Semau Gue

Kalau ada laki-laki yang bilang mengurus anak itu gampang apalagi berani mengatakan bahwa perempuan sekaligus ibu banyak drama dalam mendampingi anak, berarti laki-laki macam begitu pantas disunat tiga kali. Sunat pertama secara prosedural lewat mantri/dokter, sunat kedua pakai kapak, sunat ketiga pakai sembilu. Tidak gampang bukan berarti tidak menyenangkan, konteksnya bukan itu. 

Saya mengambil cuti sepuluh hari dalam rangka liburan keluarga, benar-benar tidak mengurus hal lain selama waktu tersebut. Selama punya anak, ini adalah cuti terpanjang saya. Alastair yang biasanya melihat saya berangkat kerja pagi, pulang sore, akhirnya bisa melihat bapaknya sepanjang waktu dia melek. Walhasil, dia maunya sama saya terus. Mungkin dia berpikir, “Enak saja papa mau santai-santai. Gantian mama dong yang santai. Mama kan gak pernah libur mengurusi aku.”

Tidak banyak hal yang dituntut Al selama saya cuti. Hanya main, main, main, jalan, dan gendong. Tidak dipenuhi sama dengan tangisan menggema. Dia tidak peduli jam berapapun selama dia ada mau, saya harus memenuhi itu. Di jam aktifnya dedemit sekalipun.

Bicara soal bermain dan bereksplorasi, sebenarnya Al tidak mau terlalu dikhawatirkan. Karena kekhawatiran banyak membatasinya, setidaknya saya bisa membaca itu lewat reaksi-reaksinya. Saat dia jalan di keramaian tidak mau digandeng, saat dia memanjat tembok pagar tetangga tidak mau dipegang kecuali pada saat dia mau melompat. Pada saat dia melihat-lihat ikan di kolam, tidak mau ditunggui terlalu dekat. Pada saat hujan turun, dia tidak mau dilarang ke luar rumah. Pada saat dia melompat dari kasur atas ke kasur bawah, tidak mau ada uluran tangan standby. Dia maunya bebas lepas.

Tapi namanya orang tua, tidak mungkin membiarkan begitu saja, karena keselamatannya adalah utama. “Jangan sampai kita menyesal seumur hidup karena kita lengah,” kata istri saya berulang kali, sampai kalimat tersebut begitu melekat di kepala. Saya akui, memang Alastair tau mana yang berbahaya dan tidak. Tetap saja punya batasan nalar. Misalkan soal melompat, dia tidak akan berani kalau terlalu tinggi sekaligus lantainya keras. Dia hanya berani kalau lantai papan, karpet tebal ataupun kasur sekalian. Kecuali saya sudah siap siaga menangkapnya dari bawah. Naluri selamatnya ada banget.

Pada suatu hari di akhir tahun 2016, akhirnya saya mencoba membiarkan dia berlaku bebas lepas. Saya hanya mengawasinya dari kejauhan. Dia ke kolam ikan, awalnya hanya ngasih makan ikan dan memukul-mukul air dengan tangan kiri kanannya. Akhirnya dia mengambil gayung, menyiram kepalanya tiada henti dengan air kolam yang sudah berwarna hijau. Dia mengguyur sambil teriak senang. Sampai dia berhenti sendiri karena kedinginan baru saya samperin, angkat, bawa ke kamar mandi. Begitu tiba di kamar mandi dia minta minum. Saya tinggalin dia sendirian. Begitu kembali, dia sudah tidak ada. Rupanya lari kabur, menuju depan rumah dengan kondisi telanjang bulat.

Sore harinya, turunlah hujan pemicu suara bising atap rumah. Alastair langsung lari melewati pintu kamar sekaligus pintu depan rumah. Biasanya saya atau mamanya akan lari mengejar, mencegahnya untuk tidak menjangkau hujan, lalu membopongnya kembali ke kamar yang diikuti kunci kamar diputar ke kanan. Cekrek. Kali ini tidak, saya membiarkan dia berlari. Sesuatu yang mengharukan–setidaknya buat saya–terjadi. Alastair rupanya tidak membiarkan kepalanya diguyur hujan, justru dia duduk di emperan rumah, menatap hujan tanpa banyak pergerakan, dan menutup telinganya akibat suara bising atap rumah. Saya seperti melihat diri sendiri yang sering merenungi kehidupan sambil menatap hujan diam-diam.

Selama liburan Alastair susah sekali tidur siang. Tidur malam juga suka terlambat, terkadang sering bangun di tengah malam. Kemungkinan terbesarnya karena dia tidak biasa di rumah orang, meskipun keluarga sendiri. Apalagi di Pekalongan, yang segala sesuatu yang dia lihat berbeda sekali dengan apa yang biasa dia kenal baik di Balikpapan. Untuk itulah saya mencoba menuruti apa-apa yang dia mau, meski tidak seratus persen diikuti. Dia mau naik sepeda dengan duduk di keranjang depan, saya turuti. Bolak balik sampai pantat sakit akibat guncangan banyak polisi tidur pun tidak mengapa. Tangan kiri pegal karena menahan ketidakseimbangan gerakan Al yang berat badannya 13 kilogram pun tak apa. Yang penting dia senang. Belum lagi kalau sudah ngotot mau jalan naik mobil seperti waktu di rumah sendiri, terpaksa pinjam mobil. Lucunya ketika saya membawanya keluar naik mobil berdua, dia teraik histeris ketika saya belok kanan–keluar dari gang rumah keluarga itu. Anak umur dua tahun empat bulan mengetahui persis jalur jalan itu terlalu hebat ingatannya, menurut saya. Dia tahu kalau belok kiri menuju ke jalan umum sekaligus arah ke kota. Kalau belok kanan, itu masuk ke kampung-kampung dan persawahan. Aduhai…

Satu hal yang saya turuti dengan terpaksa adalah ketika dia terbangun jam dua malam, dia minta minum, lalu minta ke luar rumah. Saya yang masih sangat ngantuk , tegopoh-gopoh menggendong dia ke luar. Dia minta manjat tembok pagar, berdiri sejenak, lalu melompat. Saya harus menangkapnya. Setiap lompatan dia cekikikan. Jam dua ini!

Saya bilang sama Al, “kalau tiba-tiba tetangga melempar batu karena mengira kita adalah hantu menyebarlkan bagaimana?” Dia tidak menjawab. Al tetap saja minta naik tembok padar, lalu melompat dan cekikian dan berbicara apa saja yang tidak saya pahami.

“Nak. Suaranya pelan-pelan dong. Kalau tetangga bangun, terus mengintip keluar dan melihat kita dari kejauhan dan mengira kita ini adalah hantu menyebalkan, terus kita dilempar batu bagaimana?” Dia tetap tidak menjawab.

Setengah jam berlalu. Saya mulai agak takut. Beneran takut. Saya gendong dia, melangkah mendekati pintu rumah dengan niat masuk kamar. Dia menangis, justru makin menakutkan. Takut benar-benar mengganggu tetangga. “Nak…jangan menangis, please. Kalau kamu nangis begini terus, mama papa malu sama orang-orang. Nanti dipikir orang, mama papa enak-enakan tidur, tidak mau bangun mengurus anak. Apalagi dipikir mama papa sibuk bikin adik, sampai gak sempat mengurus anak yang sudah ada.” Lagi dan lagi, dia tidak menjawab. Jangankan menjawab pernyataan demikian, dia memanggil kakeknya saja jadi kekok. Dan, menyebut telepon saja jadi fotefo. Sampai akhirnya dia kecapekan dan tertidur. Maunya tidur di perut. Saya geser sedikit saja sudah mau bangun.

Pagi harinya dia juga bikin saya terkejut sekaligus deg-degan. Di belakang rumah keluarga ada dua burung dalam sangkar, tanpa babibu dia pergi melihat burung yang tidak sempat saya tanyakan namanya itu: dia ambil kursi plastik di depan rumah, dia seret lewat garasi samping sampai belakang rumah. Dia taruh kursi plastiknya di depan sangkar burung persis, dan menaikinya. Itupun masih harus mendongak karena sarangnya masih lebih tinggi dari dia yang berada di atas kursi.

Sempat pinggang saya sakit karena kebanyakan menggendong dia, tapi saya malu mau mengeluh. Istri sempat bilang, “sabar yah, anaknya lagi pengin sama papanya banget. capek?” Tentu saya menjawab tidak. Baru juga sepuluh hari. Istri mengurus dia sudah hampir dua setengah tahun tanpa henti.

Semakin lama mengurus anak, rasanya semakin berdosa sama orang tua. Sebab sudah terlalu banyak hal dilakukan yang pernah menyinggung perasaan orang tua, padahal menjadi orang tua tidaklah semudah mencari kutu di kepala sendiri.