So far so good, too fast not good

Puasa, menahan lapar dan haus itu tentu sesuatu yang mudah. Yang sulit itu adalah menahan rindu dengan anak istri saat perut lapar dan tenggorokan kering. Adalah saya yang sedang mendapat tugas ke luar kota selama empat hari, harus menumpuk kerinduan. Puasa-puasa sebelumnya sering mendapat tugas sesekali saat puasa, tetapi kali ini rasanya beda saja. Sahur tidak dengan istri itu rasanya begitu datar.

Kali ini perjalanan ke luar kota-nya saya adalah masih di seputaran Kalimantan Timur, yakni di Batu Kajang–Paser. Dari Balikpapan menempuh waktu selama 4 jam, melewati darat dan lautan.

Satu hal yang menarik perhatian di perjalanan kali ini adalah situasi shalat ashar dan mesjidnya ketika berhenti di tengah jalan, saya lupa memerhatikan nama daerahnya.

Perhatian terhadap mesjidnya adalah tulisan di toilet dan sistem lampu toilet, menurut saya menarik. Biasanya masuk area mesjid termasuk toilet, terpasang batas suci dan atau lepas alas kaki. Di mesjid ini tulisannya sedikit beda: alas kaki bersih silakan langsung masuk, kalau kotor harap dilepas.

Begitu masuk toilet, tadinya agak bingung mencari stop kontak, namun begitu saya menutup pintu tiba-tiba lampunya nyala. Wah? Wow. Usai buang air kecil saya periksa di mana letak otomatisasinya. Ternyata ada satu bagian kabel yang dipasang di titik jepit pintu di atas engsel, yang mana bagian tersebut jika terjepit akan menekan ON. Dan, tara… menyala!

Terakhir, tarikan perhatiannya sedikit kurang baik menurut pribadi saya dan rekan serombongan. Imam shalat ashar begitu cepat, sampai-sampai saya terkaget. Rakaat pertama, belum kelar baca Al-fatihah, imam sudah rukuk. Ini yang cukup mengejutkan. Bacaan rukuk, sujud, duduk, juga begitu cepat. Pikir saya, mungkin karena rakaat pertama ada do’a iftitah. Rakaat kedua saya niatkan ayat pendek. Baru kelar bismillah setelah Al-fatihah, eh sudah rukuk. Ternyata memang cepat. Tiba-tiba sudah salaaaam saja.

Begitu tiba di tempat  tujuan, saya dan rombongan mengobrol dan saya menyinggung shalat ashar. Ternyata semuanya merasa ngos-ngosan. Bahkan, salah seorang dari kami ada yang mengaku shalat ulang karena bacaannya banyak yang terlewat.

Tapi apapun kesan tentang imam, saya gak begitu mempermasalahkan. Yang ada di kepala saya ini hanya satu; urusan segera kelar, dan ketemu anak istri kembali segera.