi para monyet–ajang pemberian makan berbungkus hiburan untuk mencegah keliaran mereka memasuki kebun demi kebun yang merugikan masyarakat.

Yang lebih menyenangkan lagi dari Famtrip Blogger 2017 ini, kami didampingi oleh perwakilan staff Dinas Budaya dan Pariwisata Kota Semarang, Finalis Denok-Kenang, Pengurus BP2KS (Badan Promosi pariwisata Kota Semarang), dan tentu sepaket dengan Polisi Pariwasata. Oh ya, Polisi Pariwasata yang mendampingi kami selama dua hari ini adalah wujud manusia yang banyak piknik. Hidupnya woles. Senyumnya murah meriah. Guyonannya receh tapi mengesankan. Dari sosok dua orang itu saya simpulkan, bahwa orang baik yang banyak piknik itu akan menjadi pribadi 2 kategori: kalau gak lucu, ya ganteng. Selera mata mamah muda banget. Oups…

Buat kalian yang mau melihat foto-foto keindahan Kota Semarang, boleh loh mengunjugi laman blog teman-teman saya: Daeng Ipul Terkadang Lupa Umur, Rere Kuch Hota Hai, Lenny Indonesia Banget, Tari Tak Suka Menari, Titi Parah1ta Yang Entah Mengapa Harus Pakai Angka Satu, Mbak Prima Malu-Malu Tapi Mau Ehm, Richo Tukang Ngancem, Gus Wahid Penikmat Tidur Kesiangan, Timothy Ketumbar Miri Jahe, Oline Yang Suka Kebaca Online, Dewi Yang Datang Sama Suaminya, Dimas Suyatno Yang Kok Dipanggil Yatno Dan Ternyata Suaminya Dewi, Wira Pengagum Si Rambut Panjang, Pungky Yang Bangga Berlabel Blogger Desa, Aryan Dramakingqueen, Tehnit Yang Kaget Akan Keberdaaan Bar Syariah, Yayan Om Gendut Berbadan Agak Langsing, Mia Jelata Pencitraan, Gio Lelaki Baik-Baik, Dan Koh Sinyo Penggelar Konser Ngorok.

Selamat ulang tahun yang ke 470 tahun, Kota Semarang! Jayalah selalu, selalu lah di hati setiap orang yang singgah padamu–menetap ataupun sementara.