Seribu Sembilan Puluh Enam Hari

Waktu tiga tahun untuk perjalanan berkarir di sebuah instansi, sudah merupakan titik aman–karena seseorang sudah melewati masa adaptasi, sudah menguasai berbagai tugas dan tanggungjawab utamanya. Namun pada titik aman pertama ini, seorang pekerja mulai dihinggapi perasaan hitung-hitungan, merasa memberi kontribusi lebih dari seharusnya, yang mana jika cara perhitungannya tidak bijak maka tingkat loyalitasnya terancam menurun. Saya tidak mengatakan hal dan waktu tersebut berlaku untuk semua orang, tapi umumnya yang saya temui demikian.

Saya pikir perjalanan pernikahan agak mirip juga dengan berkarir di pekerjaan. Untuk itulah, saya sangat bangga sudah mencapai usia pernikahan tiga tahun–melewati suka duka sebegitu rupa–dengan berupaya untuk tidak membanding-bandingkan atau tidak banyak perhitungan. Tentunya, saya dan istri sangat amat siap melanjutkan perjalanan yang lebih panjaaaaaaaaang lagi, berharap tak menemukan ujung dan tak menemukan jalan putar kembali.

Pernikahan bukanlah madu murni yang melulu manis, bukan pula sari sambiloto yang pahitnya tak keruan. Pernikahan merangkum segala rasa, yang mempersembahkan kebahagian lewat dua sisi–tergantung bagaimana menyikapinya. Sebaliknya, jika tidak bijak menikmati proses, yang manis bisa dirasa ancaman penyakit dan yang pahit bisa merusak selera. Pernihakan saya tak terkecuali, ada saja masalah-masalah yang dihadapi.

Saya yang semasa bujang hidup bebas dari sabang sampai merauke tanpa mau banyak berurusan dengan aturan hidup yang terlampau mengikat, pasti berusaha keras untuk menjadi sosok manis yang menghabiskan banyak waktu di rumah. Saya yang biasanya berteman dengan siapa saja dengan waktu yang tak terbatas, harus lebih pandai menentukan skala prioritas supaya tidak mengganggu kenyamanan hubungan rumah tangga.

Istri saya yang semasa lajang suka berwisata bahari namun tidak terlalu membuka diri dengan pergaulan yang terlalu luas, juga pasti berusaha keras untuk menyeimbangkan kebutuhan bersenang-senang karena saya lebih senang ke daerah persawahan dan lebih membuka diri dengan orang asing. Istri saya yang biasanya tidak banyak dibantah pendapatnya oleh orang-orang di dekatnya, harus menjalani hari-hari dengan sosok seorang saya yang suka menyangkal karena otak saya sedikit miring.

Saya orang yang kurang sensitif namun tidak suka membicarakan masa lalu. Istri saya seorang posesif yang gemar membicarakan masa lalu. Menyatukan bagian kecil perbedaan karakter ini juga butuh waktu dan kesabaran masing-masing.

Istri saya tidak suka sprei berantakan tetapi suka meninggalkan handuk bekas pakai di tempat yang tidak seharusnya. Saya tidak suka melihat handuk menggantung atau tergeletak di sembarang tempat namun gemar menghancurkan tatanan sprei. Saling mengisi untuk tak mempermasalahkan secercah perbedaan kebiasaan sekaligus ketidaksukaan tersebut juga butuh waktu untuk memahaminya.

Kami pernah beradu mulut sampai saling membanting sesuatu–yang untungnya bukan barang mahal, maklum alam bawah sadarnya juga perhitungan–hingga berakhir diam-diaman sementara waktu. Kami pernah berselisih paham dan salah menaruh curiga yang akhirnya tidur saling memunggungi dan pura-pura tidak mendengar sapaan satu sama lain. Dan, sederatan masalah-masalah yang telah dilewati.

zifat-upload

Bersyukur, masa-masa mempermasalahkan hal kecil tak penting sudah berlalu. Rasanya sudah naik tingkat, kalau bukan masalah serius, tak lagi mengganggu kenyamanan hubungan. Sekarang sudah masuk di fase: salah satunya melihat handuk tergeletak sembarangan langsung diambil, dipindah ke jemuran dengan senang hati. salah satunya melihat kasur berantakan, langsung diberesin tanpa mengomel sepatah dua kata. Ketika muncul gesekan, berlomba-lomba untuk meminta maaf duluan tanpa peduli siapa yang lebih salah tanpa peduli siapa yang mulai memicu emosi negatif.

Sekarang, hal yang paling penting adalah keluarga. Tempat pulang terbaik adalah rumah. Ruang paling tenang adalah kamar dan pelukan. Perjalanan paling menyenangkan adalah kita bersama-sama.

Dan inilah kehidupan yang sebenarnya, menurut saya. Seperti kata orang kebanyakan, mempertahankan pilihan hidup yang kita ambil punya daya juang yang luar biasa. Bisa dibilang perjuangan tanpa akhir, semacam jebakan terindah.

Kau tahu, dulu saya berpikir: menikah akan membatasi ruang gerak, dan akan memiliki sedikit waktu untuk melakukan banyak hal di luar urusan rumah tangga. Ternyata pendapat saya sungguh keliru. Justru setelah punya anak istri, saya merasa punya waktu lebih banyak, jauh lebih banyak.

Setelah menikah, saya justru belajar banyak hal pengembangan diri untuk kebutuhan personal maupun profesional. Saya membaca lebih banyak buku, menonton lebih banyak film, mendengarkan lebih banyak musik, menjalankan hobi lebih fokus, ikut kursus ini dan itu, terlibat dalam seminar hingga pelatihan bermacam rupa, berperilaku berkarir lebih berbobot, memiliki hubungan pertemanan yang lebih luas, mampu mengurus keluarga dekat lebih ikhlas bahkan mengajak tinggal bersama. Itu semua karena lebih banyak terfokus pada hal yang penting dan bermanfaat, dan tidak membuang waktu untuk hal-hal tak perlu di luar rumah.

Tanpa ada sedikitpun keraguan, saya berdoa seperti ini: “Ya Allah, berikanlah saya umur hidup hingga 80 tahun supaya kebersamaan ini membawa manfaat yang panjang.” Istri saya sih berdoanya hidup sampai umur 76 tahun, supaya meninggal sama-sama dengan perbedaan umur terpaut 4 tahun.

Bagi siapapun yang menyempatkan diri mampir di sini, membaca tulisan ini hingga di paragraf kesekian ini, saya doakan kebahagiaan yang berlimpah dengan pilihan jalan hidup apapun yang kamu tempuh. Jika kamu adalah orang yang ingin menikah namun masih terselip keraguan, izinkan saya memberi sedikit pesan: tidak ada yang perlu kamu takuti. Selama kamu punya pilihan, pilihlah, dan jalani dengan segenap keyakinan–jangan banyak menuntut, jadilah peminta maaf sejati, komunikasikan masalah sekecil apapun dan jangan punya niatan untuk mengubah pasanganmu menjadi orang yang bukan dirinya.

Terimakasih.