Stop Ekspor Mineral Mentah Indonesia

Gambar dari sini

Coba kita cermati benar-benar gambar di atas ini, tidak usah ditelaah dengan analisa pikiran logis yang berat, nikmati saja kemilau emasnya. Bayangkan tumpukan emas sedemikian megah tersebut tersusun rapi di berbagai sudut pulau negeri ini. Di saat kita sedang berdiri di depan gudang kemegahan emas berdinding kaca yang semakin menyilaukan kebanggaan mata, datang orang asing dari berbagai negara bertanya, “apakah itu emas betulan, saudaraku?” Meski ini asumsi, siapapun kamu yang membayangkan hal itu, pasti akan merasa sangat bangga menjawab, “Ya. Itu emas sungguhan. Emas murni dari negaraku, dari pulauku, dari tanah kelahiranku.” Lalu orang asing tersebut terus memuja-muji, turut bangga hanya dengan melihat saja, bangga hanya dengan tahu bahwa Indonesia ini benar-benar kaya tanpa kata tapi.

Sekarang anda bayangkan, kekayaan emas di negara kita ini–bayangkan tetap dalam bentuk kemilau emas batangan–banyaknya beribu-ribu kali lipat tumpukan pada gambar di atas. Dari jumlah yang banyak itu, kita diberi kesempatan untuk memiliki satu batang saja per kepala keluarga. Tidak usah banyak-banyak. Sebatang menjadi hak milik tanpa syarat. Bangga? Senang? Terkagum-kagum? Sama. Saya adalah orang nomor satu yang bangga, senang, dan terkagum-kagum dengan sebegitu nyatanya kita memiliki kekayaan alam luar biasa.

Melihat kekayaan alam berupa emas batangan gitu tampak lebih menggairahkan, tampak lebih memesona, tampak lebih nyata, tampak lebih punya wibawa, tampak lebih tiggi harga dirinya, tampak lebih Indonesia berjaya. Sekarang coba perhatikan gambar di bawah ini: semacam tumpukan pasir yang gagal dijual karena bisnis perumahan sedang tidak bagus dan kepercayaan bank pemberi utang KPR sedang turun.

Padahal di bawah ini juga kekayaan kita, kekayaan alam Indonesia, tetapi bentuknya sekadar konsentrat. Konsentrat itu adalah hasil olah batuan tambang (emas, tembaga, dan mineral lain) yang dihancurkan melalui proses crushing, grinding, hingga flotation, yang kemudian dipisah antara limbah dan material yang mengandung mineral berharga–menjadi konsentrat itu sendiri. Bakalan jadi emas atau tembaga atau bahan mineral jadi banget itu. Apakah kita bisa sebangga melihat tumpukan emas batangan? Saya yakin jawabannya tidak. Apalagi kita asing dengan bentuk rupa konsentrat ini. Apakah kita sangat bangga melihat tumpukannya yang kemudian dikapalin dan dikirim ke luar negeri sebagai hasil bumi Indonesia dalam bentuk seperti itu? Saya masih yakin, jawabannya biasa saja. Sangat berbeda ketika produknya sudah emas jadi. Selain bangga dan kita bisa membusungkan dada ketika yang kita pamer keluar sana adalah emas jadi, harganya jauuuuuuuuuh lebih mahal, jauh lebih memberikan hasil untuk Negara.

Samalah seperti ketika kita melihat ulat, kita tidak begitu tertarik bahkan sebagian orang melihatnya jijik. Beda halnya ketika seseorang sudah melihatnya sebagai kupu-kupu yang terbang ke sana ke mari di hamparan tanaman berbunga warna-warni. Di situ ada pula anak-anak kecil berombongan, lari berkejaran membawa jaring penangkap kupu-kupu. Semacam sedang mampir main di surga rasa-rasanya.

Gambar dari sini

Nah, kita bisa melihat keindahan surga dan kekayaan melimpah ruah yang nyata itu–dalam dunia pertambangan–jika pemurnian mineral mentah berupa emas, tembaga, nikel, bauksit, and so on and so on dilakukan di dalam Negeri tercinta ini. Bukan diekspor mentah-mentah. Cara bisnis dengan mengekspor bahan mineral mentah ini, selain bikin cepat habis, kita menikmatinya sedikit. Sudah begitu, orang luar yang mengolahnya, menjadikannya cantik nan rupawan kemilau, dikirim lagi ke Indonesia dengan harga yang lebih mahal. Bukankah sama saja dengan kita menghasilkan bahan pangan tetapi yang dikasih ke kita adalah kotoran manusia dalam bentuk pupuk kandang berbanyak teori? Maaf, saya menggunakan analogi yang kurang tepat. Iyain saja, biar iya.

Pertanyaannya, kenapa relaksasi ekspor mineral mentah masih saja terjadi?

Relaksasi ekspor mineral mentah berpotensi menggagalkan Indonesia melepaskan diri dari ketergantungan terhadap perekonomian yang kurang menguntungkan hanya karena malas berupaya lebih–mengambil sedikit langkah mundur untuk lompatan maju yang lebih jauh–dan menghambat terciptanya penambahan nilai jangka panjang dari hasil mineral dalam Negeri yang melimpah seperti yang kita bayangkan di atas. Bukan kaya melimpah imajinasi, angkanya memang banyak, tetapi mari kita bayangkan saja untuk saat ini.

Sebuah penelitian yang dilakukan IRESS (Indonesian Resource Studies) baru-baru ini menyebutkan bahwa larangan ekspor–jika dipatuhi implementasinya–mampu meningkatkan nilai ekspor komoditas mineral hingga US$ 268 milyar. Dua ratus enam puluh delapan milyar dollar, loh! Kalau dipecah menjadi pecahan lima ratus peraknya uang rupiah, bisa tuh koinnya dipakai buat menimbun Selat Makassar. Hal tersebut menunjukkan bahwa larangan ekspor mineral mentah memiliki dampak positif terhadap keuangan dan struktur, serta meningkatkan harga logam mencapai 94% penambahan. Wow!

IRESS juga memperkirakan selama periode 2014-2020, proses hilirisasi mineral (pemurnian dalam negeri) mampu mengingkatkan harga komoditas nikel hingga Rp 460 triliun dan tembaga hingga Rp 1.744 triliun. Hilirisasi mineral juga dinilai mampu menarik lebih banyak investor ke dalam negeri, baik investor yang menanam modal di industri pengolahan tambang, smelter, maupun industri pendukung terkait yang juga membawa manfaat pada perbaikan infrastruktur secara berkesinambungan.

Pada bulan April 2015 lalu, terdapat 185 proposal smelter yang diajukan dengan nilai investasi sebesar US $ 555 miliar. Namun, para investor mulai meragukan komitmen investasi mereka sejak munculnya ketidakpastian hukum. Semenjak kelonggaran ekspor mineral mentah dibiarkan, terus berlanjut, dan malah sekarang kita yang harus memerangi kelonggaran lewat upaya-upaya kecil seperti ini.

Keraguan yang sama juga dirasakan oleh sejumlah perusahaan China, yang awalnya hendak berinvestasi di dalam negeri karena impor bauksit dari Indonesia ke China sempat diwacanakan berhenti, namun tidak jadi. Sebegitunya dampak kelonggaran. Padahal, dalam hal barang mewah (mineral) begini berlaku juga hukum ada gula ada semut. Artinya, ketika kita tahan bahan mentah tetap di sini, para pengusaha pemurnian pun akan datang ke sini. Begitu juga dengan pengusaha operasi pertambangannya. Kalau ada yang mengancam cabut investasi karena ada aturan larangan ekpor bahan mentah, saya yakin, pasti ada investor lain yang berebutan menggantikan. Dalam menghadapi masalah seperti ini, sebaiknya melihat prospek secara jangka panjang dan tidak terpengaruh oleh tekanan-tekanan atau ketidakpastian yang bersifat sementara. Jadi, mari kita stop ekspor mineral mentah. Mari kita dukung pemerintah dalam menerapkan Undang-Undang Minerba seutuhnya. Bantu do’a juga boleh.

Apa iya harus menunggu saya menjadi Presiden dulu? Kan keburu kiamat, karena kemungkinan saya menjadi Presiden lebih kecil dari lobang hidung semut. Eh, semut punya lobang hidung gak sih?